Magnum Classic
Wall’s Magnum Classic

Es krim Magnum sudah mulai diperkenalkan di Indonesia tahun 1994, sebagai salah satu varian produk es krim Wall’s. Kala itu PT.Unilever sebagai penghasil es krim Wall’s memperkenalkan es krim Wall’s untuk anak-anak yang bernama Paddle Pop juga diminati oleh remaja. Namun dalam perjalanannya, es krim untuk anak-anak (Paddle Pop) lebih disukai, hal ini membuat pihak perusahaan es krim Wall’s di Indonesia berfokus hanya menggarap pasar anak-anak.

Berbicara tentang membidik segmentasi demografis, pasar bisa dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, generasi, dan kelas sosial. Magnum membidik segmentasi usia dan tahap siklus hidup (keinginan dan kemampuan konsumen berubah sejalan dengan bertambah usianya).

Variabel-variabel demografis merupakan dasar yang paling populer untuk membedakan kelompok-kelompok pelanggan, salah satu alasannya adalah keinginan, preferensi (kesukaan), dan tingkat pemakaian konsumen. Contoh; Pampers membidik pasarnya menjadi kelahiran baru (0-1 bulan), bayi (2-5 bulan), cruiser (6-12 bulan), belajar jalan (13-18 bulan), penjelajah (19-23 bulan), dan pra sekolah (24 bulan +). Demikian juga es krim Magnum di Indonesia membidik pasar untuk remaja dan dewasa muda. Awalnya karena es krim untuk anak-anak jauh lebih diminati, Magnum untuk remaja dan dewasa tidak banyak disentuh oleh Unilever. Namun di akhir November 2010, es krim Magnum tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dikalangan anak muda dan dewasa. Magnum sulit ditemukan di pasaran, padahal pihak Unilever tengah meluncurkan kembali dengan suasana komunikasi yang penuh gegap gempita, Semakin banyak dicari, semakin banyak konsumen yang penasaran dan memburunya.

Hal ini berawal dua tahun yang lalu pihak Unilever melihat bahwa orang dewasa di Indonesia mulai mencari es krim untuk dessert di restoran, menurut Unilever “Magnum” yang paling tepat untuk segmen orang dewasa. Berdasarkan riset Unilever, orang dewasa ternyata ingin mendapatkan produk dengan kualitas baik yang bisa menghadirkan sensasi ketika dikonsumsi, karena itu kualitas Magnum juga harus ditingkatkan. Kualitas coklat Belgium-nya harus dimunculkan, sesuai dengan yang dipasarkan di Eropa. Pemasaran akan sukses jika produknya winning product (menurut Unilever). Tak hanya itu, slogan citra produk dan model distribusinya juga berubah. Jika di Indonesia menggunakan Model Iklan Marissa Nasution, sedang di Amerika menggunakan Model Iklan Eva Longoria. Slogan citra yang digaungkan adalah “it made from Belgium Chocolate”. Adapun kanal untuk promosi disesuaikan dengan target sasaran dan psikografisnya, target sasaran jelas untuk segmen dewasa, sedang psikografisnya yang berdasarkan gaya hidup atau kepribadian life stylenya menonjolkan prestige (kebanggaan), setara dengan parfum mewah (Bvlgari), mobil mewah (BMW), gadget (i-phone), perhiasan (berlian).

Eva Longoria with Magnum
Eva Longoria with Magnum
Brand Ambassador Magnum
Marissa Nasution Brand Ambassador Magnum

Penanganan Magnum harus berbeda, karena Magnum tergolong produk premium tetapi massal, maksudnya sebagai merek es krim, ia menyentuh kalangan premium, karena diasosiasikan dengan hal-hal yang premium, tetapi bersifat massal karena akan didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Secara kualitas produk Magnum tidak kalah dengan produk mahal dan berkelas, tetapi affordable dan accesable. Magnum ikut dalam distribusi Wall’s, namun hanya tersedia pada outlet terpilih yang sesuai dengan segmen yang dituju. Strategi berikutnya bagi Magnum adalah pembelian es krim Magnum yang tergolong impulse buying menjadi repeat buying, tentunya dibarengi dengan promosi dan distribusi yang siaga. Hal in terbukti (sumber Unilever) bahwa di bulan kedua setelah akhir November 2010 hal ini menjadi bahan pembicaraan, bahkan distribusi Magnum naik tujuh kali lipat.

Seluruh strategi pemasaran dibangun berdasarkan STP (S=Segmentation, T=Targeting, P=Positioning), perusahaan mencari sejumlah kebutuhan dan kelompok yang berbeda di pasar, membidik kebutuhan dan kelompok yang dapat dipuaskan dengan cara yang unggul, dan memposisikan tawarannya sedemikian rupa sehingga pasar sasaran mengenal posisi dengan baik. Magnum membidik segmentasi pasar dengan usia dewasa, dengan target para dewasa yang ingin menikmati es krim, dan dengan posisi para dewasa yang gaya hidup mengkonsumsi Magnum untuk kebanggaan.

Magnum Cafe
Magnum Cafe

Kamis 24 Februari 2011 lalu untuk pertama kalinya di dunia,  Magnum Cafe diluncurkan di lantai 5 West Mall Grand Indonesia, untuk menikmati lezatnya es krim Magnum dengan cara berbeda. Aldo Volpi, chef terkenal asal Italia, mengkreasikan berbagai macam masakan lezat dari mulai appetizer, main course, hingga dessert dan mocktail, yang rasanya benar-benar yummy. Nama-nama menu yang tersedia di Magnum Cafe antara lain Waffle De Aristocrat, Goblet of Chocolate, Razzle Dazzle, Crown Jewel, Pas De Trois, A Knight’s Tale, Court Jester, The Emperor, Commander’s Fried Rice, Royal Kingdom, Summer Tango, Truffle Royale, dan Ice Queen.

Aldo Volpi chef Italia for Magnum
Magnum Ice Queen Rp49000

Salah satu strategi pemasaran yang juga diambil adalah Word of Mouth (WOM). Menurut Unilever iklan saja tidak cukup, dan telah membuktikan strategi WOM ternyata lebih jitu, juga dapat kita lihat di jejaring sosial FB dan Twitter. Dikabarkan bahwa pemberitaan “tidak adanya Magnum dipasaran” (saat peluncuran kembali) adalah bagian dari strategi WOM Unilever.

Magnum, kali ini telah membuktikan bahwa integrated marketing yang dilaksanakan dengan luar biasa akan meningkatkan penjualan yang luar biasa pula. Magnum, sebuah es krim klasik yang menjadi luar biasa berkat marketing.

Magnum, hmmmmm.. Sulit dicari nih, dapat dimana?

14 thoughts on “Magnum, hmmmmm.. Sulit dicari nih, dapat dimana?

  • March 9, 2011 at 7:17 am
    Permalink

    mmm, yummy, magnum memang lezatt, bukan hanya kelezatannya, tapi pengalaman bagaimana memasarkan itu ternyata yang pentingg…

  • March 13, 2011 at 12:57 pm
    Permalink

    Pak Eddy koq imut ya, emang magnum enak tenan, tinggal pilih yang mana, di Indonesia hanya ada 3 varian : classic, Almond dan Truffle. Memang pemasara penting yaitu 4 P (Product sudah yummy, Price, saya kira okey Rp.10 rb nggak masalah bagi kita, karena memang enak berkualitas, Promotion, persh Unilever sudah memilih Model Marissa Nasution sebagai Brand Ambassador Wall’s Magnum, Place, yang diawal tidak titemukan disembarang retailer, ternyata di Indomaret, bahkan di toserba ABM ada, jadi menurutku pemasaran sudah okey, sekarang tinggal konsumen aware, kemudian trust, baru konsumen loyal pada magnum

  • March 28, 2011 at 6:56 pm
    Permalink

    memang magnum kemarin susah sekali di dapat tetapi sekarang sudah banyak di supermarket
    pada saat muncul iklannya di TV banyak sekali konsumen yang mencari magnum karena rasa penasaran akan rasa dr es krim magnum tsb.
    Dan pada saat es krim ini masuk ke Malang es krim ini langsung habis di buru konsumen
    memang harganya lebih mahal dr es krim yang biasanya tetapi dengan kualitas dan rasa nya maka konsumen akan puas.

  • March 28, 2011 at 10:08 pm
    Permalink

    assalamuallaikum wrb
    magnum y,wah sampai saat ini saya liat iklan d tv wuh ngiler liat tuh es. pokoknya es goyang,es tung2,es batu lewat dah bu heeee………..
    nah kalo menurut saya itu magnum adalah bukti kesuksesan saat ini dalam produck makanan tidak hanya itu mereka selain menjual produk mereka juga menjual iklan yang di perankan oleh model,baju,dan kreativitas si pembuat iklan jadi munculah ide2 kreatif untuk bersaing.ok

  • March 30, 2011 at 8:45 am
    Permalink

    Es krim Magnum belakangan ini memang susah didapat baik itu di toko-toko, supermarket, atau bahkan di mall-mall besar pun stocknya juga sering kosong.
    Menurut saya es krim magnum seperti yang ada di iklan-iklan televisi itu sebenarnya bentuknya sedikit kecil, namun diantara es krim-es krim yang didesain menggunakan stik, mengapa es krim ini paling mahal?
    Ini dikarenakan magnum terbuat dari lapisan coklat pilihan dari Belgia, es krim ini memang sedikit kecil, tapi lapisan coklatnya yang tebal inilah yang menjadikan harga es krim ini relatil mahal…
    Es krim magnum ini mungkin lebih cocok untuk membidik pelanggan/pembeli kalangan menengah keatas, tapi bukan berarti “kalangan bawah” tidak bisa membelinya loooooooh…… karena pemasaran dan penjualan es krim ini terbuka untuk semua… 😀

  • April 1, 2011 at 12:00 pm
    Permalink

    hmmmm…..yummy…….
    magnum adalah salah satu produk yang mampu menarik perhatian masyarakat.walaupun dikemas secara eksklusif.baik dalam promo dan harga.dan tidak kalah juga dari rasa.sehingga masyarakat tidak merasa menyesal ato kecewa setalah membelinya bahkan masyarakat secara tidak langsung menyebarkan iklan magnum.sehingga makin banyak yang tertarik dengan magnum.

  • April 3, 2011 at 8:38 pm
    Permalink

    Magnum sangat rajin mengiklankan produknya, karena itu banyak orang menduga kelangkaan Magnum dipasaran merupakan strategi pemasaran Wall’s untuk mempromosikan Magnum. Pendapat orang tidak terlalu salah karena dijelaskan oleh Meila Putri Handayani (Senior Brand Manager Wall’s Magnum PT Unilever Indonesia Tbk) bahwa pihaknya menerapkan strategi paralel. Biasanya sebelum mulai mengiklankan suatu produk baru, produsen akan menyiapkan dan mendistribusikan produk terlebih dahulu, baru si produsen beriklan. tapi Wall’s justru gencar beriklan sejak awal, meski stok belum siap, karena Wall’s ingin mengetahui antusiasme pasar terhadap produknya. Maklum seiring peluncuran varian baru Magnum juga melakukan rebranding pada produknya menjadi es krim premium. disisi lain pesaingnya (Campina) juga punya BAzoka dengan karakteristik produk serupa tapi tak sama dengan Magnumnya Wall’s. Dengan langkah itu Unilever tahu apakah pasar sudah mengenal Magnum atau belum serta seberapa besar minat pasar mengingat konsumsi es krim di Indonesia baru 250ml/orang/tahun.
    ketika harga sengaja dibikin midle pemsarannya dibikin limites jadi makin penasaran merupakan strategi yang jitu dari pemasar sehingga menjadi pembicaraan masyarakat. sukses dalam menerapkan WOM atau BuzzMArketing

  • April 7, 2011 at 1:48 pm
    Permalink

    Tidak ada yang meragukan kualitas rasa es krim magnum yang sangat lezat dan nikmat dengan harga cukup terjangkau, membuat lidah ketagihan terus untuk menyantapnya. Tapi kira-kira ada yang tidak suka es krim magnum gak ya bu Tita?

  • June 13, 2011 at 10:18 am
    Permalink

    Tapi promosi Magnum sekarang yang di LN, koq nggak sebagus yang dulu, lebih elegan

  • June 15, 2011 at 2:40 pm
    Permalink

    magnum selama ini masi beredar isu tntang mengandung babi….menurut saya harus adanya klarifikasi dan ijin yang berlebel halal sehingga masyarakat muslim tidak takut apa bila mengkonsumsinya

  • October 2, 2011 at 2:39 pm
    Permalink

    saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa es krim magnum yang sulit ditemukan di pasaran merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh pihak walls, menurut saya ini dilakukan untuk melihat reaksi masyarakat terhadap produk baru tersebut. apakah masyarakat antusias terhadap produk baru tersebut atau tidak. seperti yang kita ketahui saat ini, magnum sudah banyak ditemukan di supermarket ataupun minimarket dan sangat mudah ditemukan. strategi WOM sangat efektif dan efisien untuk memasarkan produk baru. karena informasi dari mulut ke mulut sangat cepat diterima masyarakat, dan iklan yang mereka buat menarik perhatian masyarakat sehingga timbul rasa penasaran ingin mencoba produk tersebut.

  • October 11, 2011 at 12:33 pm
    Permalink

    Kalo iklan Magnum Almond, yang membintangi siapa ya namanya?

  • November 10, 2011 at 2:02 am
    Permalink

    Memang betul, magnum sulit dicari, tapi sekarang daerah pemasarannya mulai mencakup seluruh daerah di Indonesia. dari awal magnum muncul banyak orang yang tidak meliriknya, mungkin mereka berpikir tidak ada sesuatu yang spesial dari magnum. namun, setelah iklan promosi magnum mulai gencar dipasaran, banyak orang berebut ingin mencicipi nikmatnya magnum. jadi menurut saya komunikasi bisnis itu sangat penting, karena dengan berjalannya komunikasi yang baik, maka akan tercipta suatu interaksi antara dua pihak yang akan memberikan umpan balik. contohnya, saat Wall’s mulai mengiklankan magnum dengan konsep yang begitu mewah, masyarakat mulai bertanya-tanya “apa sih magnum itu?” nah, umpan balik yang diberikan oleh masyarakat adalah secara otomatis mereka akan mencoba/membeli magnum untuk menjawab rasa penasaran mereka. dari sinilah masyarakat mulai mengerti keistimewaan dari magnum.

    soal iklan magnum di LN yang menurun kualitasnya, menurut saya bukan suatu yang serius. mangapa?
    saya mempunyai teman yang sedang studi di australia, saat itu dia sedang bekerja paruh waktu di sebuah swalayan. iseng-iseng saya bercerita tentang langkanya magnum di Indonesia, betapa kagetnya saya saat dia mengirim foto berbagai rasa magnum. ternyata di LN magnum memiliki banyak variasi rasa dan bentuk, ada yang menggunakan wadah plastik dengan berbagai ukuran. selain itu rasa-rasa yang ditawarkan juga manarik mulai dari rasa stroberi, kopi, dll.
    menurut teman saya harga magnum di Australia sama mahalnya dengan di Indonesia, tapi pemasaran magnum disana setara dengan paddle pop. mungkin ini dipengaruhi oleh budaya barat mereka juga.
    tapi yang jelas magnum tetap dicari. 🙂

  • December 16, 2011 at 12:02 pm
    Permalink

    ya lihat di iklan TV siapa itu ( balek nanya )

Comments are closed.