Setiap orang membutuhkan stimulus yang baik agar otak bisa berkembang secara optimal. Namun otak manusia sebenarnya lebih menyukai segala sesuatu yang berbentuk gambar dan berwarna. Seperti kita ketahui bahwa buku pegangan dari mulai SD sampai Perguruan Tinggi sangat minim sekali gambar yang dapat dicantumkan dalam buku tersebut, kalau kita bandingkan dengan buku bacaan, komik, novel ataupun majalah, terdapat hampir lebih dari 75% berisi gambar-gambar, sedangkan sisanya baru tulisan atau ulasan dari gambar tersebut, hal itulah yang membuat menarik untuk dibaca, dan banyak diminati oleh pembacanya. Seperti kembali ke judul bahwa otak lebih menyukai gambar daripada tulisan, hal itu sebenarnya direspon positif oleh si pembuat buku bacaan.
Otak memainkan peranan yang penting, karena di dalam organ ini terdapat pusat dari berbagai aktivitas manusia dan salah satunya berhubungan dengan kecerdasan.
Kecerdasan seseorang itu tidak menetap, karena jika seseorang terus mendapatkan stimulus yang tepat maka kecerdasan ini bisa meningkat.
“Otak manusia itu lebih suka dengan segala sesuatu yang bergambar dan berwarna. Karena gambar bisa memiliki sejuta arti sedangkan warna akan membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup,” ujar Bobby Hartanto, MPsi dalam acara konferensi Smart Parents.
Nah, karena otak lebih suka gambar dan warna, sebaiknya buku untuk anak-anak jangan yang berisi banyak kata-kata, tapi berisi gambar yang dilengkapi dengan warna-warna agar lebih menarik.
Dengan membuat poster yang dilengkapi dengan kata-kata positif anak akan lebih mengerti. Misalnya jika ingin mengajarkan anak disiplin, buatlah gambar binatang yang sedang mengantre lalu berilah tulisan ‘Antri Yuk’. Orangtua dapat membuat poster sendiri sesuai dengan tujuannya apa dan bisa ditempel di kamar sang anak. Hal tersebut dapat kita lihat di stasionery tentang marka, atau tanda gambar yang digunakan untuk mempermudah petunjuk pemakaian atau menerangkan segala sesuatu, seperti yang dijelaskan oleh dr.Bobby : ” gambar mengantri misalnya itik berjejer-jejer untuk mengantri, hal itu berarti berdisiplin dalam mendapatkan sesuatu ( beli sesuatu dengan antri di loket), hal itu berarti harus disiplin.
“Semakin banyak rangsangan tepat yang diterima oleh anak, maka anak akan semakin baik dalam mengingat. Serta koneksi antar neuron akan semakin banyak dan struktur otak akan rapat,” ungkapnya.
Untuk memperkuat koneksi antar neuron yang sudah ada, maka harus dilakukan pengulangan sesering mungkin agar koneksi tersebut semakin kuat. Jika otak tidak dirangsang, maka koneksi yang sudah terbentuk bisa saja menjadi runtuh.
“Agar otak bisa berkembang dan mampu mengolah informasi secara optimal, maka orangtua harus memahami bagaimana cara anak belajar, menyerap dan mengolah informasi sehingga bisa memberikan stimulus yang tepat,” ujar Bobby.
Bobby menambahkan 5-10 menit sebelum anak lelap tertidur adalah waktu yang tepat untuk mengingat atau menanamkan nilai-nilai tertentu. Karena pada saat tersebut ada gelombang tetha di otak yang mampu mengingat dan menyimpannya sebagai memori jangka panjang. source: health.detik.com
Otak harus juga bersitirahat, seperti halnya organ tubuh lainnya, Setelah beristirahat beberapa saat ( lebih kurang 8 jam ) otak akan segar kembali, dan dapat menerima apa yang kita pikirkan. Bila kita paksakan otak digunakan untuk berfikir, maka sangat sia-sia saja dalam menggunakannya, otak juga lelah, apalagi yang dibaca hanya tulisan, sedikit gambar- gambar yang sangat disajikan.

Otak Lebih Menyukai Gambar Daripada Tulisan