Kualitas hidup seseorang terlihat dari interaksi dengan kehidupan di sekitarnya, kalau sekitarnya baik, kualitas hidupnya jadi baik dan sebaliknya, sebenarnya manusia itu ada 2 hal dalam kehidupannya, yaitu genetika ( asal orang tuanya) dan lingkungan yang membentuk karena pergaulannya.Seperti dalam film yang diperankan oleh Vann Dame, dimana van damme memerankan 2 bayi kembar, yang kerajaan orangtuanya diserangoleh mafia kuning, kerajaannya kocar-kacir,2 bayi kembar tersebut diasuh 1 oleh pamannya yang pernah jadi pengawal kerajaan, dan bayi 1nya disekap oleh mafia kuning, sehingga setelah dewasa, terbentuklah kualitas hidupnya, 1 keras seperti mafia, 1 halus, sopan dan beradap.
Guru besar emeritus bidang Psikologi Klinis Fakultas Psikologi (Fapsi) Unpad, Prof. Dr. H. Soetardjo A. Wiramihardja, mengungkapkan, kesehatan mental (mental health) terkait dengan kondisi jiwa dan perilaku yang sehat. Mental health tersebut juga terkait dengan mental hygiene yang mendukung tubuh menjadi sehat (healthy life). jika kondisi tersebut telah dimiliki oleh seseorang, maka akan tercipta kualitas hidup yang baik (quality of life).
“Quality of life itu ialah bagaimana kualitas seseorang apabila dilihat dari interaksi dengan kehidupan di sekitarnya,” ujar Prof. Soetardjo saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Positif 2013 yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fapsi Unpad, Sabtu (23/02) di Aula Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Bandung.
Lebih lanjut Prof. Soetardjo menuturkan, mental health adalah suatu kondisi optimal yang menyangkut sisi intelektual, emosional, dan sosial tanpa mengalami gangguan. Kondisi optimal tersebut terjadi apabila keberadaan seseorang tidak mengganggu lingkungannya, khususnya di lingkungan sosial.
“Kalau seseorang punya kekuatan intelektual yang hebat, tapi digunakan untuk melakukan perbuatan yang menghancurkan lingkungan demi kesenangannya, itu tidak bisa dikatakan sehat,” jelasnya.
Selain itu, banyak juga orang yang pandai namun mereka tidak siap menggunakan intelegensinya, itu pun bisa dikatakan tidak sehat. “Contohnya begini, seorang profesor diminta berpidato, namun ternyata hanya mengambil materi yang sudah pernah dibicarakan, itu pun bisa dikatakan tidak sehat,” tambahnya.
Lantas, bagaimana ciri orang yang memiliki mental health yang baik? Prof. Seotardjo menjelaskan bahwa orang yang punya mental health yang baik adalah mampu memelihara diri, temperamen, inteligensi yang siap pakai, berperilaku dengan pertimbangan sosial, memiliki kecenderungan bahagia, serta mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungannya.
“Menyesuaikan diri di sini berarti seseorang mampu secara aktif untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya berdasarkan rencana, tanpa adanya keterpaksaan untuk menyesuaikan diri,” tuturnya.
Apabila mental health telah terjaga, maka secara otomatis kualitas hidup pun akan menjadi baik. Hal tersebut disebabkan, antara mental health dan quality of life merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan. Mental health akan meningkatkan quality of life dan quality of life pun akan meningkatkan mental health.
Untuk meningkatkan quality of life, Prof. Soetardjo menganjurkan bahwa manusia harus mampu berinteraksi berdasarkan 3 alam, diantaranya alam benda yaitu memanfaatkan alam benda atas dasar saling memelihara. Alam sosial, yaitu mampu membangun hubungan intersubjektif dengan manusia lain atas dasar saling menyayangi, serta mampu membangun interaksi noogenik (budaya, gagasan, dan nilai). Alam yang terakhir ialah alam transenden, yaitu meyakini segala kebaikan Tuhan yang ada.
Life (kehidupan) diartikan untuk hidup dengan kualitas yang terbaik dan untuk mencapainya, maka sistem imun kita adalah hal yang paling penting. Memastikan sistem imun anda bekerja secara optimal adalah aksi yang paling penting yang bisa anda lakukan untuk melindung kesehatan anda dan mendapatkan kontrol atas kesehatan anda.
( diambil dari beberapa sumber)

MAHALKANLAH DIRIMU DENGAN KUALITAS HIDUP