BULIR-BULIR KASIH (20)

Selain Abdi dan Nisa, dalam pertemuan yang tidak sengaja itu, tentu saja yang juga sangat terkejut adalah Ira. Sebab Ira masih ingat, bahwa Nisa adalah gadis cantik si pembaca ‘dadakan’ yang dahulu mereka pernah bertemu dan berkenalan di rumah Syntya

BULIR-BULIR KASIH (19)

Mendengar nama Nisa disebut, Abdi tersentak dari lamunannya seperti terbangun dari mimpi. Kalau ada suara guruh yang menggelegar di siang itu, mungkin dampaknya tidak seperti jawaban Bu Tedy barusan. Abdi spontan wajahnya berubah, ia melihat ke wajah gadis yang dikenalkan

BULIR-BULIR KASIH (17)

‘PERTEMUAN DI KAFETARIA’ Tidak terasa enam bulan telah terlewati sejak Abdi tinggal di kota Malang sebagai mahasiswa, yang akhirnya bertemu dengan Ira gadis asal Jakarta, yang diam-diam menaruh hati kepadanya itu. Lambat laun akhirnya Abdi mengerti juga akan kecenderungan hati

BULIR-BULIR KASIH (16)

‘RAHASIA HATI’ Mobil sedan sport warna merah itu, melaju begitu kencangnya. Di belakang kemudinya duduk seorang dara manis memakai baju warna merah dengan  celana jeans biru tua, serta ikat rambut juga warna merah, membuat penampilannya nampak menjadi lebih keren. Tetapi

BULIR-BULIR KASIH (15)

“Terus terang Dik, sampai sekarang ini aku belum berniat mencari pendamping hidup, sebab aku ingin sekali bekerja lebih dahulu, dan bisa sukses lebih dahulu dalam mengelola perusahaan ayahku. Setelah itu barulah aku cari seseorang untuk mendampingiku selamanya….” Kata Rido sambil

BULIR-BULIR KASIH (13)

‘SURAT DARI TUHAN’ “…Bagaimana anakku..? sukses ya, kamu berkenalan dengan Nisa si gadis cantik itu?” Tanya Bu Tedy ketika Rido sampai di rumahnya. “Iya Bu, ternyata dia adalah anak yang betul-betul baik…” “Saya kagum Bu padanya…” sambung Rido. “Terus bagaimana