BULIR-BULIR KASIH (24)

‘SEPUCUK SURAT’ Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. satu semester telah terlewati, sejak Abdi dan Syarif pergi ke Jakarta mengikuti ajakan Ira waktu itu. Tak ada perubahan penting yang terjadi antara Abdi dan Syarif yang satu rumah tersebut. Ira tetap

BULIR- BULIR KASIH (23)

“Mas, terus terang saja sebenarnya sejak aku bertemu dengan Ira, aku ingin lebih dekat dengannya. Aku sangat tertarik kepadanya. Setiap hari kami ketemu, setiap hari kami mengerjakan tugas bersama. Maka aku pingin sekali bisa dekat lebih serius dengan Ira. Tetapi

BULIR-BULIR KASIH (22)

‘DIALOG DI KEDAI KOPI’ Melihat banyak orang di rumah Ira dan mereka semua nampaknya ceria, menyebabkan Syarif bertambah sakit hati. Sebab ia hampir satu hari ditinggal mereka ke acara wisuda, sehingga ia seolah-olah di ajak ke Jakarta ini hanya sekedar

BULIR-BULIR KASIH (21)

Nisa mengikuti saja apa kata Rido, karena memang ia tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, dan ia percaya kepada keputusan Rido, sebab ia sangat tahu bahwa Rido orangnya bisa dipercaya. Begitu mereka menjadi satu rombongan, ternyata mereka berada pada satu mobil

BULIR-BULIR KASIH (20)

Selain Abdi dan Nisa, dalam pertemuan yang tidak sengaja itu, tentu saja yang juga sangat terkejut adalah Ira. Sebab Ira masih ingat, bahwa Nisa adalah gadis cantik si pembaca ‘dadakan’ yang dahulu mereka pernah bertemu dan berkenalan di rumah Syntya

BULIR-BULIR KASIH (19)

Mendengar nama Nisa disebut, Abdi tersentak dari lamunannya seperti terbangun dari mimpi. Kalau ada suara guruh yang menggelegar di siang itu, mungkin dampaknya tidak seperti jawaban Bu Tedy barusan. Abdi spontan wajahnya berubah, ia melihat ke wajah gadis yang dikenalkan

BULIR-BULIR KASIH (17)

‘PERTEMUAN DI KAFETARIA’ Tidak terasa enam bulan telah terlewati sejak Abdi tinggal di kota Malang sebagai mahasiswa, yang akhirnya bertemu dengan Ira gadis asal Jakarta, yang diam-diam menaruh hati kepadanya itu. Lambat laun akhirnya Abdi mengerti juga akan kecenderungan hati

BULIR-BULIR KASIH (16)

‘RAHASIA HATI’ Mobil sedan sport warna merah itu, melaju begitu kencangnya. Di belakang kemudinya duduk seorang dara manis memakai baju warna merah dengan  celana jeans biru tua, serta ikat rambut juga warna merah, membuat penampilannya nampak menjadi lebih keren. Tetapi

BULIR-BULIR KASIH (15)

“Terus terang Dik, sampai sekarang ini aku belum berniat mencari pendamping hidup, sebab aku ingin sekali bekerja lebih dahulu, dan bisa sukses lebih dahulu dalam mengelola perusahaan ayahku. Setelah itu barulah aku cari seseorang untuk mendampingiku selamanya….” Kata Rido sambil