NI HAO MA

Kagum, nggak ada habisnya
Membaca Radar Malang, terdapat kunjungan wisata ( bisnis) di salah satu kota Tiongkok yaitu Shenzhen, saya juga punya pengalaman yang sama berkunjung ke beberapa kota di China diantaranya Shanghai, Hangzhou, Wuxi, Suzhou, Wuzhen, Yiwu. Bila salah satu peserta kunjungan wisata(bisnis) dikota Shenzhen, dimana konon ceritanya Shenzhen adalah perkampungan nelayan kumuh yang amat memprihatinkan, tetapi saat ini terlihat ribuan gedung-gedung menjulang tinggi, kesempurnaan infrastruktur dan kota Shenzhen yang membuka diri untuk investasi di tahun 1980.
SHANGHAI
Sejak mengijak kaki di Bandara Pudhong, terlihat gedung bandara yang luas, bersih, tertib, dan aroma China cukup kental : wajah sipit, putih, bicaranya cepet. Seperti halnya kota Shenzhen, beberapa kota yang saya kunjungi idem tito dengan kota Shenzhen, selain gedung-gedung jangkung, hotel berbintang berjubel, bersih, tertib berlalu lintas, hijau dan indah. Dibenak saya bahwa China penduduknya no.2 didunia, bagaimana padat penduduknya, ternyata saya sungguh terheran-heran, nggak berjubel, jalanan lengan, nggak macet, karena China merupakan daratan yang luas, penduduknya menyebar rata di setiap kota, tidak berjubel pada satu tempat, seperti kota-kota di Indonesia ( Jakarta, Bandung, Surabaya,dll). Kota Shanghai seperti halnya Surabaya merupakan kota perdagangan nan Indah dan waktu rombongan ke sana ditunjuk sebagai kota penyelenggara Expo Dunia, Indonesia juga merupakan salah satu peseta, cara mengunjungi masing –masing stand semakin maju negaranya seperti Jerman, Belanda, Itali, Amerika, Jepang, Korea Selatan, semakin panjang antriannya. Namanya Expo yang di pamerkan adalah andalan Negara masing-masing, seperti mobil, alat-alat elktronik, alat-alat pertanian, alat-alat pertanian, shopping goods, dll.

YIWU
Salah satu kunjungan di kota YIWU, dikota tersebut merupakan pusat kota kulak’an terbesar di China yang disebut YIWU COMMODITIES SHOPPING MALL, ngaak kebayang besarnya, sehingga bila berbelanja terdapat semacam otopet untuk keliling mall tersebut, kalau di MATOS, MOG, setiap produk yang dijual hanya 1 atau 2 counter dengan ukuran 3 x 3 m ( untuk 1 counter ), berbeda di YIWU COMMODITIES SHOPPING MALL, misalkan alat-alat electronic, satu mall tersebut isinya electronic semua, semua barang ada di sana, tas, sepatu, alat-alat rumah tangga, alat-alat pertukangan, kosmetik, baju, dll. Saya pernah bertemu dengan bisnisman dari Indonesia, dia kulak’an barang mainan mobil-mobilan dan mainan anak-anak lainnya. Di China sejak 8 tahun ini mengedepankan kualitas, dan diproduksi secara masal, sehingga dapat menekan biaya, dan harga jualnya jadi murah, tapi bukan murahan.
Local Guide sebagai pemandu wisatawan

Jika mengikuti paket wisata ke China, jangan heran bila harus mengunjungi tempat-tempat yang tidak diagendakan dalam brosur panduan wisata ( optional ), semua diatur oleh local guide yang mengawal perjalanan kita, berbicara masalah pemandu wisata local, mereka sangat muda, enekjik, bisa berbahasa Indonesia, kalau wisatawannya orang Indonesia, jika wisatawannya orang Eropa, ya menggunakan bahasa Inggris, dll. Ketika rombongan saya diarahkan ke tempat pengobatan tradisional China yaitu Thien Kong Fang yang merupakan milik pemerintah dan rombongan yang berkunjung ke China untuk lebih mengenal budaya China. Local Guide sangat berperan di acara ini, dengan penguasaan bahasa Indonesia yang lancar, menjelaskan arti kunjungan ini, rombongan disambut bak tamu agung, dipameri semua ruangan yang memang bagus dan indah. Dengan mengatasnamakan persahabatan antar Negara, sang professor (shinse) menawarkan pemeriksaan kesehatan gratis untuk rombongan kami. Sang professor menyiapkan 8 shinse muda yang berlabel anak didik sang professor. Ada beberapa valountir yang mau di periksa, mulai didiagnosa, ada yang didiagnosa rentan terserang gangguan liver, diabet, paru-paru, dll, kemudian menulis resep yang harus ditebus seharga RMB 2.000 ( 1 RMB = Rp.1.300,-, sehingga RMB 2.000 = Rp 2.600.000), tak terkecuali rombongan lain, mereka sampai mengeluarkan credit card, karena terlena dengan rayuan analisa sang shines, bahkan ada yang harus menebus obat Rp. 10 jt, karena memang mengidap salah satu penyakit tersebut. Ada juga yang tidak terkena rayuan analisa sang shines, malahan berfoto ria ditempat yang memang bagus penataan tata ruangnya. Mereka baru mengumpat ketika tiba di Hotel ( We hotel, we home ), ternyata obat/ ramuan yang diberikan oleh sang shines sama. Terlepas dari akal-akalan sang shines, saya harus angkat topi dengan strategi pemasaran mereka yang efektif.

Hal ini berlaku juga di tempat wisata lainnya, seperti Suzhou dengan pabrik sutranya, pabrik the, pabrik mutiara, pabrik keramik idem tito tata cara mulai dipameri produk, dengan show romm yang mempesona, sampai terpaksa membeli, yang sebenarnya ada di Indonesia. Saya tertarik dengan intrik pabrik keramik, pihak perusahaan menyediakan ruang-ruang seperti kelas-kelas setiap rombongan di pameri produknya oleh salesman/ salesgirl, ya piring, vas bunga, teko, dll, dengan uraian panjang lebar tentang keramik yang konon bahan bakunya diambil dari salah satu gunung di China untuk keindahan dan kekuatan keramik, rombongan difokuskan ke produk keramik teko mini dengan 5 cangkir sebesar sloki dengan harga antara RMB 260 sampai RMB 500 (RMB 260 = Rp 338.000,-, jika RMB 500 = Rp 650.000), ternyata setelah dirumah hanya teko biasa buatan pabrik bukan hand made, warnanya coklat seperti teko tanah lait biasa kalau dilihat di keramik Dinoyo
Dengan menghilangkan unsur akal-akalan, hal tersebut dapat diadopsi di Malang, yang juga terdapat pabrik Keramik ( Dinoyo), Pabrik teh di Lawang, dll
Kuncinya adalah keharusan rombongan wisatawan mengunjungi tempat-tempat yang telah ditentukan dan mengemas strategi pemasaran dengan cantik dan cerdik.

5 Responses to “NI HAO MA”

  1. ya bu, saya juga terkesan pada china, dan sudah tentu, kita semua dapat mencontoh bagaimana cara mereka memasarkan produk yang terlihat tidak lazim. Mereka memulai dengan cerita, penjelasan, dan dengan itulah kita jadi TERPAKSA beli, :)

  2. Kesana Pak, lewat teman kita Pak Nugroho, Tanjung Permai Travel, kalau kita pergi sendiri nggak ngerti bahasa China< kebanyakan mereka nggak bisa bahasa Inggris

  3. wow dari blog yang bu tita tulis saya jadi memperoleh banyak hal..mulai dari kebersihan disana sejak di bandara hal ini akan membuat nyaman tiap turis yang datang,bandingkan dengan bandara yang ada di indonesia.

    hal yang aku dapat lagi ialah strategi pemasaran yang diterapkan.terlepas dari cara bangsa china “menipu” costumernya tapi cara pemasarannya,strateginya sangat menginspirasi sekali.dan dari situ saya mendapatkan bawha costumer adalah raja,bandingkan dengan penjual di indonesia yang kebanyakan galak dan memperlakukan costumer kadang2 tidak layak..

  4. waaaa… saya pengen ikut Bu Tita…,ikut ke China,pengen ke greatwalls haha (ndeso saya Bu hehe),
    banyak yang bilang produk china itu rendah kualitas. tapi rasanya gak gitu. walaupun kualitasnya kurang tapi mereka cerdik sekali bisa melihat pola pasar dan mengubahnya jadi barang yang serupa tapi tak sama dengan harga jauh lebih rendah. contohnya saja negera kita, banyak orang yang beli produk china. dan so far produk mereka disukai karena harga dan kualitasnya sebanding. dan kalo katanya hape china mudah rusak, saya rasa itu salah, karena banyak teman saya yang pake produk china bilang produk china yang mereka pake itu awet sepanjang masa hehe walau jatuh berulang kali. apalagi banyak produk luar seperti n***a (sensored), ternyata gak murni dari negara asalnya. kebanyakan di produksi di negara China. ponsel saya juga gitu Bu, walau produk kenamaan Finland, nyatanya batreinya dibuat di China. mereka rasanya benar-benar menempatkan produk dalam pola pasar yang benar dan untungnya sudah pasti sangat besar. manajemen produksi dan pemasarannya benar-benar bagus. Indonesia juga perlahan menyusul cara mereka dengan gencarnya promo produk dalam negeri yang gak kalah seperti produk Bakrie… ayo Indonesia maju… :D

Leave a Reply

(required)

(required)

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2011 Blognya Bu Tita Suffusion theme by Sayontan Sinha