Kalung “Fatimah”

Hari itu suasana sangat panas. Lamat-lamat dari kejauhan tampak seorang laki-laki tua dengan pakaian lusuh dan kotor berjalan tertatih-tatih serta sempoyongan, dilihat dari kondisinya tampak bahwa laki-laki itu sangat haus dan lapar, pada setiap orang yang di temuianya, dia selalu berusaha untuk minta seteguk air atau sedikit makanan yang bisa mengobati rasa haus dan laparnya, sayangnya sampai saat itu belum ada yang bisa membantunya, akhirnya sampailah laki-laki itu di ruman Rasulullah SAW.
Ketika dia bertemu Rasulullah SAW dia menyampaikan maksudnya ” wahai kekasih Allah aku sangat lapar, pakaianku usang dan kondisikupun sangat miskin. Berilah aku makanan dan pakaian….”
Iba hati Rasul mendengar permintaan laki-laki itu, sayang saat itu beliau sedang susah dan tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Dengan lemah lembut beliau berkata ” sungguh aku sendiripun saat ini tidak memiliki apa-apa, tapi cobalah untuk pergi ke rumah perempuan yang lebih mendahulukan Allah daripada dirinya sendiri, yaitu anakku Fatimah….”
Dengan diantar Bilal, lelaki itu bergegas pergi ke rumah Fatimah, sesampai di sana lelaki itu berkata ” wahai putri Muhammad…! aku lapar dan butuh pakaian…, tolonglah aku, semoga Allah memberkatimu…”
Fatimah tertegun dan bingung mendengar permintaan laki-laki itu, disatu sisi dia ingin memberi, tapi disisi dia sendiri sedang dilanda kesulitan karena tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa di rumahnya apalagi pakaian, pakaian yang dimilikinya saat itu hanya yang melekat dibadannya. Lama dia tercenung tak tahu apa yang harus dilakukan, namun melihat kondisi laki-laki tua itu dia merasa iba dan bergegas mengambil kulit biri-biri yang biasa digunakan sebagai alas tidur Hasan dan Husen. ” Ambilah kulit biri-biri ini, semoga Allah menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik dengan menjualnya…”
Melihat pemberian fatimah itu, laki-laki tua itu berkata ” wahai putra Rasul …. aku mengeluh lapar padamu tapi engkau memberiku kulit biri-biri…! bagaimana aku bisa makan dengan ini ….?
Mendengar perkataan itu hati Fatimah seperti diiris sembilu dan diapun hanya bisa mengelus dada. Saat itu tanpa sengaja tangannya menyentuh kalung yang ada dilehernya. Tanpa berfikir panjang diapun mengambil kalung itu dan memberikannya pada lelaki tua tadi.
Laki-laki itu mengambil kalung tersebut dan bergegas menemui Rasul. “wahai Rasul… Fatimah memberiku kalung ini … dan memintaku untuk menjualnya!”
Rasulpun tersenyum, ” sungguh Allah telah memberimu jalan keluar yang baik dengan kalung itu… jualah …! semoga Allah memberkatimu”
Ammar bin Yasir yang saat itu bertamu ke rumah Rasul memperhatikan kejadian tersebut dan meminta izin Rasul untuk membeli kalung itu. Rasulullah SAW pun mengijinkannya.
Ammarpun menanyakan harga kalung itu pada lelaki tua tadi yang dijawab ” sepiring roti dan daging, sehelai baju Yaman untuk menutupi auratku dan mendirikan sholat di hadapan Allah serta uang satu dinar agar aku bisa pulang….”
Ammar yang saat itu baru menjual harta rampasan perang di Khalbarpun menawar lebih ” aku memberimu 20 dinar, 200 dirham, sehelai baju Yaman, seekor kuda untuk membawamu pulang serta kebutuhanmu akan roti dan daging…”
Keduanyapun sepakat, setelah transaksi selesai lelaki tua itu bergegas menemui Rasul, dengan suka cita dia berkata ” wahai Rasul aku sekarang jadi kaya, semoga ayah dan ibuku menjadi penebus bagi Anda…” Rasulpun menimpali ” maka balaslah Fatima akan kemurahan hatinya ….” orang itupun memanjatkan doa, kemudian dia pamit pulang.
Ketika Ammar membeli kalung itu, rupanya dia punya maksud lain. Dia membungkus kalung itu dengan rapi, kemudian menyuruh budaknya, Shahm, untuk mengantarkannya pada Rasulullah. ” berikan kalung ini pada Rasulullah!…katakan pada beliau, aku menyerahkanmu pada beliau…”
Shahmpun bergegas menuju rumah Rasul dan menyampaikan amanat Ammar. Mendengar informasi itu Rasulullahpun tersenyum dan menyuruh amar untuk menemui Fatimah, ” bawalah kalung ini pada Fatimah dan aku serahkan kamu padanya…”
Shahmpun menuju rumah Fatimah untuk menyampaikan pesan Rasul dan seraya menerima kalungnya kembali, Fatimahpun berkata pada Shahm … kamu telah merdeka. Seketika itu Shahm tertawa. Karena tak tahu di balik tawa Shahm itu, Fatimahpun bertanya.
” Aku tertawa karena memikirkan kebaikan kalung Anda, ia telah menghilangkan lapar orang, memberi pakaian pada orang yang telanjang, melapangkang rizki orang yang miskin dan saat ini telah membebaskan seorang budan dan kembali ke pemiliknya.