Bisnis merupakan suatu usaha untuk mendapatkan hasil, disini prinsip ekonomi memegang peranan penting, yaitu pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya, hal ini berarti dalam berbisnis seharusnya prinsip produkivitas harus menghasilkan yang positif yaitu Produktivitas = output / input dimana output merupakan barang/jasa yang siap dipasarkan, sedangkan input merupakan bahan yang akan diolah, tenaga kerja langsung, dan modal yang diperlukan. Dikatakan produktif seharusnya output lebih besar dari inputnya.

Survey dari The Jakarta Consulting Group menyebutkan, diantara semua bisnis keluarga di Indonesia, hanya 61 persen yang mampu diwariskan kepada generasi kedua, 24 persen kepada generasi ketiga, sedangkan 5 persen kepada generasi keempat. Terdapat survey lainnya yang senada yaitu KPMG( perusahaan penyedia jasa survey, audit dan konsultasi bisnis) yang menemukan bahwa : diantara semua pergantian kepemimpinan, hanya 28,8 persen yang diwariskan kepada generasi selanjutnya, sisanya ( 71,2 persen ) bervariasi, rinciannya ; ada yang diwariskan kepada anggota keluarga yang lainnya ( 12,9 %), dijual kepada pemilik lainnya (19,8%), dijual ke pasar terbuka (16,4% ), divestasi bisnis ( 5,4%), dan dilakukan penawaran umum saham perdana (5%). Kecenderungannya, jika tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya, para pemilik bisnis hanya menguasai sebagian besar saham.

Mengacu pada judul ” Percayakan Bisnis pada Anak-Anak” seperti pengalaman Bapak Jusuf Kalla sebagai pewaris bisnis keluarga, dan merupakan generasi kedua, yang sukses menjalankan bisnis Haji Kalla, Haji Kalla merupakan taipan asal Sulawesi Selatan yang mempunyai beragam usaha perdagangan. JK sebagai penerus bisnis keluarga, mendirikan Kalla Group dan Bukaka, ragam bisnis dua korporasi itu menyebar di berbagai bidang, mulai bisnis telekomunikasi, kontraktor menara BTS, akses penyambung dari bandara ke pesawat terbang. Menurut JK, bisnis keluarga sering dituding ” tidak sehat”, sebab, penempatan orang-orang di posisi strategis dianggap tidak sesuai kompetensi, hanya berdasarkan hubungan keluarga. Dan menurut JK lagi, keluarga tidak serta merta menempatkan seseorang dalam posisi tertentu, kami sekolahkan kesekolah yang tepat, juga melatih mereka, agar mampu menjalankan posisi itu, JK lebih percaya SDM dari keluarga, menurutnya; justru orang-orang dari keluarga lebih bertanggung jawab terhadap bisnis tersebut, perasaan memiliki terhadap perusahaan juga lebih besar, yang lebih penting adalah menyejahterakan orang lain dan ikut tumbuh bersama masyarakat. (Jawa Post ). Dapat dikatakan bahwa mewariskan bisnis keluarga, tidak selamanya jelek, selama posisi yang dipercayakan pada keluarga ( anak-anak ) tersebut sesuai dengan bidang dan kemampuannya.Terdapat pada ilmu Assigment Problem yang ditemukan oleh Hungarian, bahwa “menempatkan karyawan pada pekerjaan, harus sesuai dengan kemampuannya “

Percayakan Bisnis Pada Anak-anaknya