Mensyukuri nasib

Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk merenungkan nasib kita masing-masing. Bahwa nasib tiap orang sudah digariskan olehNya, itu merupakan satu hal yang harus kita akui dan ingat selalu. Namun demikian, usaha tetap diperlukan untuk mengubah nasib.

Mari kita lihat nasib baik yang menimpa Briptu Norman Kamaru. Hanya dari sebuah video santai, mendadak sontak beliau menjadi tenar. Undangan manggung berdatangan, suaranya pun telah masuk dapur rekaman. Kalau mau, beliau bisa saja melepaskan profesinya sebagai polisi, dan beralih menjadi artis. Begitu mudahnya nasib berubah, tanpa disadari dan bisa dibilang tanpa usaha khusus menuju ke arah itu.

Coba bandingkan dengan para peserta seleksi bakat, contohnya peserta Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Get Talents dan sebagainya. Betapa sulitnya mengalahkan ribuan peserta lainnya dan setelah terpilih untuk tahap lanjut, masih demikian ketat persaingan selanjutnya. Seleksi melalui voting sms mau tidak mau menguras kantong peserta, demi mendapatkan jumlah  suara yang memungkinkan untuk melaju ke babak berikutnya. Mereka harus berkorban waktu, tenaga, kerinduan berpisah dengan keluarga dan tentunya dana yang tidak sedikit. Setelah menjadi juara, ketenaran dan harta tidak otomatis tergenggam. Sekali lagi nasib dan usaha masih menjadi penentu.

Dari uraian diatas, mari kita renungkan nasib kita. Kadang kita merasa bernasib buruk hanya karena ada keinginan kita yang  tidak tercapai atau memiliki kehidupan yang tidak seperti yang kita harapkan. Tetapi, kadangkala tanpa diduga, kita juga tiba-tiba bernasib baik. Sayangnya, seringkali kita tidak merasa, sehingga kita lupa bersyukur.  Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu merasa kurang dengan apa yang telah diperoleh. Sehingga rejeki dan keberuntungan masih saja dianggap sebagai hal biasa yang seharusnya terjadi.  Manusia selalu ingin mendapat hal lebih, lebih dan lebih… Itulah sifat manusia.

Marilah kita coba buat daftar keberuntungan kita, mulai dari hal-hal kecil yang sepele, misal menerima kiriman kue dari tetangga, ditraktir teman atau mendapat bonus sms gratis dari provider kartu seluler, sampai keberuntungan yang relatif material, misal mendapat hadiah undian. Dari sana, mudah-mudahan kita bisa lebih bersyukur atas setiap nikmat yang kita terima. Dengan demikian, niscaya hidup ini akan terasa lebih indah.

TERPANA

Ada kalanya seseorang tiba-tiba terpana, kaget, takjub atas sesuatu. Ada kalanya seseorang terlanda sesal.
Apakah hal itu pernah terjadi pada anda?

Yang jelas, hal itu baru saja terjadi pada saya. Di pagi yang cerah ini, saya terpana. Ternyata saya sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman, para blogger STIE Malangkucecwara. Teman-teman saya sudah sangat aktif mengisi blognya masing-masing, tapi saya baru sekarang tersadar, terbangun dari mimpi sambil terkaget-kaget. Betapa waktu berjalan dengan cepat, rasanya baru kemarin virus blog disebarkan di kampus tercinta ini, tapi ternyata sekian bulan telah berlalu tanpa saya sadari.

Sesal kemudian tiada guna. Masa depan lebih penting dari hari kemarin. Saya bertekad akan mengejar ketinggalan dari teman-teman, terutama teman saya yang bernama bapak Sonhaji, Saya tidak mau kalah dari beliau.

Semoga virus penyesalan ini menular ke teman-teman lain yang belum terpana.