ringkasan khutbah:

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Ass. Wr. Wb.

Hadirin jamaah shalat Id rahimakumullah,

Tiada terasa waktu berjalan begitu cepatnya, satu bulan telah kita lalui bersama sejak kita semua mengawali ibadah puasa di hari pertama bulan ramadhan sebulan yang lalu, tentu hanya satu kata yang paling pantas dan paling indah kita ucapkan pada kesempatan ini yaitu rasa syukur yang tiada terhingga kepada Allah rabbul ‘alamin, akan segala nikmat yang telah kita terima selama ini, sehingga tiga fase telah kita jalani dengan baik dalam bulan ramadhan kemarin, yaitu fase rahmat, fase maghfira, dan fase nikmat ( yaitu terbebasnya seorang hamba dari api neraka )

Hadirin jamaah shalat ‘Id kekasih Allah,

Kita sekarang berada pada bulan Syawal, yaitu fajar kemenangan bagi hamba yang berhasil dalam ibadahnya kemarin. Tetapi selain hal itu ada satu hal yang patut dan perlu kita renungkan…. bahwa rasulullah saw pernah bersabda : “ Apabila telah tiba malam terakhir dari bulan ramadhan, maka menangislah langit dan bumi dan para malaikat atas musibah yang telah menimpa manusia ( umat Muhammad )…”

Seorang sahabat bertanya : “ ya Rasul, musibah apakah itu ??

Jawab rasulullah saw : “ ….yaitu Telah perginya bulan ramadhan…sebab sesungguhnya do’a-do’a di waktu itu akan dikabulkan, sedekah-sedekah akan diterima, kebaikan-kebaikan akan dilipat gandakan nilainya, sedangkan adzab Allah akan ditahanNya…”

Hadirin, kini ramadhan telah pergi, musibah manakah yang lebih besar dari itu ? Apabila langit dan bumi saja sampai menangis demi kita, bagaimana kita sekarang ? apa yang harus kita perbuat ? tentu tiada lain kita harus memperbaiki amal perbuatan kita agar ibadah kita dan hidup kita tidak akan sia-sia.

Hadirin, satu bulan penuh telah kita sambung tali ikatan yang sangat kuat, sebuah tali panjang yang menghubungkan bumi dan langit, yang menghubungkan jiwa yang kehausan akan kasih sayang dengan Al-Khaliq pemilik rahman dan rahim seluruh alam.

Mudah-mudahan apa yang telah kita kerjakan selama bulan ramadhan kemarin bukanlah menjadi sesuatu yang sia-sia tanpa makna, tetapi kita berharap semoga satu bulan kemarin menjadi sebuah moment bersejarah bagi setiap hamba Allah yang ingin mencapai derajad taqwa, sebuah derajad yang didambakan oleh setiap insan yang ingin mencapai bahagia.

Hadirin kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,

Taqwa adalah sebuah predikat yang sangat indah dan mulia dihadapan Allah, betapa kalau kita perhatikan lagi ayat Al-qur’an yang mewajibkan kita berpuasa adalah, bahwa predikat taqwa merupakan sebuah predikat yang setingkat berada diatas predikat iman, yaitu  setelah seorang hamba yang beriman melakukan ibadah puasa satu bulan di bulan ramadhan barulah ia akan mendapat gelar taqwa…( Allahu Akbar walillahil hamd ).

Hadirin, kita sebagai orang yang beriman insya Allah sudah melaksanakan ibadah ramadhan sebulan penuh, yang menjadi pertanyaan kita : sudahkah diri kita mencapai derajad taqwa tersebut ? atau bahkan kita terpuruk tidak mendapatkan apa-apa keculai lapar dan dahaga saja…naudzubillah…

Hadirin pertanyan berikutnya adalah : apakah taqwa itu, dan bagaimana tahapan dimensinya ? didalam Al-Qur’anul Karim surat Ath-Tholaq, ayat : 2,3 diterangkan :

:” Barang siapa bertaqwa, niscaya Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari berbagai macam kesulitan (dalam memecahkan problematika hidupnya), dan Allah akan memberikan kepadanya rizqi yang tak terduga – duga  ( dari mana datangnya ) ”….masyaAllah…begitu indahnya janji Allah terhadap orang-orang  yang bertaqwa…

Hadirin, dalam suatu kesempatan lain rasul tercinta pernah memberikan wasiatnya kepada umat manusia, kata beliau :”Aku wasiatkan kepadamu agar kalian bertaqwa kepada Allah, karena taqwa itu merupakan pokok pangkal dari segala sesuatu…”

Demikian pesan rasulullah saw, betapa pentingnya taqwa itu bagi kehidupan seseorang. Jika seseorang telah kehilangan taqwa, maka yang akan ia peroleh pada hari-hari mendatang hanyalah kegelapan dan kemuraman belaka, yang kemudian akan menyebabkannya menjadi resah gelisah dan mudah putus asa dalam kehidupannya. Oleh karena itu memelihara taqwa bagi setiap muslim adalah mutlak diperlukan, karena karunia taqwa merupakan karunia besar dari Allah swt.

Hadirin yang berbahagia, ada sebuah ilustrasi yang menarik sebagai bahan renungan dalam kehidupan nyata ini,

Beberapa waktu yang lalu kampus ini mendapatkan sebuah informasi yang sangat menarik ketika seorang Psychologist ( Prof. Dr. James Glendening ) dari USA bercerita, bahwa pernah suatu saat di salah satu radio Amerika terjadi dialog antara para pendengar dengan para psikholog. Salah satu pertanyaan yang sangat menarik adalah :…apakah yang menyebabkan  seseorang itu berhasil / gagal  dalam hidupnya ?

Hadirin inilah pertanyaan singkat tapi sangat berharga untuk kehidupan, apa jawabnya ?? ternyata lama tidak terdengar jawaban… tapi akhirnya terdengar satu jawaban, bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut  hanya ada satu kata….yaitu : “ATTITUDE…”

Hadirin, hanya satu kata…yaitu ATTITUDE atau  SIKAP …

Hadirin hamba Allah yang berbahagia, menurut penelitian mereka, yang menyebabkan seseorang akan berhasil atau gagal dalam hidupnya, adalah sangat bergantung dari bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya, bagaimana sikap seorang pekerja dengan pekerjaannya, bagaimana sikap pimpinan terhadap bawahannya, bagaimana sikap istri terhadap suaminya atau sebaliknya, bagaimana sikap anak terhadap orang tuanya atau sebaliknya, bagaimana sikap manusia terhadap lingkungannya, maupun bagaimana sikap seorang hamba terhadap Tuhan nya, apakah ia akan   bersikap positif, ataukah bersikap negatif.

Hadirin orang yang dalam hidupnya bersikap positif / positive thinking ( dalam bahasa Agama disebut khusnudzan ) adalah orang yang berjiwa besar, hatinya selalu teguh dan teduh dalam menghadapi setiap persoalan, tidak buruk sangka terhadap orang lain sehingga ia selalu tentram dalam hidupnya…menurut Islam inilah sifat dari jiwa muthmainah, jiwa yang dipanggil oleh Allah dengan mesra ketika ia meninggal dunia, dan ia akan digolongkan pada hamba-hambaNya yang sholeh, dan akan dimasukkan ke dalam syurga jannatun na’iim (Allahu Akbar…), sebaliknya seorang yang selalu bersikap negatif dalam hidupnya / negative thinking ( su’udzan ), ia selalu curiga dan dengki terhadap setiap permasalahan yang dihadapinya, maka sikap ini akan sangat berpengaruh dalam jiwanya, ia adalah jiwa yang mudah putus asa ( padahal rahmat Allah tiada terhingga ), ia adalah jiwa yang penuh dengan curiga dan psimistik ( padahal Islam mengajarkan optimistik ), menurut Islam  inilah ciri dari jiwa lauwamah, jiwa yang penuh dengan iri, dengki dan hasud,  jiwa yang selalu menuruti nafsu angkara, jiwa yang tidak akan mendapatkan syafa’at di hari kiamat nanti (naudzubillah…)

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Hadirin, berkaitan dengan sikap positif dan negatif, Allah mengingatkan pada kita semua bahwa perbuatan saitani ( yang selalu bersikap negatif ), setiap saat dan waktu ia selalu mengelilingi dan menggoda hati nurani manusia yang bersikap positif. Peringatan Allah kepada kita ini terdapat dalam Al-qur’anul Karim Surat Al-A’raf ayat : 17, bahwa setan akan menggoda dan mempengaruhi manusia dari sisi kanan, sisi kiri, muka maupun belakangnya. Kodisi dan perumpamaan ini layaknya dapat kita lihat dalam ilmu Fisika yaitu dalam kehidupan alam microcosmos… bahwa didalam atom yang sangat kecil itu tersimpan inti atom yang bermuatan positif ( yang dinamakan proton ), muatan positif tersebut selalu dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif , subhanallahi,  Allahu Akbar…hadirin inilah sebuah I’tibar yang perlu kita ingat bahwa nurani manusia yang bersifat positif selalu dipengaruhi dan dilingkari oleh nafsu saitani yang bersifat negatif, untuk itu kita harus hati-hati, tinggal bagaimana keteguhan sikap positif yang kita miliki.

Hadirin jamaah shalat Id kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,

Ternyata menurut penelitian bahwa “sikap” mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seseorang. Hadirin yang berbahagia selanjutnya marilah kita lihat konsep Al-qur’an yang terkait dengan masalah tersebut, yang juga mempunyai keterkaitan dengan kehidupan ramadhan kita kemarin. Seperti kita ketahui bahwa tujuan akhir dari pelaksanaan ibadah puasa adalah “la’alakum tattakuun” yaitu jiwa taqwa, inilah sebuah predikat istimewa dihadapan Allahu swt. Apabila puasa kemarin kita laksanakan dengan “imaanan wah ti sabaan”,  kita akan mendapatkan predikat ini, sehingga insya Allah kita akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki ( fidun ya khasanah, wa fil akhirati khasanah, wa qinaa adzaa bannar )…Allahu Akbar…

Hadirin, dalam Al-qur’an, surat ‘Ali-Imran :17 dikatakan bahwa ciri khas dan  identitas orang taqwa ada 5 yaitu : Ash-shabiriin, wash shadiqiin, wal qanitiin, wal munfiqiin, wal mustaghfiriina bil ashhar, yaitu :

  1. Orang yang SABAR,
  2. Orang yang JUJUR,
  3. Orang yang TUNDUK dan PATUH,
  4. Orang yang MEMBELANJAKAN HARTANYA DI JALAN ALLAH,
  5. Orang yang SELALU MOHON AMPUN DILARUT MALAM,

( ….Allahu Akbar walillahil hamd… )

Hadirin yang berbahagia, perhatikanlah betapa lima hal tersebut sebagai ciri bagi orang taqwa, ternyata juga merupakan sikap dalam hidup….sikap positip sebagai ciri dari orang yang dekat dengan Allah, sikap positip dari orang-orang yang dicintai Allah…

  • Taqwa adalah sikap sabar, yaitu sikap yang dapat mengendalikan emosi diri.
  • Taqwa adalah sikap jujur, yang dimiliki oleh panca indra seseorang ; apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan, akan sama dengan apa yang diucapkannya.
  • Taqwa adalah sikap tunduk dan tawadhu’, sebuah sikap yang jauh dari ria’ dan sombong sebab orang yang taqwa, mereka akan mengerti bahwa tak ada yang pantas disombongkan, ia selalu memahami bahwa manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain dan manusia adalah makhluk yang sangat lemah dan kecil dihadapan Tuhan semesta alam.
  • Taqwa adalah sikap yang dimiliki oleh orang yang selalu mensyukuri nikmat, ia akan dengan ikhlas memberi bantuan kepada orang lain walaupun dalam keadaan sempit maupun lapang, karena ia merasa bahwa rizki yang ada pada dirinya semua hakekatnya sebagai ujian dari Tuhannya.
  • Taqwa adalah sikap yang mengakui bahwa manusia adalah sangat lemah dan sering berbuat salah, karenanya orang yang taqwa selalu mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dan kekhilafannya dalam setiap saat dan waktu,

Ternyata derajad taqwa yang ingin dicapai oleh perilaku puasa adalah sebuah sikap positif yang bukan saja positif dipandang dari kehidupan bermasyarakat dalam kehidupan manusia, tetapi juga positif dari sudut pandang agama.( Allahu Akbar walillahi hamd )

Hadirin jama’ah shalat Id hamba Allah yang berbahagia,

marilah kita kupas sepintas ke lima hal tersebut,

  1. Sabar,

Sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi betapa sulit hal itu dilaksanakan. Hadirin, suri tauladan utama untuk melihat sampai sejauh mana hakekat sabar itu, tentu pada diri junjungan kita rasulullah saw dan para sahabatnya.

Pernah suatu saat ketika rasulullah saw berdakwah di kota Thaif, beliau meyampaikan penjelasan dengan tutur kata yang sejuk dan santun , dengan hati ikhlas penuh kasih sayang, tetapi penduduk Thaif menyambutnya dengan dengan cemohan dan caci makian, bahkan pada akhirnya mereka beramai-ramai melempari rasul dengan batu dan benda keras lainnya, sampai tubuh dan muka rasulullah penuh dengan luka dan berdarah, Allahu Akbar……hadirin malaikat penjaga bukit Uhud tidak tahan menyaksikan kekasih Allah mengalami penghinaan ini, malaikat minta izin kepada Allah untuk menghancurkan seluruh penduduk Thaif dengan jalan menimpakan bukit Uhud  kepada mereka… hadirin apa jawab rasul tercinta ? rasulullah saw mengangkat kedua tangannya yang penuh luka, dan beliau berdo’a dengan ikhlas :

”…Ya Allah, jangan Engkau kutuk mereka ya Allah,…ampunilah dosa dan kesalahan mereka, mereka belum tahu tentang kebenaran, mereka belum tahu bahwa aku adalah rasulMu…”

Hadirin, kesabaran yang diajarkan rasul kepada kita begitu luar biasa dan tiada tara, betapa jauhnya dengan perilaku kita sehari-hari….sabar hanya kita pahami sebatas   pengetahuan, bukan dalam pengetrapan kehidupan kita..(masya Allah… )

Hadirin, pada kesempatan lain pernah rasul memberi pelajaran tentang sabar kepada para sahabatnya, kata rasulullah :

”…kalau tidak mungkin kita mengajak para kafir qurays tersebut untuk masuk Islam saat ini, janganlah putus asa, do’a kan agar Allah memberi Hidayah pada mereka sehingga mereka mau masuk Islam waktu mendatang…”

hadirin, seorang sahabat bertanya : “ ya rasulullah, jika sampai mati mereka juga tidak mau masuk Islam ? jawab rasul :…do’a kan agar anak cucunya nanti masuk Islam….” Allahu Akbar walillahil hamd….

hadirin para sahabat terperangah mendengar jawaban rasul tersebut, inilah sebuah pelajaran tentang kesabaran yang tidak saja tiada terbatas pada saat dan waktu tertentu, tapi  sekaligus memberi pelajaran bahwa seorang mukmin harus selalu bersikap optimis dalam kehidupannya, waktu bukanlah kendala bagi seorang yang bertaqwa, dan Allah akan mencoba kesabaran seseorang pada dimensi waktu. Dengan ditundanya keberhasilan seseorang apakah ia masih tetap sabar atau tidak.

Hadirin, hamba Allah yang berbahagia,

  1. Kejujuran,

Kejujuran kini menjadi suatu sikap yang sangat langka dalam kehidupan manusia, nilai kejujuran mulai dari anak-anak sampai kepada yang tua sudah tidak ada lagi harganya, demi tujuan tertentu, demi bisnis, demi karir, nilai kejujuran sudah tidak ada…pada hal seorang mukmin setiap ucapan dan do’a didalam shalatnya selalu diyakini oleh hatinya dan  didengarkan oleh telinganya, artinya shalat kita memberikan suatu pelajaran yang indah tentang  kejujuran….,apa yang di ucapkan dalam shalat, akan dibenarkan oleh hati kita, dan dibenarkan oleh pendengaran kita, dengan kata lain : apa yang dirasakan oleh paca indra kita, dengan suara hati kita, haruslah tetap sama….

Tetapi apa yang kita lihat dalam kehidupan ini, ucapan tidak lagi sama dengan penglihatan, ucapan tidak lagi sama dengan pendengaran, bahkan ucapan seseorang tidak lagi sama dengan suara hatinya. Hatinya mengatakan PUTIH sementara ucapannya mengatakan HITAM, penglihatannya menyaksikan ADA, sementara ucapannya mengatakan TIDAK ADA, pendengaranya mengatakan YA, pada saat itu pula ucapannya mengatakan TIDAK…subhanallah, padahal kita yakin bahwa seperti apa yang digambarkan dalam surat : Yasiin, bahwa nanti di yaumil Hisab di pengadilan yang Maha Tinggi mulut tidak lagi berperan, yang berbicara sebagai kesaksian adalah tangan kita, kaki kita, mata kita, pendengaran kita…Allahu Akbar walillahil Hamd…

Hadirin hamba Allah yang saya hormati, kalau kita renungkan seorang yang kini berusia 40 th, insya Allah ia sudah melaksanakan shalat selama lebih kurang 30 th. Selama itu ia diberi pelajaran tentang kejujuran oleh shalatnya, kalaulah sampai usia tersebut belum juga ia menjujung tinggi nilai KEJUJURAN, masya Allah…sungguh sia-sia shalatnya selama itu….dan ia termasuk orang yang lalai dalam shalatnya, padahal Allah dalam surat Al-Ma’uun, mengatakan :

“….Fa wailul lil mushaliin…” sungguh celaka orang yang lalai dalam shalatnya, sungguh dia diancam oleh neraka Weil…” astaghfirullahal adziim…

Hadirin jiwa taqwa hasil puasa adalah jiwa yang jujur, dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, inilah yang insya Allah akan menyelamatkan kita dari malapetaka di hari akhir nanti….

Hadirin kaum muslimin dan muslimat hamba Allah yang berbahagia,

  1. Tunduk dan patuh

Tunduk dan patuh adalah sikap tawadhu’, yaitu sikap taat, tidak ria’ dan tidak sombong,

Hati ikhlas adalah cermin dari sikap ini, sebab hatinya bersih tidak dikotori oleh debu-debu dosa. Kata Imam Al Ghazali, orang yang hatinya bersih ia selalu melihat Allah kemana saja mata memandang, sehingga ia selalu merasa di lihat oleh Allah dan selalu bersama Allah kemanapun ia pergi.

Hadirin ada sebuah Hadits yang menarik untuk kita simak tentang keikhlasan hati, yaitu yg diriwayatkan oleh : Imam Muslim, dan Ahmad :

Rasulullah saw bersabda : Nanti pada hari perhitungan ada tiga golongan manusia yang sangat menyesal atas perbuatannya ketika didunia, mereka menyangka mendapat anugerah Allah berupa Syurga, ternyata mereka dicampakkan kedalam api neraka…( naudzubilah ..)

  1. Orang yang mati sahid,

Ketika itu oleh Allah swt, ia ditanya untuk apa ia berjuang dan demi siapa ia berperang sampai ia gugur dalam peperangan, orang tersebut menjawab :” Ya Allah yang Maha Pengampun aku berperang adalah untuk Engkau, dan aku mati syahid juga demi Engkau karena itu masukkanlah aku kedalam syurgaMU..”

Hadirin, apa jawab Allah ? : KADZABTA !! ( dusta kamu ), kamu berjuang bukan karena Aku, kamu mati juga bukan karena Aku, kamu berjuang karena kamu ingin disebut sebagai Pahlawan, agar orang-orang kagum melihat keberanianmu, hai para malaikatKu, campakkan ia kedalam neraka jahannam..!!

  1. Orang yang belajar ilmu agama, dan yang pandai membaca Al-Qur’an.

Ketika itu oleh Allah swt, ia ditanya untuk apa ia belajar agama, karena apa ia mengajarkan ilmunya, dan untuk apa ia membaca Al-Qur’an,

orang tersebut menjawab :” Ya Allah yang Maha Pengampun, aku dahulu belajar dan mengamalkan ilmu yang aku peroleh semata-semata demi Engkau ya Allah, aku membaca Al-Qur’an juga demi Engkau ya Allah, oleh karena itu berilah aku kenikmatan dan masukkanlah aku kedalam syurgaMu…!

Allah menjawab : KADZABTA !! ( dusta kamu ), kamu belajar ilmu dan mengajarkan kepada manusia lainnya bukan ikhlas karena Aku, kamu hanya ingin disebut sebagai orang yang pandai dan aliim, kamu pandai  membaca al-qur’an agar disanjung dan dipuji orang karena suaramu..kalian semua dusta, hai para malaikatKu campakkan ia kedalam neraka jahannam…!!

  1. Orang yang diberi rizqi dan nikmat yang banyak ketika didunia.

Ketika itu pula oleh Allah swt, ia ditanya untuk apa rizqi dan nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah tersebut,

iapun menjawab:” Ya Allah yang Maha Pengampun, Rizqi dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku ketika didunia dulu, aku pergunakan untuk kepentingan manusia lainnya, dan  aku dermakan kepada mereka yang membutuhkannya..”

Tuhan balas bertanya : “ untuk siapa engkau berbuat itu ?

: aku berbuat ini semata-mata karena Engkau ya Allah…”

: KADZABTA !! ( dusta kamu ), kamu memberi fakir miskin, kamu membelanjakan hartamu, kamu menggunakan nikmatKu, semua bukan  karena Aku, tapi kamu ingin pujian dari orang lain, kamu ingin disebut sebagai Dermawan…harta yang Aku berikan dahulu bukan engkau pergunakan ikhlas karena Aku ! hai para malaikatKu campakkan ia kedalam neraka Jahannam…!!

Hadirin, betapa menggiriskan informasi tersebut, semua perbuatan manusia ternyata kuncinya adalah didalam dihati. Tak ada perbuatan yang dapat disebut baik tatkala hatinya tidak ikhlas. Dan ikhlas itu sendiri sangat berkaitan dengan perintah Allah, karena kita hidup inipun karena kehendak Allah swt…ingatlah hadirin, janji kita setiap shalat, : :”…inna shalati wanusuki wamahyaaya wamamaati, lillahi rabbil ‘alamiin….”

: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah semata.

Hadirin inilah janji yang selalu ditunggu oleh Allah dalam kehidupan kita…sudah siapkah kita jika janji kita tertsebut ditagih oleh Allah swt ??

hadirin kata seorang bijak:

HIDUP ini adalah sia-sia, jika tidak disertai dengan IBADAH,

IBADAH pun akan sia-sia, jika tidak disertai dengan ILMU,

ILMU akan sia-sia, jika tidak di AMALKAN,

AMAL akan sia-sia, jika hatinya tidak IKHLAS.

Hati adalah pusat dari “psichomotorik” ( pengamalan ), karena itu jika ingin mencari kebahagiaan ( Happiness ) janganlah ditempat lain, jangan di materi, jangan di jabatan, jangan di jenjang keilmuan..tapi carilah di Hati anda, yaitu : hati yang sabar, hati yang jujur, hati yang tawadhu’, dan hati yang qona’ah….

hadirin, seorang pujangga besar Jerman, yaitu WOLF GANG VAN GOTHE pernah mengungkapkan, bahwa untuk mencapai kebahagiaan, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama, apakah dia seorang Raja yang kaya raya atauakah ia seorang Petani yang miskin papa, bila hatinya damai maka ia akan mendapatkan kebahagiaan….

Hadirin hamba Allah yang berbahagia,

  1. Kedermawanan

Hadirin disamping sikap sabar, sikap jujur, dan sikap tawadhu’ maka kedermawanan adalah salah satu sikap yang dicintai oleh Allah swt. Sampai- sampai rasulullah saw mengatakan bahwa di Syurga ada sebuah mahligai yang sangat megah dan indah yang disebut :  Baitul Askhiyaa’ : ( yaitu ) rumahnya  para dermawan.

Begitu tingginya nilai kedermawanan dimata Islam, sehingga bila ada seorang dermawan yang meninggal dunia menurut, Salman Alfarisi Bumi dan malaikat yang menjaganya berdo’a :” Ya Rabbi tajawaz an abdika bi sakhaa’ihi fiddun ya ( Ya Allah maafkanlah hambaMu ini dari kesalahannya, karena kedermawanannya ketika ia di dunia )

Hadirin sekalian yang saya hormati, ada pula sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Hurairah ra : bawha Rasulullah saw bersabda :

Ketika seorang sedang berjalan di tengah hutan dalam musim panas tiba-tiba ia mendengar suara yang indah dari atas awan…:” wahai awan siramkanlah airmu di kebun si  fulan…” orang ini terkejut maka dipandanginya awan diatasnya, ternyata awan tersebut bergerak tertiup angin menuju suatu tempat tertentu, setelah itu air deras berjatuhan dari awan tersebut menuju suatu selokan, dan dari selokan tersebut air mengalir menuju suatu kebun dan seluruhnya air tertumpah menyirami kebun tersebut.

Orang yang berjalan tadi mengikuti dengan heran peristiwa itu, betapa dalam musim panas ada kejadian semacam itu..rasul meneruskan ceritanya: akhirnya orang tersebut bertemu dengan penjaga kebun tersebut. Dan ia bertanya siapakah nama penjaga kebun tersebut dan milik siapa kebun tersebut ? penjaga itu menjawab:

namaku adalah Fulan dan kebun ini adalah milikku…hadirin si penanya terheran, sebab nama pemilik kebun itu sama dengan nama yang disebutkan oleh suara dari langit tadi…Akhirnya ia bertanya kepada pemilik kebun tersebut, perbuatan dan amalan apakah yang menyebabkan ia mendapatkan suatu keajaiban itu, pemilik kebun menjawab:”TIDAK ADA AMALAN YANG ISTIMEWA YANG AKU MILIKI, kecuali memelihara kebun ini dengan baik” Wahai pemilik kebun, bagaimana cara engkau merawat kebunmu ini ? hadirin pemilik kebun menjawab: sepertiga bagian aku sedekahkan, sepertiga bagian aku makan bersama keluargaku, sepertiga bagian aku olah dan aku jadikan bibit kembali…subhanallah…

Hadirin jamaah shalat Id rahimakumullah,

Rasulullah saw  menunjukkan kepada kita betapa Allah akan memberi suatu keistimewaan pada orang yang sedang bekerja/ berniaga, yang keistimewaan itu  tidak diberikan kepada orang lain, apabila seseorang dalam bekerja memperhatikan tiga komponen pokok yaitu:

  • Sebagian hasilnya didermakan/ disedekahkan dengan hati tulus
  • Sebagian hasilnya untuk menghidupi keluarganya sebagai rizqi yang halal
  • Sebagian lagi untuk di investasikan kembali dalam rangka mengembangkan perniagaannya.

Hadirin inilah pelajaran tentang sistem perekonomian sederhana yang sangat berharga bagi kita disamping ia sebagai pelajaran tentang kedermawanan dan keikhlasan hati. Hadirin, ternyata Islam tidak saja mengajarkan dan menyuruh orang untuk bersedekah dari penghasilannya, tapi Islam juga mengajarkan dan menyuruh kita untuk menginvestkan kembali sebagian hasilnya demi untuk mengembangkan usaha agar modalnya lebih besar dan perniagaannya menjadi lebih berkembang dikemudian hari. Allahu Akbar walillahil hamd….

Hadirin, sikap yang terakhir bagi orang taqwa menurut surat Ali-Imran : 17 adalah :

  1. Mohon Ampunan Allah,

Bapak Ibu saudara sekalian yang saya hormati, orang yang taqwa adalah selalu merasa bahwa dalam dirinya banyak sekali terdapat dosa, bukan sebaliknya ia merasa banyak amalnya bukan,…hadirin orang yang taqwa adalah orang yang takut kepada Allah, takut akan adzabNya yang sangat menggiriskan, dan  takut akan murkaNya, lebih jauh dari itu ia  takut tidak mendapat perhatian dari Allah, takut tidak dicintai oleh Allah, dan takut tidak dibimbing oleh Allah dalam menuju ma’rifatullah.….

Kata Rasul , bahwa seorang mukmin melihat dosanya bagaikan seorang yang duduk dibawah bukit yang besar, dan ia takut akan kejatuhan bukit tersebut. Sementara itu seorang kafir memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap diatas hidungnya dan ia menghalaunya dengan mudah, maka terbanglah lalat tersebut.

Hadirin selajutnya seorang sahabat bertanya :”ya rasulullah amalan apakah yang dapat menyelamatkan kami di dunia dan akhirat ?” jawab rasul : “ jagalah lidahmu dan menangislah engkau dari dosa-dosamu…itulah yang dapat menyelamatkan engkau. ”

Hadirin hamba Allah yang saya hormati,

Tersebutlah dalam kitab Minhaj Al-Ghazali, bahwa :

  • Nabiullah Adam as, kekasih Allah, yang Allah sendirilah ketika menciptakan bentuknya, yang malaikat disuruh sujud kepadanya, ketika nabi Adam melakukan kesalahan satu kali yaitu makan buah yang dilarang oleh Allah, maka menangislah nabi Adam atas dosanya selama tiga ratus tahun lamanya, sehingga air matanya menembus bumi menjadi mata air yang mengalir di lembah Surandip.
  • Hadirin, Nabi Nuh yang berjuang untuk menegakkan agama sedemikian rupa, pernah menangis selama seratus tahun, lantaran ditegur oleh Allah karena tidak bisa mendidik putranya untuk berbakti kepada Allah, sampai cekung pipi nabi Nuh lantaran aliran air matanya….masya Allah ….
  • Demikian juga dengan nabi Dawud as, pernah beliau merintih selama empat puluh hari, empat puluh malam dalam keadaan sujud, saking takutnya dosanya tidak diampuni oleh Allah, sampai-sampai tanah bekas sujudnya tumbuh rumput lantaran basah karena air matanya.
  • Abu bakar sidiiq ra, apabila membaca Al-qur’an maka melehlah air matanya.
  • Umar bin Khatab ra, pada pipinya terdapat garis hitam lantaran seringnya ia menangis, karena ia teringat akan perbuatannya sebelum masuk Islam.
  • Junjungan kita Nabi Muhammad rasulullah saw, seperti yang diceritakan oleh Aisyah ( ummul mu’minin ), pernah menangis sejak selesai shalat Isya’ sampai terdengar suara adzan subuh, yaitu pada saat beliau mendapat wahyu dengan turunnya ayat al-qur’an surat Ali-Imran (190-191), Bilal bertanya dengan menangis pula, ya Rasul apakah yang menyebabkan engkau menangis seperti ini, bukankah Allah telah mengampuni dosa dan kesalahanmu yang lalu maupun yang akan datang ? Ya Bilal, bukan itu yang menjadikan aku sedih, yang membuat aku menangis adalah, disamping aku ingin selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur, aku sedih lantaran ayat yang baru saja turun menceritakan betapa penting kejadian langit dan bumi dan betapa penting pergantian siang dan malam, karena disitu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, tapi manusia tidak pernah memikirkannya,…sungguh celaka orang yang membaca al-qur’an tapi tidak pernah memikirkan isi kandungannya…” 

Hadirin, air mata beliau bukan untuk diri pribadi, tapi air mata itu untuk umatnya/untuk kita semua, beliau menangis sebab begitu banyaknya manusia yang pandai membaca al-qur’an tapi tidak berupaya untuk mengerti betapa banyak mutiara berharga yang ada didalamnya…. Subhanallahu walhamdulillahi walaa ilaha ilallahu allhu Akbar…..

Hadirin hamba Allah yang berbahagia,

Itulah sikap hidup seorang yang taqwa, yang telah berhasil dan lulus dalam ujian selama ramadhan kemarin, sikap hidupnya taqwa, jiwanya taqwa, dan hatinya juga taqwa…..karena telah dilatih oleh ramadhan yang agung….hadirin kini ramadhan telah pergi, tinggal kita sendiri bertanya dalam hati apakah kita akan bertemu lagi dengan bulan penuh hikmah tersebut ? hanya Allah Yang Maha Mengetahui…

Hadirin, suri tauladan utama kita tiada lain adalah rasulullah saw, yaitu  seorang…

rasul yang hidupnya sederhana sementara umatnya bergelut dengan kemewahan,

rasul yang tidurnya beralaskan tikar  kasar sampai menggurat punggungnya sementara umatnya tidur diatas permadani indah yang sangat mahal harganya.

rasul yang tiap malam shalat sampai bengkak kakinya dan berurai air matanya untuk mendoakan keselamatan umatnya, sementara umatnya sendiri tidur pulas tak pernah bangun malam untuk mohon ampunan, ..astaghfirullah….

rasul yang ketika saat mau meninggalkan kita mulutnya berucap:” umati, umati…shalah, shalah,…”

yang pada saat itu masih tetap memikirkan keselamatan umatnya, sementara kita tidak banyak yang tahu betapa besar cinta kasih rasul terhadap kita semua, dan betapa penting arti shalat sebagai perisai ketika menghadapi sakaratul maut.

Hadirin, pada hari akhir nanti, ketika semua manusia sudah dikumpulkan di padang makhsyar, terjadilah suatu peristiwa yang menakjubkan….

Ketika semua manusia yang pernah hidup sudah dibangkitkan dari kuburnya, dan sudah  berbaris menurut imamnya masing-masing, tiba-tiba melayang sebuah gumpalan api yang sangat besar yang akan membakar umat Muhammad yang banyak melakukan  dosa, melihat hal tersebut maka rasulullah saw, mengangkat kedua tangannya dan berdo’a

:”Ya Allah jangan Engkau timpakan kehinaan kepada umatku pada hari ini,

 ampunilah mereka yang beriman yang selalu sujud untuk memuji keAgunganMu…”

hadirin, begitu selesai rasul berdo’a, maka datanglah malaikat Jibril sambil membawa segelas air putih…dan disiramkannya air tersebut kedalam gumpalan api yang menggunung yang akan membakar umat Muhammad…, maka seketika padamlah api sebesar gunung tersebut….sangat heranlah Rasul saw, maka bertanyalah beliau kepada malaikat Jibril, : “…ya Jibril air apakah itu, segelas tapi bisa memadamkan api yang sangat besar dan sangat dahsyat itu ?”

malaikat Jibril menjawab : “…ya Rasulullah junjungan seluruh Alam, ketahuilah bahwa air tersebut adalah air mata engkau yang setiap malam engkau teteskan dalam shalatmu demi keselamatan umatmu…”  Allahu Akbar walillahil hamd,

Hadirin, sekali lagi bulan penuh rahmat itu  telah pergi, bekasnya adalah taqwa di hati, dengan pembuktian perilaku sehari-hari…

Pada bulan kemenangan ini ,pada fajar  1 syawal ini, marilah kita saling memberi maaf dengan ikhlas, berjabat tangat erat menyambung tali persaudaraan yang mungkin kemarin pernah retak, berpeluk cium mesar antara anak dengan orang tua, suami dengan istri, antara karyawan dengan pimpinan, antara teman dengan handai taulan lainnya… semoga waktu mendatang jiwa kita bersih dari syak wasangka.

Hadirin, kini tinggal kita berdo’a semoga umur kita ditambah setahun lagi untuk  dipertemukan lagi oleh Allah dengan ramadhan nan suci….insya Allah…

Akhirnya marilah kita semua  berdo’a semoga segala kekhilafan dan kesalahan kita,

akan mendapat ampunanNya, dan kita diberi kekuatan, kesabaran , kejujuran, dan ketawadhu’an dalam menapaki  kehidupan dunia yang penuh dengan tipu daya dan kepalsuan ini,dan semoga apa yang kita lakukan diwaktu-waktu mendatang  mendapat bimbingan  dan ridha dari Allah swt…amien.

 Bismillahirrahmaanirrahiim,

Ya Allah, ya Rabbi, Rabbul ‘Izzati,

Puji syukur kami panjatkan kehadiratMu, atas limpahan nikmat yang tiada terhingga, yang telah Engkau berikan kepada kami semua, sehingga kami hari ini dapat menyelesaikan kewajiban kami yang indah yang telah Engkau tetapkan untuk hamba-hambaMu yang setia.

Ya Allah, inilah hari kemenangan yang Engkau janjikan, terutama bagi hambaMu yang menginginkan derajad taqwa, hari ini sungguh fitri terutama bagi hambaMu yang suci yang sebulan penuh telah memelihara panca indranya ketika berpuasa.

Ya Rabbi, Dzat  yang Maha Memelihara alam raya ini,

Ditengah riuhnya suara takbir bergema, kami semua bermunajat dibawah maghfiraMu…

Terimalah ya Allah, taubat kami, agar kami semua tidak menjadi orang yang sia-sia tanpa makna, terimalah puasa kami, agar kami tidak menjadi orang yang rugi dimasa nanti,

Ya Allah, ya Ghafuururahiim,

Begitu banyaknya kesalahan dan kekhilafan kami, kelengahan dan kesombongan kami. Jika Engkau tiada mengapuni dosa dan kesalahan kami … ya Hayyu, kepada siapa lagi kami harus mengadu.

Ya ‘ALiim, ya Azis, ya Hakiim,

Selamatkanlah bangsa dan negara tercinta ini dari huru hara dan malapetaka yang akan menimpa, kami tidak lagi mampu berbuat banyak selain menengadahkan kedua tangan kami yang kotor dan penuh dosa ini untuk mohon pertolonganMu. Sayangilah ya Allah bangsa kami, cintailah orang-orang beriman diantara mereka yang sampai kini masih banyak yang merasa kesulitan dalam mencari rizki.

Ya Rabbi, Ampuni dosa dan kekhilafan kami semua, ampuni dosa dan kekhilafan orang tua kami, baik mereka yang hari ini masih hidup bersama kami, ataukah mereka yang hari ini sudah tiada lagi, ampuni dosa orang muslim dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik mereka sebagai rakyat biasa atau mereka sebagai pemimpin-pmimpin bangsa dan masyarakat, yang memimpin dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, kesabaran dan ketawadhu’an.

Ya Allah, tunjukanlah kepada kami semua, bahwa yang benar itu nampak benar dan berilah kami kemampuan untuk dapat menjalankannya, serta tunjunkkanlah kepada kami bahwa yang bathil itu nampak bathil, dan berilah kami kemampuan untuk dapat meninggalkannya.

 “…Rabbana aatina fiddun ya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qinaa adzaabannar….”

“Minal ‘aidin wal fa idzin, Taqabalallahu  mina wa minkum, Taqabbal ya Kariim”

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Taufik Djafri

 

MENGGAPAI TAQWA