Di Indonesia termasuk langka, tiga generasi sama-sama menekuni suatu bidang yang sama yaitu tarian Balet, ketiga generasi itu adalah: Marlupi Sijangga( Nenek), Fifi Sijangga ( Anak Marlupi ) dan Claresta Sijangga ( Cucu Marlupi Sijangga ). Mereka bahu – membahu menekuni dan membesarkan tarian Balet dengan nama Marlupi Dance Academy, yang dirintis sejak tahun 1956,menurut Marlupi Sijangga Marlupi Dance Academy akan berulang tahun yang ke 55.
Apa kaitannya saya menulis tentang Balet ?, karena anak saya yang bungsu Renny Annisa ikut bergabung pada tahun 1992. Dia lihat di majalah anak-anak yang kita berlangganan, ada tarian balet, dia mau ikut menari Balet, tanpa pikir panjang saya mendaftarkannya ke Marlupi Balet di jalan Letjen Sutoyo Malang, yang berpusat di Surabaya ,nggak bisa dibayangkan anak saya waktu itu SD Min Malang 1, yang dimana system pendidikannya ada 2 yaitu Departemen Pendidikan dan Departemen Agama, yang sangat ketat, masih mengijuti kelas balet yang juga sangat disipilin,kelas Balet waktu itu 1 minggu 2 kali yaitu hari selasa dan jumat, latihan hari jumat ( di SD Min Malang 1 setiap hari jumat menggunakan seragam busana muslim) yang membuat para murid dan orang tua melihat dengan sedikit heran, “ koq anak muslim ikut balet”, karena peserta balet kebanyakan WNI (China), sayapun berjilbab yang mengantar, menunggu sampai selesai, kemungkinan para orang tua peserta baletpun heran melihat saya.
Marlupi Balet diajar oleh para guru yang disiplin dan terkenal galak. Para guru pada saat mengajar seringkali membawa sebatang tongkat, selain digunakan untuk menghitung ketukan gerakan tarian juga untuk mengetuk sikap tubuh murid yang kurang benar gerakkannya.
Seperti halnya sekolah formal, sekolah baletpun ada kenaikan kelas, yang nantinya ada ujian kenaikan kelas, pada saat ujian akhir kelas ( seperti kelas 6 SD ) ada ujian yang ditawarkan oleh para peserta apakah ujian di Indonesia yang pengujinya tetap dari Yoffrey Ballet School di London, New York dan Los Angeles. Saya memilih ujian di Indonesia( tidak ada dana untuk ikut ujian Luar Negeri), dengan perasaan deg-degan saya ikut mengantar anak saya ikut ujian akhirdi Surabaya yang pianis maupun penilainya guru dari London, ternyata anak saya termasuk kwalitas bagus dengan nilai yang memuaskan, sehingga setelah lulus dengan bersertificat dari London, tawaran manggung banyak sekali, mulai pertunjukan panggung sampai pernikahan, anak saya sering diminta untuk mengajar peserta pemula, tetapi karena beranjang SMP, dia mulai malu menggunakan baju balet yang seperti baju berenang.
Pernah anak saya diajak suatu group Marlupi Dance di Hotel mewah di Surabaya ikut pagelaran semacam sendratari ramayana, saya ikut mengantar, dan ternyata anak saya dari formasi dance dia paling depan ( suatu kehormatan kalau penari di formasi paling depan berarti paling baik, diantara penari yang lain ), siapapun orangnya jika anaknya memgikuti suatu event, pasti akan diabadikan ( difoto) untuk kenang-kenangan di kemudian hari, tidak terkecuali saya, yang sering bolak-balik kedepan untuk mendapatkan momen yang pas untuk mengambil gambar (foto), saya kan berjilbab, itu juga yang menimbulkan keheranan dan tanda tanya besar bagi para tamu dan para orang tua perserta group penari balet, yang waktu itu di Indonesia jilbab masih langka dan menimbulkan kesan negative.
Bagaimana Marlupi Sijangga sampai bisa mempertahankan usaha bisnis tariannya sampai generasi ketiga (3), dengan murid yang sudah mencapai 2.000 ternyata regenerasi itu adalah bersikap sabar, bersahabat, dan disiplin. Marlupi Dance Academy sampai sekarang masih eksis berkat ketekunan ke 3 generasi, walaupun pendirinya ( Marlupi Sijangga) sudah berusia 74 masih memantau jalannya roda bisnis baletnya yang diteruskan oleh generasi ke 3 ( Claresta Sijangga ), bahkan si Claserta lebih eksis dari ibu dan neneknya, sekolah balet di Beijing Dance Academy(2008), ke Joffrey Ballet School di New York (2008), ke Washington Ballet School di Washington DC (2009), dan terakhir di Alvin Ailey American Dancing Dance Theatre, New York (2010)

KAITAN ANTARA FORMULA 1 DENGAN KOMBINASI PRODUK
Berbicara masalah kombinasi produk atau bahasa ilmiahnya Linier Programming, sesuai sekali dengan F1. Dimana di F1, terdapat kombinasi diantaranya : pembalap dan mobil, Mobil terdiri dari 3 kombinasi yaitu konstruktor, mesin, dan ban. Diantara konstruktor mesin dan ban yang paling dihargai adalah konstrutor. Oleh karena itu juara 1 lagu kebangsaan adalah untuk Negara pembalap dan kontruktor.

SEBASTIAN VETTEL ( Pembalap dari Jerman )
Seperti Red Bull ( Krating Daeng ; krating = merah, daeng = banteng )Renault ;principal ( pemilik mobil ) dari Korsel, kontruktornya Inggris, mesin buatan Perancis, ban buatan Pireli ( Italy) Pembalap dari Jerman yaitu Sebastian Vettel .
Perusahaan yang menghasilkan 2 produk atau lebih, akan menimbulkan masalah kombinasi produk ( pemecahannya menggunakan Linier Programming/ Programasi pangkat tunggal).
Kombinasi Produk ( Linier Programming ) adalah model umum untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang terbatas secara optimal.

Sumber-sumber daya dalam perusahaan dapat berupa 5 M yaitu Man, Money, Material, Machine dan Method, sedang sumber-sumber daya di F1, sudah jelas yaitu mobil,mesin, ban, pembalap, area balapan, pit stop ( tempat isi bensin, ganti ban, mengencangkan mur, atau system mesin yang kendor, karena balapan ).
Hal tersebut sudah terdapat pada produk atau jasa, seperti minuman air mineral bekerja sama dengan snack, sebenarnya bentuk joint tersebut saling menguntungkan, dengan catatan terdapat persyaratan yang harus dipenuhi bersama.
Kerjasama diantara 4 negara di F1 tadi,yaitu pembalap ( Jerman ), principal (Korsel ), konstruktor (Inggris ) dan ban ( Italy) adalah merupakan kerjasama temporer, kadang bisa bertahan 5 tahun, kadang juga bisa 1 tahun saja. Bisa saja Red Bull tahun depan meninggalkan Renault, akan bergabung dengan Mercedes, semua itu atas pertimbangan win-win solution, kerjasama yang saling menguntungkan
Seperti pada tahun 2008/2009 kombinasinya berbeda dengan saat ini, yaitu semua pembalap harus menggunakan Bridgestone ( Jepang ) atau Michelin ( Perancis), karena menggunakan ban tersebut pihak penyelenggara minta dana untuk berlangsungnya Formula 1 ( F1 ) tersebut.

Pihak Bridgestone mengadakan penelitian ternyata dengan ikutan mensponsori F1 yang tidak sedikit, ternyata penjualan Bridgestone tidak meningkat, Bridgestone menganggap tidak ada korelasi positif antara mensponsori F1 dengan volume penjualan, atau dapat dikatakan bahwa :
Hasil penelitian Bridgestone ternyata menunjukkan bahwa tidak ada korelasi signifikan antara pengguna ban bridgestone oleh pemenang F1 dengan keputusan membeli ban tesebut, oleh pemilik mobil biasa yang menggunakan ban bridestone. Sehingga atas pertimbangan bisnis semata pihak Bridgestone mengundurkan diri mensponsori F1, karena pihak Bridgestone sudah merasa kuat bisnisnya.
Malam ini memang Louis Hamilton (Inggris ) menang, dengan mobil Mc Claren Mercedes ( Jerman ), mesin (Jerman ), konstruktor (Jerman), ban Pirely ( Italy) menang di Nurrburging ( Jerman ), tetapi klasifikasi pembalap tetap Sebastian Vettel

© 2011 Blognya Bu Tita Suffusion theme by Sayontan Sinha