Kecerdasan Intelektual (Intelligence Qoutiont ‘IQ’)
IQ atau intelligence quotient diperkenalkan pertama kalinya pada tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi dari Jerman yaitu William Stern. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma ( Azwar: 2004).
Saya pernah kemukakan pada mahasiswa saya bahwa Indeks Prestasi yang didapat sebaiknya disertai IQ untuk benar-benar melihat kemampuan pribadi.
Intelegensi berkorelasi positif dengan prestasi belajar.
Salah satu konsep yang pernah dirumuskan oleh para ahli bahwa keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari dalam maupun dari luar diri. Seperti yang pernah saya kemukakan di blog sebelumnya bahwa manusia hidup dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu genetika( keturunan dari orang tua, dan kondisi lingkungan yang membentuk)
Faktor dari dalam terdiri dari fisik; panca indra, kondisi fisik umum. Psikologis variable non kognitif; minat, motivasi, kepribadian. Psikologis kemampuan kognitif; bakat, inteligensi. Sedangkan faktor eksternal, fisik; kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, kondisi lingkungan belajar. Sosial; dukungan sosial dan pengaruh budaya ( Azwar: 2004).
Mereka yang memiliki inteligensi tinggi diharapkan akan dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Salah satu definisi inteligensi memang menyebutkan bahwa inteligensi, antara lain merupakan kemampuan untuk belajar (Wechsler, 1958; Freeman, 1962). Begitu juga kemudahan dalam belajar disebabkan oleh tingkat inteligensi yang tinggi yang terbentuk oleh ikatan-ikatan syaraf (neural bonds) antara stimulus dan respon yang mendapat penguatan (Thorndike; dalam Wilson, Robeck, & Michael, 1974; dalam Azwar; 2004).
Berkebalikan dengan mereka yang memiliki inteligensi tinggi. Mereka yang memiliki inteligensi rendah akan mengalami keterlambatan dalam belajar (slow learner).
Anak yang memiliki inteligensi rendah sehingga kemampuan belajarnya sangat terbatas memerlukan program khusus yang memungkinkan mereka belajar dengan beban dan kecepatan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. begitu pula sebaliknya dengan mereka yang memiliki IQ yang tinggi juga diberikan program khusus untuk memungkinkan mereka mengembangkan segenap potensi berlebih yang mereka miliki ( Azwar: 2004).
Karakteristik Anak yang Memiliki Kecerdasan Intelektual Tinggi
Di Indonesia, identifikasi anak berbakat mulai menjadi perhatian. Berdasarkan data yang diperoleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2006, terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Jumlah anak cerdas berbakat di Indonesia mencapai 1,05 juta anak atau 2,2% dari jumlah anak usia sekolah (“Anak Berbakat Istimewa Perlu Diperhatikan”, 2011). Benyak dari anak cerdas di Indonesia mendapatkan program khusus dalam pendidikan dalam bentuk program akselerasi.Di SMUN 3 Malang ( dimana anak saya bersekolah, terdapat program akselerasi).
Orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi tidah hanya dapat dilihat dari jumlah skor tes IQ. Namun, dapat terlihat juga dari isi aspek yang diukur dalam tes tersebut. Misalnya Wechler dalam penyusunan tes WAIS mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi secara umum adalah mereka yang:
1.Memiliki kemampuan verbal yang baik
2.Memiliki pengetahuan umum yang luas
3.Memiliki pemahaman yang tinggi akan teks
4.Memiliki kemampuan aritmatik yang baik
5.Memiliki kemampuan pengabstraksian fikiran yang baik.
6.Memiliki kemampuan mengingat yang tinggi.
7.Memiliki banyak kosa kata
8.Memiliki kemampuan visual motorik yang terkoordinasi baik.
9.Menyukai akan detail
10.Memiliki kemampuan perencanaan yang baik
11.Memiliki kemampuan alasan non verbal
12.Memiliki kemampuan analisis hubungan dari bagian- bagian dari suatu yang berhubungan satu sama lain.
Individu yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi adalah individu – individu yang memiliki nilai IQ yang tinggi. Karakteristik yang telah di buat oleh para ahli sebagai faktor dasar dalam konsep inteligensi tinggi yaitu secara umum dikatakan bahwa individu yang memiliki inteligensi tinggi, memiliki kemampuan yang tinggi pula pada ketiga aspek yaitu;
(1) kemampuan memecahkan masalah, (2) kemampuan verbal baik, (3) kemampuan praktis yang baik. Ketiga komponen tadi didapat melalui pengaruh faktor bawaan maupun faktor belajar.
Menurut Cattle dan Wechler, individu dikatakan cerdas adalah individu yang memiliki skor IQ 110 keatas.(contoh Madona, BJ Habibie, Bill Gate,
Cattle mengukur tentang inteligensi yang dipengaruhi oleh faktor bawaan, sedangkan Wechler mengukur inteligensi secara umum yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman belajar seseorang.

Dalam dunia pendidikan mengetahui IQ berimplikasi penting dalam memberikan perlakuan yang berbeda