Berempatikah kita?

Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan seseorang ibu yang dulu adalah kebetulan pengasuh anak saya tetapi sekarang kami agak berjauhan karena saya sudah pindah rumah dari tempat yang dulu kami tempati. Banyak sekali permaslahan hidup yang dialami, namun beliau dengan penuh ketabahan dan keiklasan menyerahkan semua pada Alloh , karena beliau sangat yakin sekali bahwa Alloh memberikan ujian atau musibah namun suatu saat pasti ada hikmah terbesar yang akan diperoleh walau pada saat ini harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Bagi saya ibu ini sangat luar biasa sekali, mendengarkan semua keluh kesah kehidupan yang dialaminnya, termasuk terhanyut dengan pembicaraan, dan meneteskan air mata….betapa usaha dan motivasinya sangat tinggi dalam menjalankan hidup dan selalu berpegang dengan Alloh…..walau sedikit banyak di sela-sela pembicaraan saya memberikan masukan yang positif dengan maksud untuk mengurangi beban yang dihadapinya…

Saya teringat dengan beberapa artikel tentang empati, apakah saya termasuk berempati dengan kondisi yang dialami oleh ibu tadi atau bahkan anda juga sering mengalami hal serupa, apakah kita termasuk dalam empati??? Untuk itu kita perlu tahu tentang apa itu empati…..

Menurut pernyataan Rispandita (2012) bahwa empati adalah kemampuan untuk menyadari perasaan orang lain dan bertindak (sesuai) untuk membantu. Empati merupakan kemampuan mental untuk memahami dan berempati dengan orang lain, apakah orang diempati setuju atau tidak tetapi disini memiliki niat untuk membantu.

Selanjutnya seperti yang saya kutip dari http://phietablogdiary.blogspot.com/2009/06/pengertian-empati-1.html bahwa empati adalah kemampuan untuk ikut merasakan persepsi orang lain, yaitu memandang dan merasakan sesuatu seperti cara orang lain memandang dan merasakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen dari Empati adalah sebagai berikut: (1) Kemampuan afektif seseorang utntuk ikut memahami perasaan orang lain, dan (2) ketrampilan kognitif untuk mengenal dan memahami pikiran dan pandangan orang lain. Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa empati adalah kemampuan dari individu untuk dapat mengerti dan memahami perasaan orang lain. Dari hal di atas maka sebaiknya kita bisa koreksi diri apakah kita sudah merasa berempati terhadap orang lain yang mengalami beberapa permasalahan atau malah sebaliknya kita biarkan dan tidak peduli dengan masalah yang dihadapi oleh orang lain dan bahkan kita cenderung untuk cuek…semua adalah pilihan hidup, mau saling berbagi, memperbaiki diri lebih baik saya kira merupakan pilihan yang paling tepat.

Komponen Empati

Komponen empati terdiri dari 2 komponen kognitif dan afektif. Adapun komponen kognitif terdri dari 2 aspek yaitu:

  1. Aspek perspective taking dan fantasy

    Adalah kecenderungan individu untuk mengambil alih secara spontan sudut pandang orang lain, dimana aspek ini akan mengukur sejauhmana individu memandang kejadian sehari-hari dari perspektif orang lain. Sedangan aspek fantasi ini melihat adanya kecenderungan dari individu menempatkan diri dan hanyut dakam perasaan dan tindakan orang lain.

  2. Aspek emphatic concern dan personal distress

    Menurut pernyataan dari Cialdini (1987) menyatakan bahwa empatik meliputi perasaan simpatik, belas kasihan dan peduli (lebih terfokus pada orang lain). Sedangkan personal distress sebagai pegendalian reaksi pribadi terhadap penderitaan orang lain yan meliputi perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, dan tidak berdaya yaitu lebih terfokus pada diri sendiri 9sears, dkk 1994)