Lagu itu berkumandang disetiap tanggal 21 April saat aku sekolah SD dahulu Sekolah Rakyat, sampai aku mengajar di STIE sampai sekitar tahun 2000, saat ini di tempat aku mengabdikan diri sudah tidak terdengar lagi lagu Ibu Kartini.

Tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, R.A Kartini, pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Tot Licht), Kartini berjuang agar wanita mendapatkan persamaan hak dalam berbagai ranah kehidupan, khususnya pendidikan dan harus tetap menjunjung tinggi kodrat kewanitaannya.

Dan kini, entah siapa yang memulai dulu, Hari Kartini selalu diperingati dengan simbol-simbol kewanitaan, seperti pakaian baju daerah, parade baju daerah, lomba memasak, lomba busana, lomba merias. Hari Kartini hampir identik dengan pakaian daerah. Apalagi di sekolah-sekolah, dan kini merambah di perkantoran. Peringatan Hari Kartini hanya terbatas pada seremoni, tanpa menyentuh aspek substansi tentang makna emansipasi wanita.

Hari Kartini, di berbagai daerah diperingati dengan cara menggunakan baju adat daerah-daerah yang ada di Indonesia. Entah kenapa juga, apakah ada relasi antara baju adat dan perjuangan R. A. Kartini itu sendiri.

Jadi sebenarnya apa makna hari Kartini sebenarnya? Apakah bajunya? Kadang kita lupa akan makna dari hal-hal yang kita peringati. Padahal negara ini bisa lahir dan terus bertumbuh akibat momentum-momentum bersejarah.

Setidaknya, momentum ini bisa membuat rasa nasionalisme kita ada dan bertumbuh, untuk menyegarkan semangat kita untuk membangun bangsa kita, dan terutama kota kita tercinta, dan tidak menyerah dengan keadaan yang serba sulit seperti saat ini.

Menengok Sejarah Ibu Kartini

 

Raden Adjeng Kartini adalah putri dari golongan bangsawan Jawa “Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat”, Bupati Jepara pada saat itu berkuasa. Kartini lahir di Jepara, tanggal 21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904 di Rembang.

Raden Adjeng Kartini sang Pahlawan Nasional Indonesia sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita di Indonesia.

Dari tahun ke tahun sejauh yang kita ingat setiap hari Kartini disekolah diwajibkan memakai pakaian adat daerah dari berbagai pelosok tanah air atau kegiatan‐kegiatan yang berkaitan dengan kewanitaan. Dimana kaum perempuan bisa sekolah setinggi‐tingginya, dan mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Sudah pernah ada Presiden wanita, ada pilot wanita, supir bis wanita, sampai tukang becak wanita, dan masih ada peran-peran wanita yang sebenarnya diperankan oleh pria.

Tapi Ironisnya justru setelah sekian lama kondisi kaum perempuan saat ini masih banyak yang jauh dari harapan, ada yang mandiri seolah‐olah bisa hidup tanpa kaum pria,atau kaum perempuan menjadi budak di negeri orang dan menjadi bahan pelecehan atau diperjual belikan. Yang seharusnya adalah kesetaraan,saling menghormati, saling mendukung,dan saling menjaga kebebasan secara manusiawi. Memang ada sebagian masyarakat yang mengatakan wanita ( istri)itu hanya pendamping suami ( konco wingkin ), sepertinya nggak boleh tampil kedepan, wanita itu tidak bisa sebagai pemimpin seorang pria, kodrat wanita hanya sebagai pendamping ( orang no.2) dan masih banyak lagi, mengkebiri peran seorang wanita. Tetapi dengan berjalannya waktu, peran itu sudah bertambah, walau prosentasenya kecil.

Semoga makna Kartini ditahun ini dan juga tahun‐tahun mendatang bukan sekedar memperingati dengan kegiatan‐kegiatan tapi muncul Kartini‐Kartini baru yang melegenda seperti Ibu Kartini. Sebuah bangsa akan maju tergantung pada kualitas perempuan.Dan dibalik suksesnya sebuah keluarga biasanya ada seorang perempuan yang kuat, dan tabah memikul beban sebagai seorang istri, seorang ibu, seorang karyawati dan seorang wanita yang baik berkepribadian. ( diambil dari beberapa sumber )

 

 

Ibu Kita Kartini

5 thoughts on “Ibu Kita Kartini

  • May 9, 2014 at 8:51 am
    Permalink

    Saya setuju sekali sama pendapatnya ibu tentang dirayakan atau dikenangnya Hari Kartini yang telah mempelopori semangat kaum wanita, sehingga kita dapat terus mengenang jasa mulianya. Sebagai wanita yang saat ini sederajat dengan kaum pria, jangan sampai derajat kita dijatuhkan begitu saja.

  • May 14, 2014 at 2:31 am
    Permalink

    Terima kasih artikelnya sangat menarik

  • May 15, 2014 at 11:45 am
    Permalink

    kartini satu nama yang melegenda bukan hanya bagi kaum wanita indnesia tapi lebih dari hanya orang orang yang tinggal di indonesia …
    satu atrikel yang menarik tentag suatu perungatan yang hampir kehilangan ronya …
    kehilangan makna asli dari suatu kenangan yang indah…
    semoga orang orang di negri ini bisa sangat bijak untuk tidak hanya sekedar memperingati tapi memeknai … semoga

  • August 18, 2014 at 2:54 pm
    Permalink

    iya juga

  • September 28, 2015 at 2:36 pm
    Permalink

    itu benar dan aku harap ibu kartini bisa menginspirasi banyak orang

Comments are closed.