Hampir di kota-kota besar di Indonesia ( Jakarta, Surabaya, Bandung, dll, sampai Malang dan kota-kota lainnya) saat melakukan aktifitas menggunakan kendaraan ( Mobil, Motor, dll kendaraan lainnya ) akan mengalami kemacetan, sehingga terkadang kita tidak memikirkan jarak, tetapi berapa nyampainya ke tempat tujuan, apalagi bila tujuan kita walau dekat, kalau melewati jalur protokol, hitungan jam yang kita pakai bukan lagi berapa jaraknya.
Para penguasa membuat solusi salah satunya MRT ( Mass rapid Transit ) untuk menyelesaikan kemacetan dijalan raya.
MRT Di Jakarta :
adalah sebuah sistem bagian utama transportasi metro transit cepat di Jakarta yang groundbreaking proyek ini akan dilakukan pada bulan September 2013 [1] guna menanggulangi kemacetan yang akhir-akhir ini sering terjadi dan sangat memacetkan.
Kereta yang dipergunakan bisa KRL ataupun Monorel.
Bersama Transjakarta diharapkan proyek ini dapat menanggulangi kemacetan lalu-lintas.
A. Jenis lintasan: permukaan, elevated dan subway
1 Kereta api permukaan (surface)
2 Kereta api layang (elevated)
3 Kereta api bawah tanah (subway)
B. Proyek MRT DKI Jakarta: Kota – Senayan – Lebak
Bulus
1 Kota – Dukuh Atas (jarak sekitar 7 km, subway)
2 Dukuh Atas – Senayan (jarak sekitar 3 km, surface)
3 Senayan – Lebak Bulus (jarak sekitar 11 km,
elevated)
4 Depo di Lebak Bulus
Semua itu dijadikan solusi untuk kemacetan, tapi apakah bisa hak seseorang diperintahkan untuk naik fasilitas tersebut, karena ada sebagian orang yang memiliki kendaraan pribadi.
Bila kita bandingkan dengan Singapore, kepemilikan kendaraan pribadi sangat selangit biaya yang dikeluarkan untuk kepengurusan memiliki kendaraan pribadi, sehingga MRT dan Bus dalam kota solusi untuk ketempat tujuan.
Bagaimana MRT di Singapore :
Mass Rapid Transit atau MRT Singapura adalah sebuah sistem angkutan cepat yang membentuk tulang punggung dari sistem kereta api di Singapura dan membentang ke seluruh negara kota ini. Bagian pertama dari MRT ini, antara Stasiun Yio Chu Kang dan Stasiun Toa Payoh, dibuka tahun 1987 dan menjadi sistem angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara, setelah Sistem LRT Manila. Jaringan ini telah berkembang cepat sebagai hasil dari tujuan Singapura untuk mengembangkan jaringan kereta yang lengkap sebagai tulang punggung utama dari sistem angkutan umum di Singapura dengan perjalanan penumpang harian rata-rata 1,952 juta jiwa tahun 2009, hampir 63% dari 3,085 juta penumpang jaringan bus pada waktu yang sama.[2]
MRT memiliki 79 stasiun (1 di antaranya tidak beroperasi)[1] dengan jalur sepanjang 129,7 kilometer dan beroperasi pada sepur standar. Jalur rel ini dibangun oleh Land Transport Authority, sebuah badan milik Pemerintah Singapura yang memberi konsesi operasi kepada perusahaan laba SMRT Corporation dan SBS Transit. Operator-operator ini juga mengelola layanan bus dan taksi, sehingga menjamin adanya integrasi penuh layanan angkutan umum. MRT ini dilengkapi oleh sistem Light Rail Transit (LRT) regional yang menghubungkan stasiun MRT dengan perumahan umum HDB.[3] Layanan ini beroperasi mulai pukul 5.30 pagi dan berakhir sebelum pukul 1.00 pagi setiap hari dengan frekuensi tiga sampai delapan menit, dan layanan ini diperpanjang selama hari-hari libur Singapura.[4]
Asal muasal dari MRT Singapura adalah dari ramalan perencanaan kota pada tahun 1967 dimana pada tahun 1992 diperlukan sistem transportasi kota di atas rel.
Diawali sebuah debat, akhirnya parlemen Singapura menyimpulkan bahwa sistem transportasi hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi karena akan memerlukan jalur jalan dengan adanya batasan lahan di negara tersebut.
Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 milyar dolar Singapura adalah biaya termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu, yang dimulai pada 22 Oktober 1983 di Jalan Shan. Jaringan MRT dibangun bertahap dimana Jalur Utara Selatan diutamakan karena melewati daerah pusat kota yang sangat memerlukan transportasi publik. Mass Rapid Transit Corporation (MRTC), selanjutnya diganti menjadi SMRT Corporation didirikan pada 14 Oktober 1983 untuk mengelola otoritas MRT. Pada 7 November 1987, bagian pertama dari Jalur Utara Selatan mulai beroperasi yang terdiri dari lima stasiun dengan jarak enam kilometer. Limabelas stasiun lagi kemudian dibuka dan MRT Singapura resmi dibuka pada 12 Maret 1988 oleh Lee Kuan Yew, sebagai Perdana Menteri Singapura waktu itu. Sebanyak 21 stasiun ditambahkan dalam jaringan; pembukaan Stasiun Boon Lay pada Jalur Timur Barat 6 Juli 1990 menandai selesainya jaringan dua tahun lebih awal dari jadwal.
MRT Singapura kemudian bertahap berkembang. Termasuk S$1.2 milyar pengembangan Jalur Utara Selatan melalui Woodlands melengkapi pada 10 Februari 1996. Konsep untuk mendekatkan jalur rel ke perumahan menghadirkan sistem LRT Singapura. Jalur LRT terhubung ke jalur MRT. Pada 6 November 1999 jalur LRT pertama di Bukit Panjang mulai beroperasi. Pada 2002 stasiun bandar udara Changi dan stasiun Expo ditambahkan pada jalur MRT. Jalur Timur Laut, yang dioperasikan oleh SBS Transit dibuka pada 20 Juni 2003 sebagai jalur rel otomatis penuh pertama di dunia. 15 Januari 2006 setelah diskusi dengan masyarakat, stasiun Buangkok dibuka. Jalur pengembangan Boon Lay, meliputi stasiun Pioneer dan Joo Koon mulai membuka layanan pada 28 Februari 2009. Selanjutnya pada 28 Mei 2009 bagian pertama dari Jalur Lingkar (Circle Line) dari stasiun Marymount ke Bartley dibuka. Selanjutnya 9 stasiun dari stasiun Tai Seng ke Dhoby Ghaut dibuka pada 17 April 2010.
Pada 15 Desember 2011 pelayanan Mass Rapid Transit (MRT)sempat mengalami gangguan yang disebabkan oleh kerusakan rel ketiga di jalur Dhoby Ghaut dan City Hall. Kerusakan rel ini berimbas pada kerusakan rem kampas 4 kereta sehingga keempatnya harus ‘diistirahatkan’ untuk sementara. Satu kereta di Stasiun Braddell, satu kereta di stasiun Orchard, dan dua kereta di stasiun Dhoby Ghaut. Akibat insiden ini, ratusan penumpang di sejumlah stasiun MRT di Singapura sempat terlantar. Bahkan penumpang yang sudah naik ke dalam MRT terpaksa keluar berjalan kaki menuju jalan raya. Layanan MRT kembali beroperasi 16 Desember 2011 [5]. Tanggal 17 Desember 2011, layanan MRT kembali mengalami kerusakan selama 7 jam di wilayah Ang Mo Kio dan Stasiun Marina Bay[6]. Disamping itu ada alat transportasi lain yang digunakan penduduk Singapore adalah SBS Transit.
Apa SBS Transit itu ?
SBS Transit (SGX: S61) adalah perusahaan bus dan kereta api Singapura. Didirikan pada tahun 1973 dengan gabungan tiga perusahaan bus. Pada tanggal 1 November 2001, nama perusahaan tersebut berubah menjadi SBS Transit Limited untuk merefleksikan status sebagai operator bus dan jalur kereta api. Untuk perusahaan kereta api, SBS Transit mengoperasikan jalur North-East, yang dilakukan pada tahun 2003 untuk sistem MRT. Untuk jalur LRT, SBS Transit mengoperasikan jalur Sengkang dan jalur Punggol pada tahun yang sama, yaitu tahun 2003.( Sumber dari Wikipedia )
Penulis baru-baru ini ke Singapore ( November 2013), dalam melakukan kegiatan menggunakan MRT dan Bus SBS Transit. Berawal dari Apartemen di Braddell View ke Caldecot ( Stasiun Braddell) yang merupakan stasiun MRT, setiap kali mau naik MRT harus lewat pintu masuk dan pintu keluar dengan menggesek kartu ( semacam ATM ), yang biayanya tergantung jauh dekatnya, kita bisa melihat berapa ongkos saat perjalanan, seperti penulis lakukan dari stasiun caldecot mau ke Marinabay Sand, bisa $S1,5 ( dimana 1$S = Rp.9.400).
Demikian jika menggunakan Bus SBS Transit, saat masuk menempelkan kartu ( untuk tanda masuk) dan saat turun jg menempelkan kartu tsb( untuk tanda berapa ongkos perjalanan kita).
Bisakah hal tersebut diterapkan di Jakarta?, yang nota bene si empunya uang pingin naik kendaraan pribadi ( mungkin lebih privasi dan leluasa mau perjalanan kemana), apalagi ada mobil ramah lingkungan, yang menurut sumber untuk berpenghasilan menengah, yang ingin memiliki kendaraan pribadi. Hal tersebut akan menambah kemacetan.

MRT Mass Rapid Transit (MRT)/ Sistem Pengangkutan Gerak Cepat