Beberapa tahun yang lalu, iklan telekomunikasi hanya memfokuskan pada konsumen ekonomi menengah ke atas, namun belakangan ini lebih menyentuh konsumen level bawah, hal ini sudah dijualnya HP dibawah 1 juta rupiah, yang berakibat belanja voucher pulsa yang terbanyak juga konsumen level bawah.

Apa kaitannya booming belanja pulsa dengan belanja jajanan snack ?

Saya membaca Jawa Post edisi beberapa bulan yang lalu, terfokus pada survey dan riset dari lembaga Nielsen Indonesia yang memberi simpulan bahwa : alokasi anggaran belanja masyarakat mulai dialihkan untuk belanja pulsa, bahkan, penjualan pulsa HP( ponsel) pada tahun 2009 mengalahkan kecenderungan penjualan jajanan snack ( biskuit).

Bila, mengacu pada teori kubutuhan Abraham Maslow bahwa kebutuhan manusia itu bertingkat-tingkat menjadi 5 yaitu :

  1. Kebutuhan dasar ( Physiological needs) adalah kebutuhan sandang, pangan dan papan
  2. Kebutuhan rasa aman ( Safety needs ) adalah kebutuhan merasa aman dalam bekerja ( saling membutuhkan antar pimpinan dan karyawan)
  3. Kebutuhan sosial (Social needs) adalah kebutuhan rasa dicintai sesama manusia( karena manusia adalah makluk sosial, tidak bisa hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain)
  4. Kebutuhan penghargaan (Exteem needs) adalah kebutuhan dimana manusia itu perlu dihargai, sekecil apapun yang dia hasilkan
  5. Kebutuhan aktualisasi diri (Actualization needs) adalah kebutuhan dimana manusia dalam mencapainya diperlukan pengorbanan yang sangat besar, yang tidak dapat dicapai oleh semua orang

Dari kebutuhan-kebutuhan tersebut kebutuhan dasar adalah kebutuhan yang dicapai utama, salah satunya makanan, dan dari kebutuhan yang bertingkat-tingkat tersebut, berakibat muncullah pelaku bisnis untuk menjual salah satunya makanan ringan (snack).

Para pemasar produk consumer goods dalam hal ini terfokus pada snack, harus mencermati perkembangan penjualan pulsa ponsel, yang mana Director Retailer Service Nielsen Indonesia Bpk Yongky Surya Susilo mengungkapkan bahwa : “penjualan terrendah biskuit terjadi pada tahun 2009, dalam survey yang dilakukan lembaga Nielsen Indonesia ditemukan penyebab utama jebloknya belanja snack itu adalah melesatnya voucher pulsa ponsel,” ditambahkan oleh surveynya bahwa : ” dengan iklan yang gencar, maka semakin kelihatan bahwa efeknya meningkatkan belanja pulsa dan RBT(ringbacktone), sebab, informasi sudah merupakan suatu kebutuhan saat ini ”

Data dibawah ini : pengiklan terbesar kuartal 2010 (dalam miliar rupiah ):

  1. Telkomsel kartu As 147
  2. Esia 96
  3. Three(3) 94
  4. Telkomsel Simpati 85
  5. XL 81
  6. Telkomsel all sim card 73
  7. Indomie 71
  8. Mie Sedaap 68

Namun dari hasil survey dan riset dari lembaga Nielsen Indonesia, dibantah oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Bpk Adhi S Lukman bahwa : Antara makanan& minuman dan ponsel adalah dua hal yang berbeda, tidak ada pengaruh secara langsung, penjualan sektor makanan&minuman masih tumbuh dengan baik, pihaknya belum merasakan dampak seperti yang dialami oleh lembaga riset Nielsen Indonesia.

Beri komentar bagaimana pendapat saudara dari kedua perusahaan yang saling bertolak belakang, antara penjualan Snack dan penjulanan pulsa ponsel ?

Booming Belanja Pulsa melebihi Belanja Jajanan Snack

6 thoughts on “Booming Belanja Pulsa melebihi Belanja Jajanan Snack

  • December 30, 2010 at 4:39 pm
    Permalink

    hallow bu Tita, hehe seru juga ngebahas pulsa yang smakin booming.
    seiring perkembangan zaman kebutuhan manusia jg smakin bervariasi,,
    dengan adanya perkembangan IPTEK manusia smakin mudah dalam melakukan berbagai transaksi,,contohnya sekarang kita bisa belanja,bayar tagihan listrik,telepon,dll lewat internet,pesan makanan dr telf dan bisa langsung diantar dirumah,peranan HP yang smakin canggih memaksa kita untuk bergaya hidup instan dan mau serba cepat….. jadi kebutuhan pulsa sudah di sejajarkan dengan
    kebutuhan dasar yang bisa memudahkan manusia dalam berbagai urusan.

    baru2 ini saya mendengar tahun 2012 kita tidak boleh lagi membeli pulsa dari pengecer pulsa electrik,Telkom membuat statemen baru bahwa kita harus membeli pulsa lewat Telkom itu sendiri.
    menurut saya pribadi langkah tersebut tidak efektif karena akan merepotkan kita harus bolakbalik ke kantor Telkom untuk skedar isi ulang.

  • January 16, 2011 at 9:33 pm
    Permalink

    Menurut saya hal tersebut memang benar ada nya, dapat kita lihat dari aplikasi pulsa itu sendiri yaitu handphone yang sekarang cara mendapatkan nya bisa di anggap sangat mudah, karena harga nya murah.
    sehingga masyarakat kelas menengah ke bawah pun dapat membeli nya. Bila kita lihat di antara masyarakat kelas atas dan menengah ke bawah itu lebih banyak masyarakat menengah ke bawah yang membeli pulsa. meskipun daya pembelian setiap pulsa minim yaitu sekitar antara Rp. 5.000 sampai Rp 10.000 tetapi meskipun mengeluarkan uang yg sedikit tetapi tidak terasa sedikit sedikit menjadi bukit sehingga konumsi pulsa setiap bulan untuk masyarakat menengsg ke bawah bisa – bisa mencapai lebih dari Rp 100.000

  • January 20, 2011 at 12:08 pm
    Permalink

    To Rizky, thanks comment nya, selain applikasi pulsa, juga penjual pulsa ada dimana-mana, pembelinya bervariasi mulai dari pendapatan UMR sampai bergaji tinggi, mereka beli pulsa untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain untuk kepentingannya

  • January 26, 2011 at 2:27 pm
    Permalink

    to neva, mudah2 pembelian pulsa masih boleh dipengecer, kasihan kan bisnis kecil-kecilan mereka, yg besar( Telkom buat strategi lain)

  • March 31, 2011 at 10:07 am
    Permalink

    Pada zaman sekarang ini memang banyak orang yang lebih mengutamakan pembelian pulsa daripada pembelian makanan ringan. Tidak seperti masa kecil saya dulu yang masih sulit untuk membeli handphone(hp), pembelian makanan ringan akan sangat banyak dilakukan oleh anak-anak bahkan remaja. Dengan perkembangan zaman dan dapat dengan mudah mendapatkan hp karena harganya yang murah, maka pembelian pulsa seperti kebutuhan kedua setelah kebutuhan pangan. Bahkan sekarang bayak anak kecil yang seharusnya belum boleh menggunakan hp(karena bahaya kejahatan) dapat ditemukan ditempat-tempat umum sedang menggunakan hp canggih, sedangkan pada masa kecil saya dulu hal itu adalah sesuatu yang awam dilakukan. Bahkan bisa dibilang sekarang kebanyakan masyarakat akan lebih pusing memikirkan bagaimana mendapatkan pulsa daripada memikirkan cara untuk mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Dengan banyaknya hp berharga murah dan dengan pulsa yang murah juga, masyarakat lebih memilih untuk menghilangkan kegemaran masa lalunya yaitu membeli snack.

  • April 4, 2011 at 10:40 am
    Permalink

    Menurut pandangan saya, saat ini pelaku bisnis penjualan voucher pulsa sudah sangat menjamur. Kita bisa melihat di kanan dan kiri jalan, pasti ada saja agen voucher pulsa (dalam hal ini yang banyak tentang pengisian voucher pulsa elektrik). Dalam hal ini artikel yang saya baca, penjualan bisnis snack mulai tergerus dengan maraknya bisnis voucher pulsa dan harga jual HP yang murah.
    Saat ini HP merupakan salah satu kebutuhan “pokok” yang harus dimiliki oleh seseorang. Entah itu di pasar atau di pemerintahan, HP sudah lazim digunakan. Mungkin kalau mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, mungkin perlu ada penambahan teori yakni “kebutuhan akan HP dan Pulsa”.
    Tapi untuk saat ini, sudah mulai toko-toko memadukan antara bisnis penjualan makanan dengan pengisian pulsa. Dalam hal ini saya mengambil contoh Indomaret. Indomaret yang terletak dekat dengan kampus tercinta kita, yakni ABM, menggunakan strategi “setiap melakukan isi pulang di tempat ini, akan mendapatkan sebuah coklat top”, yang dharga per satuannya kalau tidak salah Rp.500. Jadi dengan strategi ini diharapkan adanya tingkat penjualan makanan dan pulsa yang seimbang. Mungkin kedepannya akan banyak agen-agen penjualan makanan yang melakukan strategi bisnis tersebut.
    Dan mungkin saja untuk beberapa tahun mendatang, penjualan makanan akan tergerus dengan semakin banyaknya kebutuhan masyarakat tentang pulsa dan HP yang saat ini semakin murah untuk didapatkan. Kita tunggu saja, bagaimana kedepannya.

Comments are closed.