Beberapa teman  yang berbisnis nanya, apa beda balik modal dan titik impas ? secara oret-oretan teman harus membuat bisnis plan    ( perencanaan bisnis ) untuk menghitung titik impas dan teman-teman  yang minta dibuatkan bisnis-plan kadang terperanjat saat dengan muka serius saya bilang, ”sebenarnya yang menjalankan bisnis kalian jadi sedikit banyak bisa membuat bisnis plan,begini teman-teman,   bahwa BEP business-plan anda adalah sekian bulan dan balik modalnya adalah sekian tahun” lalu biasanya mereka langsung kegirangan ”hah ? kok bisa balik modal-nya cepet begitu?” nah ada teman yang bingung, ada juga  yang jadi paham karena sebenarnya BEP itu beda dengan balik modal.

Memahami Istilah BEP Dengan Lebih Mudah
BEP (Break Even Point), dari suku katanya dapat di terjemahkan dalam pengertian menurut versi saya adalah ”dimana telah terjadi keseimbangan (even) berupa titik (point) patahan (break) pertemuan pada grafik antara biaya operasional dengan pendapatan”. Kalau dalam bahasa ilmiah Total Revenue bertemu dengan Total Cost. Kalau kita menjual barang ( jasa dagang) atau membuat barang( industry ), kita akan menetapkan jumlah barang yang kita jual atau kita buat  (= Q), barang tersebut pasti diberi harga ( = P ), jadi Total Revenue = Q x P, sedangkan barang itu akan mengeluarkan biaya-biaya, apakah biaya tetap, biaya variabel,  biaya-biaya itu di total yaitu Total Cost. Jadi dapat dikatakan BEP, bila Total Revenue  = Total Cost

Apa Itu BEP ?

Apa itu BEP? BEP adalah singkatan dari Break Even Point. Dalam ilmu ekonomi, terutama akuntansi biaya, titik impas (break even point) adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan pendapatan adalah seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan. Namun, kalau saya tanya ke beberapa orang, ternyata belum semua paham tentang BEP ini bahkan keliru mengartikannya.

Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, “apa itu BEP?” Kebanyakan menjawab dengan, “Balik modal.” Jawaban ini tidak tepat, sebab BEP bukan balik modal melainkan merupakan titik impas. Lalu, apa bedanya?

 Mari kita berilustrasi :Ketika Anda berbisnis, maka Anda akan menyediakan modal. Misalnya untuk sewa toko, renovasi bangunan atau membeli perabotan dan lain sebagainya. Balik modal artinya dari keuntungan pemasukan usaha Anda, seluruh modal yang telah Anda keluarkan akhirnya bisa kembali. Ini dalam istilah keuangan disebut Return On Investment atau disingkat ROI.

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Nah, berbeda dengan BEP, ketika Anda berbisnis, pasti ada biaya operasional. Biaya operasional ini ada dua macam biaya utama, yakni biaya tetap dan biaya variabel atau tidak tetap. Mengapa disebut tetap? Karena menghitung biaya ini dilihat dari segi penjualan usaha. Misalnya katakanlah untuk bisnis ini Anda harus sewa toko. Per bulannya misalnya tiga juta  rupiah. Maka kalaupun Anda tidak berhasil menjual barang dagangan Anda, Anda tetap harus mengeluarkan biaya sewa toko itu. Nah, ini namanya biaya tetap. Jadi, anggap saja usaha Anda sepi dan tidak ada pendapatan, tetap ada pengeluaran yang harus dikeluarkan. Ini biaya tetap.

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Namun ketika ada proses penjualan atau transaksi, maka ada biaya lain. Misalnya ketika Anda menjanjikan harus mengirimkan ke pelanggan, atau hal lain yang harus dilakukan karena adanya transaski itu. Ini adalah biaya variabel. Semakin banyak order atau penjualan, maka biayanya juga meningkat. Ini disebut biaya variabel.

Maka, dalam proses berbisnis ini, biaya operasional Anda adalah biaya tetap ditambah dengan biaya variabel. Jika Anda masih bingung soal ini, maka saya akan coba kasih contoh lain.

 

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Kita hidup kan harus makan dan minum. Anggap saja Anda tidak bekerja, toh pasti akan ada biaya yang keluar. Misalnya sehari-hari Anda hanya tinggal di rumah saja, tetap ada biaya yang harus Anda belanjakan untuk keperluan Anda hidup. Ini adalah biaya tetap. Tapi begitu Anda mau berbuat sesuatu, misalnya mau bekerja sekalipun, maka ada biaya variabel yang keluar, misalnya untuk naik angkot atau beli BBM dan lainnya. Setiap kali kita mau pergi, maka ada biaya juga yang harus dikeluarkan. Ini menjadi biaya variabel. Kalau Anda tidak pergi, ya tidak keluar biaya apa-apa, tapi toh untuk bisa hidup maka Anda harus keluar biaya juga. Inilah biaya tetap dan biaya variabel.
Nah, jika Anda mulai paham apa yang dimaksud dengan biaya tetap dan biaya variabel, di mana jumlahnya merupakan biaya operasional, jika dihubungkan dengan aktivitas bisnis kita yakni penjualan, maka akan ada biaya keluar tiap barang yang kita jual. Misalnya, saya buka rumah makan. Tak ada penjualan apa-apa, ada biaya tetap (bayar pegawai, bayar listrik, dan sebagainya), misalnya Rp 200.000,- per hari. Begitu ada penjualan, tiap porsi yang saya jual, ada biaya yang harus saya keluarkan sebesar Rp 10.000,-. Ini untuk biaya beli beras, beli sayur, bumbu dan lainnya. Nah, jika misalnya saya bisa menjual 10 porsi, maka ada biaya variabel yang harus saya keluarkan sebesar Rp 100.000,-. Jadi total biaya saya adalah 300.000,-. Namun setiap porsi makanan yang saya jual, saya mendapatkan Rp 20.000,- maka, kalau saya menjual 10 porsi, biaya saya adalah Rp 300.000,- dan pendapatan saya Rp 200.000,-. Berarti saya belum impas. Untuk bisa impas atau mencapai titip impas (BEP), maka biaya saya harus sama dengan pendapatan saya. Nah berapa titik impasnya? Ini memang ada rumusnya untuk menghitung.

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

Kalau kita tahu berapa biaya tetap (FC) dan tahu berapa biaya operasioal (VC), dan tahu berapa harga jual barang kita (P), maka rumusnya adalah: FC+ (VC x Q) = P x Q à Q = Quantity
Maka dari contoh tadi:

Kita pakai rumus tradisional: FC + (VC x Q ) = P x Q

Rp 200.000,- + (10.000 x Q) = 20.000 x Q
200.000 = (20.000 x Q) – (10.000 x Q)
200.000 = 10.000 x Q
Q = 200.000 / 10.000
maka  Q = 20.
Jadi kalau Anda berhasil menjual 20 porsi, maka Anda akan mendapatkan penghasilan Rp 400.000,- dan biaya Anda (tetap + variabel) adalah Rp 200.000,- ditambah Rp 200.000 (ini dari Rp 10.000 x 20), maka total biayanya adalah Rp 400.000,- Jadi ini impas. Anda tidak untung dan tidak rugi.

Hitunganya begini : Total Revenue = Total Cost

P   x  Q                       =    FC     +   VC  ( Q )

Rp.20.000,- x 20        =  Rp.200.000,- + Rp.10.000,- ( 20 )

        Rp.400.000,-     =  Rp.200.000,- + Rp.200.000,-

        Rp.400.000,-    sama dengan  Rp.400.000,-  jadi impas 
Nah, jika Anda bisa menjual lebih dari 20 porsi, barulah Anda memperoleh untung. Anda bisa hitung kalau misalnya Anda bisa menjual 30 porsi makanan. Dengan perhitungan sbb :

Total Revenue      >   Total Cost
Rp.20.000 x 30 porsi  > Rp.200.000,- + Rp.10.000,- (30 )

Rp.600.000,-            >   Rp.500.000,-   jadi memperoleh untung Rp.100.000,-
Inilah pentingnya mengetahui BEP, supaya kita bisa memasang target harus menjual minimal berapa tiap hari atau bulannya. Anda harus tahu BEP tiap harinya berapa, atau bisa juga BEP tiap bulannya berapa. Ini bebas Anda tentukan sendiri. Yang pasti, Anda harus tahu, pada penjualan berapa banyak titik impas itu terjadi. Dengan demikian, Anda bisa menentukan bahwa bisnis Anda itu menguntungkan atau tidak.

Ada 3 Hal Pokok Dalam Perhitungan BEP

Ketika anda ingin memulai sebuah usaha, ada tiga hal pokok yang harus anda pertimbangan atau perhitungkan yaitu : Produk, Modal dan Pasar.  Dalam pembahasan kali ini pembahasan hanya difokuskan pada modal. Adapun untuk 2 pokok lainnya akan dibahas dalam kesempatan yang lain.

Dengan memiliki modal anda akan dapat membeli peralatan untuk berproduksi, membeli bahan baku, membayar gaji pekerja dan membuat program marketing seperti halnya pemasangan iklan di media massa baik cetak maupun elektronik.

Modal atau untuk lebih membumi, marilah kita sebut modal menjadi uang. Sumber uang bagi anda seorang pengusaha tentunya beragam untuk setiap orang seperti dari simpanan/tabungan, warisan keluarga, pinjaman dari kerabat/sahabat dan pinjaman dari lembaga keuangan. Pada umumnya sumber uang dari selain lembaga keuangan tidak terlalu ribet dengan urusan administrasi dan studi kelayakan usaha, karena anda memiliki hubungan kekerabatan dan emosional yang cukup dekat dengan sumbernya, sehingga mereka akan sangat mempercayai anda.

Sebaliknya pinjaman yang diperoleh dari lembaga keuangan baik itu bank dan non bank, ketika anda mengajukan kredit, anda diwajibkan untuk memaparkan studi kelayakan usaha yang intinya harus dapat menyakinkan pihak kreditor, bahwa usaha anda pantas untuk dibiayai dan memiliki prospek yang positif. Salah satu indicator yang umum digunakan oleh kreditor adalah tingkat Breakeven Point (BEP).

Selanjutnya untuk menyamakan persepsi, mari kita bahas apa sebenarnya disebut dengan BEP. Dalam bahasa umum, BEP dapat disebut juga sebagai Titik Pulang Pokok. Titik Pulang pokok memiliki makna saat/kapan modal yang digunakan akan kembali. Dalam menghitung “saat atau kapan” ini, ada dua metode penghitungan yang dapat kita pilih yaitu saat jumlah produksi mencapai berapa unit dalam hal ini disingkat dengan (Q) ? Atau saat total penjualan mencapai berapa harga berapa rupiah atau disingkat dengan (P)?

Adapun rumus/formula dari dua metode tersebut diatas adalah sebagai berikut :

1.            BEP dalam Unit        = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)

2.            BEP dalam Rupiah    =  (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)  

               Atau  BEP dalam Rupiah   = ( Biaya Tetap) / 1    Biaya variabel / Harga  

Tergelitik untuk membuat artikel tentang pelurusan beberapa istilah yang salah kaprah antara ”BEP dengan Balik Modal” dalam dunia usaha, terutamanya bagi rekan-rekan yang konon katanya menggeluti dunia usaha dengan alasan tidak laku kerja atau selalu ”merasa” lebih pintar dari atasan sehingga hoby berantem sama bosnya, seperti saya contohnya yang serba pemula kadang sok yes.( Diambil dari bukuku ( Manajemen Operasional ) dan dari beberapa sumber )

 

 

 

Balik Modal enggak sama dengan Titik Impas

One thought on “Balik Modal enggak sama dengan Titik Impas

Comments are closed.