Perempuan Pengusaha di Yogyakarta.
ini merupakan cerita ibu Antika (A),ibu Betty (B) dan ibu Chintya (C):
Keputusan dalam keluarga maupun pengambilan keputusan dalam bisnis kerajinan mereka tekuni. Keputusan mengenai berbagai hal seolah berada ditangan sang istri. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan perceraian diantara keduanya. Meskipun diakui oleh Ibu B bahwa perceraiannya murni akibat perbedaan prinsip dalam bisnis, tetapi pendapat lain muncul dari salah satu adik dari mantan suaminya yang menyatakan bahwa saat berumah tangga sang kakak sering merasa tidak dihargai oleh istrinya, karena pendapatnya sering tidak didengarkan. “Ibunya Era itu kan keras, terus bisa dibilang lebih lah dari suaminya, jadi istilahnya nggak mau dengerin suaminya. Sebagai suami kan juga inginnya dihargai , lama-lama mungkin sudah nggak tahan akhirnya pisah”
Sama halnya seperti di dalam keluarga. Ibu B terbias menjadi seorang single fighter
dimana segala keputusan berada ditangannya dan orang-orang yang ada di bawah hanya tinggal menjalankan saja apa yang telah ia putuskan. Rekan bisnis pun juga dirasakannya sangat menghargai pendapat Ibu B disetiap kesepakatan bisnis yang ia buat dengan berbagai mitra bisnis yang menjadi langganan usahanya. Berbeda lagi dengan pengalaman yang pernah dialami oleh ibu C . Ia mengaku bahwa keluarga anak perempuan tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Mereka lebih banyak menerima pendidikan informal seperti keterampilan dalam hal kerajinan yang memang menjadi makanan mereka sehari-hari. Namun karena sudah terbiasa untuk melakukannya, ibu C merasa hal tersebut tidaklah menjadi masalah baginya. Selain itu saat sudah berkeluarga ibu C merupakan orang yang patuh pada suami, namun bukan dalam artian beliau diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Mereka menjalankan kehidupan berumah tangga sebagaimana wajarnya, saling tukar pikiran merupakan hal yang biasa terjadi. Saling mengisi baik dalam pendapatan maupun dalam hal yang lainnya. Rumah tangganya memang pernah sekali gagal, namun hal itu menurutnya terjadi karena ia dan suami terdahulu masih sama-sama muda. Setelah itu pernikahan kedua dan ketiganya langgeng sampai suaminya meninggal. Hal itu dapat terjadi karena antara ibu C dan suaminya bisa saling menghormati dan mengisi kekurangan masing-masing. Dalam menjalankan usaha. Ibu C berusaha untuk menghargai dan menghormati setiap pendapat kritik dan saran orang lain baik itu karyawan maupun rekan bisnis kepadanya. Hal ini dilakukannya agar orang lain juga bisa berlaku sama kepadanya. Tak heran saat berada di kerajinan kulit ibu C menjadi orang yang disegani oleh banyak orang. Hanya saja setelah usahanya bangkrut dan banting stir ke kerajinan souvenir, ia pernah merasa tidak dihargai keberadaannya sebagai seorang pengerajin kecil. Hal itu terkait dengan maslah marginalisasi yang pernah dialami olehnya. Penomorduaan dalam bidang pendidikan, dianggap sebagai tidak penting dalam pengambilan keputusan, dan dianggap sebagai pelengkap jika memiliki penghasilan merupakan beberapa bentuk subordinasi yang dialami oleh perempuan. Penomorduaan dalam hal pendidikan pernah dialami oleh ibu C. Hal ini dialaminya karena pola pikir keluarganya yang masih sangat tradisional yang memang masih menomorduakan kaum perempuan. Sementara itu dalam hal penomorduaan dalam pengambilan keputusan baik dalam keluarga, maupun pekerjaan memang tidak pernah dialami oleh ketiganya, hal ini disebabkan karena ketiga objek dalam penelitian ini merupakan perempuan-perempuan yang lebih dominan dalam keluarga. Ibu Ibu A dalam urusan bisnis memang lebih dominan peranannya dibandingkan dengan suaminya. Sementara itu Ibu B juga lebih dominan dibandingkan suami dalam kelarga maupun bisnis. Ibu C juga merupakan perempuan yang sangat dominan dalam keluarga serta usahanya, ia terbisa menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun demikian. Ternyata subordinasi tidaklah selalu dialami oleh perempuan saja, hal ini ditemukan pada kasus Ibu B, dimana subordinasi malah dilakukan Ibu B kepada suaminya, karena segala keputusan ada ditangan Ibu B dan pendapat suami cenderung diabaikan, sehingga mengakibatkan perceraian diantara keduanya
Stereotip: Secara Tidak Sadar Sering Dilakukan
Keluarga ibu Ibu A termasuk keluarga yang mampu memberikan perlakuan yang sama kepada anak-anaknya. Sebelum jadi petani, dulu ayah ibu Ibu A pernah mendapatkan pendidikan militer. Jadi tak heran ia menerapkan tingkat disiplin yang tinggi kepada anak-anaknya. Tidak perduli laki-laki atau perempuan. Anak perempuan dalam keluarga didik untuk menjadi anak yang berani sama seperti anak laki-laki. Tidak ada tuntutan anak perempuan harus menjadi perempuan yang feminim dan harus tinggal di rumah. Orang tua Ibu Ibu A pun memberi kebebasan penuh kepada setiap anaknya untuk memilih apa yang mereka inginkan, termasuk member izin ketika ibu Ibu A sebagai anak perempuan terkecil memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari pekerjaan. Masalah stereotip yang dialami oleh tiga objek penelitian sangat kental kaitannya dengan adat kebiasaan dan pandangan yang berlaku pada keluarga dan masyarakat. Seperti yang dialami oleh ibu C, sekali lagi karena hidup dalam kondisi keluarga yang sangat tradisional, pelabelan terhadap gender tertentu memang kerap dialami. Selain stereotip juga dilakukan dalam hal pembagian tugas pada para pekerja, seperti yang dilakukan ibu Ibu A. Tanpa disadari secara tidak langsung, ibu Ibu A telah melakukan stereotip terhadap para karyawannya mengenai pembagian pekerjaan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ibu B, karena Ibu B bisa membuktikan bahwa pelabelan sebagai orang yang rapi,
telaten
dan lebih terampil tidak hanya milih perempuan saja, terbukti dengan karyawan yang semuanya laki-laki Ibu B bisa menghasilkan produk kerajinan tas perempuan yang cantik dan menarik.
Kekerasan: Kekerasan Non Fisik Lebih Rentan Terjadi
Dalam kehidupan ibu Puji LesIbu A memang tidak ditemukan kekerasan secara fisik, walaupun dididik dengan disiplin oleh ayahnya, ia sama sekali tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik sebagai sebagai bentuk sanksi dari kesalahan yang diperbuat. Bagi keluarganya kekerasan merupakan sebuah tindakan yang harus dihindari. Dalam berumah tangga pun ibu Ibu A juga tidak pernah mengalami kekerasan fisik baik pada pernikahan pertama maupun pernikah keduanya. Namun kekerasan psikis pernah ia alami pada masa-masa pernikahan keduanya. Mekipun ibu Ibu A mengakui pernikahan keduanya baik-baik saja, namun seperti yang diceritakan oleh ibu Dyah, ternyata diwal penikahannya bersama pak Sunarto, ibu Ibu A banyak mengalami tekanan secara mental yang berdampak ia mengalami keguguran sebanyak dua kali. Seperti yang diceritakan oleh salah seorang kerabat ibu Ibu A, yang bernama ibu Dyah Dari pengalaman yang dialami oleh ketiga objek dapat dilihat bahwa kekerasan yang lebih dialami keduanya adalah kekerasan dalam bentuk non fisik yang secara implisit terjadi dalam diri mereka yaitu dalam bentuk-bentuk tekanan, pekataan, maupun perbuatan yang secara tidak langsung berpengaruh pada kondisi psikologis mereka, seperti yang dialami oleh ibu Ibu A dan ibu C.
Beban Ganda: Ibu Tetaplah Seorang Ibu
Dalam permasalah beban ganda, diakui oleh ibu Puji LesIbu A hal itu memang dialaminya semenjak ia memutuskan untuk menjadi pengusaha perempuan. Walaupun sudah bekerja, tukasnya sebagai seorang ibu Rumah tangga tidak bisa dilepaskannya begitu saja. Diakuinya suaminya tidak banyak menuntut karena mengerti dengan pekerjaan yang ia lakukan. Tapi protes sering timbul dari anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD. Anaknya sering menuntut ibunya memberikan perhatian yang lebih dan waktu yang lebih banyak kepadanya, dan cenderung tidak mau kompromi dengan pekerjaan ibunya. Ibu Ibu A dapat memaklumi tuntutan yang datang dari anaknya Dari penuturan ketiga objek penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa beban ganda dalam hal ini beban sebagai seorang ibu rumah tangga dan juga pengusaha perempuan memang dialami oleh ketiga objek. Dimana sebagai seorang pengusaha perempuan, mereka dituntut untuk profesional dan menjalankan semua pekerjaaan dengan baik, sementara itu, disis lain mereka juga dituntut untuk mengabaikan peran meraka sebagai seorang ibu rumah tang. Namun diakui oleh ketiganya, masalah beban ganda tersebut tidaklah menjadi masalah bagi ketiganya karena, mereka juga sadar betul akan peran utama mereka sebagai ibu rumah tangga yang tidak bisa diabaikan begitu saja, walaupun sudah ada pembagian tugas dengan suami maupun pembantu. Dari kelima bentuk ketidakadilan gender tersebut, dapat dilihat bahwa beberapa bentuk ketidakadilan gender pernah dialami oleh ketiga objek penelitian. Seperti marginalisasi dalam hal peminjaman modal. Subordinasi dalam pendidikan dan pengambilan keputusan, Stereotip dalam hal pembagian pekerjaan yang didasari pada pelabelan pada gender tertentu. Kekerasan juga masih dialami oleh ketiga objek, dalam hal ini kekerasan yang dialami adalah kekerasan non fisik. Beban ganda sebagi seorang pengusaha perempuan dan juga ibu rumah tangga juga masih dialami oleh ketiganya, dimana mereka tetap dituntut untuk menjalan kan dua peran secara bersamaan. Selain itu ada bentuk ketidakadilan gender yang secara tidak sadar dialami oleh ketiga objek penelitian, hal tersebut berkaitan dengan masalah tradisi, anggapan serta kebiasaan yang berkembang dalam diri pribadi maupun dalam masyarakat. Simpulan
Motivasi awal yang muncul pada diri seorang ibu rumah tangga untuk menjadi seorang pengusaha perempuan adalah karena alasan keuangan keluarga. Selain itu ditemukan juga motivasi lain yang melatar belakangi keinginan untuk berwirausaha yakni adanya latar belakang keluarga yang bergerak dalam bidang yang sama, adanya kegemaran pribadi dalam bidang kerajinan dan kondisi pasar yang mendukung kegiatan usaha. Sementara itu peranan motivasi berprestasi yang dikemukakan oleh David McClelland juga sangat besar pengaruhnya pada diri pengusaha perempuan. Motivasi berusaha bukanlah merupakan motivasi awal yang membuat ketiga objek penelitian memutuskan untuk menjadi pengusaha perempuan, namun seiring dengan berjalannya usaha, motivasi berprestasi muncul dalam diri ketiganya. Dengan motivasi untuk berprestasi, para pengusaha perempuan tersebut terpacu untuk bisa selalu memperbaiki usahanya. Dalam hal masalah ketidakadilan, diketahui bahwa masalah ketidakadilan gender masih dialami oleh pengusaha perempuan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Semua komponen dalam ketidakadilan gender baik marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan dan beban ganda pernah dialami oleh pengusaha perempuan yang menjadi objek dalam penelitian ini.

Diambil dari beberapa sumber dan pengalaman
Trias Setiawati dan Anggia Paramitha, Jurusan Manajemen FE UII Yogyakarta
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Syafaruddin. (2010),
Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Keunggulan Kompetitif,
Yogyakarta: BPFE Yogyakata.

Motivasi Ibu Rumah Tangga dalam Berwirausaha