Hari ini adalah hari tahun baru Imlek yang dirayakan oleh etnis Tionghoa di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.
Tahun baru Imlek tahun ini merupakan tahun naga air artinya tahun merajalelanya kekuasaan, karena naga melambangkan kekuasaan, sedangkan air adalah seburuk-buruknya kekuasaan, karena ia akan menghempaskan siapapun( Yahoo)
Kata Suhu Yo ( Yohanes Cokrowibowo): mereka yang berbisnis atau tempat tinggalnya memiliki unsure air akan mengalami apes ( Ciong).
Seperti kita ketahui, saat Gus Dur menjadi presiden, tahun 1999-2001. Perayaan Imlek menjadi lebih terbuka dan meriah. Karena sebelumnya kebebasan untuk merayakan Imlek dibatasi.
Karena Gus Dur, etnis Tionghoa di Indonesia lebih bisa mengekspresikan dirinya dalam merayakan Imlek. Lebih merasa bagian dari negeri ini. Karena adanya penghargaan dari Negara, etnik China lebih bebas dan tidak takut-takut lagi untuk merayakan Tahun Baru Imlek, pada kenyataannya etnis Tionghoa memang harus diakui adalah bagian dari tumpah darah Indonesia, apalagi yang leluhurnya adalah kelahiran Indonesia.
Tahun baru Imlek identik dengan Barongsai dan Liong, angpo, kue ranjang, permen, buah jeruk, baju merah China, dan lain-lain pernak-pernik tahun baru China.
Permainan barongsai dan liong yang tidak terpisahkan dari perayaan Imlek dan sangat disukai bukan hanya oleh etnis Tionghoa saja.
Ada beberapa harapan dari para Etnit China yang saya kutip sbb :
Harapan kita semua melalui perayaan Imlek ini. Banyak rejeki memang kita harapkan. Tetapi lebih dari itu, harapan terbesar kita adalah semakin terbukanya hati kita.
Terbuka hati bahwa perayaan Imlek itu adalah bagian dari budaya Indonesia. Karena etnis Tionghoa merupakan salah satu suku dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam hal ini, tentu saja ada keterbukaan hati dari etnis non Tionghoa dan etnis Tionghoa sendiri.
Keterbukaan hati ini diwujudkan dalam kehidupan di masyarakat. Baik dalam pergaulan sehari-hari maupun perlakuan dalam urusan pemerintahan.
Semoga melalui perayaan Imlek dari tahun ke tahun kesadaran kita semakin terbuka. Jurang perbedaan semakin dihilangkan. Hati kita semakin menyatu, bahwa kita adalah satu bangsa.
Lebih dari itu secara kemanusiaan kita adalah saudara. Karena berasal dari satu keturunan dan ciptaan Tuhan Yang Satu.
“Gong Xi Fa Cai Itu Salah, Harusnya Sing Cung Kyi Hi”
Masyarakat Indonesia seringkali mengucapkan selamat di hari raya Imlek dengan Gong Xi Fa Cai. Padahal sebutan itu salah kaprah, di mana Gong Xi Fa Cai bermakna selamat kaya raya.
Seharusnya sebutan yang pas bagi orang Tionghoa saat hari raya Imlek adalah Sing Cung Kyi Hi, yang berarti selamat merayakan musim semi baru.
“Kita menyapa orang Tionghoa yang merayakan Imlek dengan Sing Cung Kyi Hi yang artinya selamat merayakan musim semi baru,” ujar sejarawan UI, JJ Rizal saat diskusi Polemik Sindoradio, “Imlek dan Kiprah Tionghoa Kini”, di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (21/1/2012).
Padahal kata Rizal, kesalahkaprahan itu bisa berakibat fatal. Di mana penyebutan Gong Xi Fa Cai pada hari raya Imlek menunjukkan bahwa orang Tionghoa sebagai binatang ekonomi. Identitas tersebut menjadikan trauma masa lalu tentang perlakuan rasisme sulit dihindari.

“Nah, kalau sekarang disebut Gong Xi Fa Cai yang artinya selamat kaya raya, nah inikan membuat orang China identik dengan binatang ekonomi semakin jelas, karena selamat menjadi kaya raya. Sehingga membuat prasangka-prasangka di masa lalu, yang membuat orang China kerap mendapat tindakan dan perlakuan rasisme serta kambing hitam dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di masyarakat,” jelasnya.
Oleh sebab itu, masyarakat Tionghoa juga harus intropeksi diri agar perayaan imlek dikembalikan pada arti yang sesungguhnya yakni historisitas perayaan imlek. “Jadi kembali ke historis imlek itu sendiri terlebih merayakan pada acara kekeluargaan,” kata nya.
Selain itu kata Rizal, untuk meminimalisir diskriminasi terhadap warga Tionghoa sangatlah bergantung kepada pemerintah dalam mengelola konsep nasionalisme. Konsep nasionalisme menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menyatukan berbagai ragam etnis, suku dan lain sebagainya demi cita-cita kemajuan Indonesia.
“Diskriminasi sebenarnya gejala yang ada di tubuh Indonesia, kita sudah lihat historisnya kekerasan terhadap Tionghoa sejak 1970 terus perang Diponegoro, terus 1965, setelah merdeka, lalu kasus 1998 jadi gejala anti China ini akan terus kuat. Tapi jawabannya adalah bagaimana pemerintah mengelola konsep nasionalisme dalam mayarakat Indonesia,” paparnya.
Selain itu, Rizal mengatakan pemerintah harus menghilangkan stigma bahwa orang Tionghoa merupakan orang asing. Sehingga dengan demikian mereka merasa memiliki sense of belonging terhadap NKRI.
“Intinya pemerintah harus mengubah dan mensosialisasikan bahwa Tionghoa adalah orang asing harus hilang,” pungkasnya
Menurut artikel yang saya baca di wikipedia, Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di penaggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”.
Tahun baru imlek diIndonesia biasanya di rayakan oleh kaum keturunan tionghoa, pada antara tanggal 21 Januari dan 20 Februari disetiap tahunnya. Wah berarti hampir bersamaan dengan hari valentine.
Tahun 2010 lalu hari pernikahan anak saya jatuh saat bertepatan ya Valentine ya Imlek ( 14 Februari 2010 )

“Gong Xi Fa Cai “Tahun Baru Imlek ( Tahun Baru China )