Data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Timur, harga garam per Juli 2017 mencapai Rp5.792 per kilogram. Naik tinggi ketimbang harga Juli 2016 sebesar Rp3.883 per kilogram. Atau Juli 2015 sebesar Rp3.308 per kilogram.
Kata Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, Jawa Timur sebagai salah satu sentra garam karena menyumbang 40% produksi nasional, malah mengalami kelangkaan.
Kalau-pun ada, kata Gus Ipul, sapaan akrabnya, harga garam di pasaran cukup bikin mata terbelalak. Karena kenaikannya bisa dua kali lipat dari harga normal. “Kalau di Jawa Timur saja garam sulit ditemui, bagaimana dengan daerah lain. Saya kira ini masalah serius,” tegas Gus Ipul di Surabaya, Jumat (21/7/2017).
Gus Ipul bilang, kelangkaan garam saat ini, imbas dari tidak menentunya musim. Panjangnya musim penghujan sejak 2016, berdampak kepada turunnya produksi garam di Jawa Timur sebear 123.873ton. Jauh di bawah target 2016 sebesar 1,2juta ton.
“Tahun ini target 1,2 juta ton kelihatannya sulit. Hingga bulan ini produksi hanya 689 ton. Sementara konsumsi masyarakat Jatim 150 ribu ton per tahun,” kata Gus Ipul yang digadang-gadang bakal maju Pigub Jatim di 2018 itu.
Ternyata, kelangkaan garam juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Alhasil, terjadi lonjakan harga garam hingga 20%.( penulis sewaktu ke tkp)
Menurut Hasnah, pedagang di kios Pasar Segiri Grosir, Samarinda, garam dengan satuan per pak isi 25 bungkus, biasanya dijual Rp18 ribu, naik menjadi Rp Rp20 ribu.
Sedangkan bila dijual eceran, per bungkus biasanya Rp1.000 naik menjadi Rp1.200. Untuk garam curah yang biasanya per karung isi satuan 50 pak Rp120 ribu, naik menjadi Rp150 ribu. “Rata-rata kenaikan hingga 20 persen, sebenarnya tidak ada masalah bagi kami dengan kenaikan itu, asalkan stok barangnya masih ada,” kata Hasnah.
Kata Hasnah, hampir semua produk garam yang dijual di pasaran tradisional Samarinda didatangkan dari Pulau Jawa. “Makanya ketika di Jawa ada kelangkaan garam, pastinya di sini juga langka, tapi untungnya harganya masih terjangkau di pasaran,” ujar Hasnah.
Sementara itu, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mendesak Pemerintah untuk segera memperbaiki tata kelola garam nasional dari tingkat hulu hingga hilir. “Persoalan krisis garam akibat dampak cuaca ekstrem seharusnya dapat diprediksi dengan cara yang inovatif,” kata Wakil Sekjen KNTI Niko Amrullah.
Dia mengingatkan, UU No 7/2016 memberikan mandat kepada pemerintah untuk melakukan perlindungan dan pemberdayaan petambak garam kecil. Ironisnya, mandat tersebut tidak pernah terealisasi. Lantaran pemerintah tak punya peta jalan perlindungan dan pemberdayaan petambak garam.
Sebelumnya, KKP sedang menyusun regulasi pengendalian impor komoditas garam dengan berkoordinasi serta memperkuat sinergi dengan sejumlah instansi terkait lain. [tar]
Pemerintah akan menaikkan harga garam dari Rp325 per kilogram menjadi Rp750 per kilogram. Selama ini sejumlah pihak seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia telah menuntut kenaikan harga garam.
“Harga garam diputuskan naik menjadi Rp750 per kilogram setelah melalui rapat koordinasi,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, di Gedung KKP, Jakarta, Kamis. Marie memaparkan, penaikkan harga garam antara lain disebabkan masukan dari sejumlah pihak seperti KKP yang ingin memberi insentif yang cukup bagi petani garam.
Namun, ia juga berharap agar insentif lewat kenaikan harga tersebut dapat diimbangi dengan perbaikan kualitas komoditas garam yang diproduksi di Indonesia.
Rincian kenaikan garam tersebut adalah harga garam K-I dari Rp325 ribu per ton menjadi Rp750 ribu per ton dan harga garam K-II dari Rp250 ribu per ton menjadi Rp550 ribu per ton. “Harga tersebut belum pernah naik sejak 2008,” katanya.
Mari menyebutkan, surat keputusan Menteri Perdagangan mengenai teknis dari kenaikan harga tersebut akan dikeluarkan secepatnya dalam jangka waktu dekat ini.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, mengatakan, harga garam layak dinaikkan dengan pertimbangan agar memacu kian banyak petani garam untuk berproduksi di Indonesia.
Selain itu, menurut Fadel, kenaikan harga garam tidak akan terlalu berdampak pada konsumen karena tingkat konsumsi yang sekitar 4 kg/kapita/tahun. Menteri KP mengemukakan, pertimbangan lainnya adalah agar Indonesia bisa berswasembada garam seperti pada masa lalu.
Sebelumnya, Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil KKP, Sudirman Saad, di Jakarta, Rabu (13/4) mengatakan, Menteri KP sudah menyurati Menteri Perdagangan agar harga garam dapat dinaikkan.
Sudirman juga meyakini berdasarkan kajian ekologi, garam yang dihasilkan di dalam negeri memiliki kualitas yang lebih baik dengan kandungan yodium tinggi serta tingkat proses pengasapan lebih cepat.
Sedangkan Asosiasi Petani Garam Seluruh Indonesia (APGASI) dalam sejumlah kesempatan telah meminta pemerintah memperhatikan nasib petani garam nasional dengan menaikkan harga garam menjadi Rp1.000 per kilogram, dari saat ini sekitar Rp325 per kilogram.
Sumber : Antara
Hukum Ekonomi, Demand dan Supply
“Kenaikan harga garam yang cukup tinggi karena kelangkaan. bicara hukum supply dan demand,” kata Enggar, di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (28/7/2017).
Enggartiasto mengatakan, kenaikan harga garam disebabkan jumlah pasokan yang ja‎uh lebih sedikit ketimbang kebutuhan. Secara hukum ekonomi, pasokan yang sedikit dari kebutuhan membuat harga tinggi.
Enggartiasto melanjutkan, menipisnya pasokan garam dari dalam negeri ini diakibatkan faktor cuaca dengan curah hujan tinggi yang terjadi belakangan ini, sehingga membuat petani garam gagal panen.
Terjadi Kelangkaan, Mendag Terbitkan Izin Impor Garam Industri
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkap penyebab meroketnya harga garam yang terjadi belakangan ini. Ia pun menginstruksikan impor garam untuk mengatasinya.
Enggartiasto mengatakan, Kementerian Perdagangan telah menunjuk PT Garam melakukan impor garam konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini dengan catatan mempertimbangkan pasokan garam domestik. Dalam impor garam konsumsi, pemerintah pun tidak menetapkan membatasi impor garam karena belum bisa mengetahui jumlah garam yang dipanen.

“Kita tidak bisa menetapkan kuotanya karena kita tidak tahu berapa panennya. Nah mengisi supply nya garam, berapa besar diimpor adalah kalau kita tidak tahu prediksinya. untuk itulah kita tunjuk PT Garam,” tutur Enggartiasto.
( diambil dari beberapa sumber)

Harga Garam Mahal