Kalau kalian sudah berpendirian seperti itu, mengagungkan Allah di waktu dhuha. Mensyukuri nikmatNya, bukan sekedar minta rezekiNYa, maka kalian akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Tetapi ingat anakku. Bukannya setelah melakukan shalat dhuha, terus kita bermalas-malasan duduk saja menunggu rezeki, bukan.! Kita harus kerja keras. Mari kita ambil rezeki yang terhampar luas di bumi Allah ini dengan perilaku yang sesuai dengan kehendak sang Pemilik rezeki itu.

Lihatlah, dan camkan kembali salah satu ayat yang dibacakan temanmu tadi:

“Wa lal aakhiratu khairul laka minal uulaa”

Yang artinya adalah : “dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.”

Anakku, Hari akhir kalian, insya Allah akan lebih baik dibanding hari ini. Artinya hari akhirat yang indah itu telah menunggu kita semua jika kita sering mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.

Bekerja dengan sungguh-sungguh, belajar dengan sungguh-sungguh, adalah juga termasuk sebagai pengagungan kepada-Nya. Seluruh rangkaian hidup kita adalah ibadah. Karena Allah telah begitu jelasnya memberitahukan hal itu di dalam al-Qur’an.

Kemudian Ustadz Haji Sukri mengutip dua buah hadits yang berkenaan dengan shalat dhuha.

“Barang siapa yang rajin menjaga shalat dhuha, maka akan diampunkan dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad, Attirmidzi)

“Barang siapa yang disibukkan oleh dzikirnya untuk mengingat-Ku, sampai ia lupa memohon kepada-Ku, maka Aku memberinya sebelum ia memohon kepadaKu.” (Hadits Qudsi, Abu Nu’aim, Dailami)

Abdi termenung, mendengar semua apa yang disampaikan oleh Haji Sukri tersebut. Sebuah pemahaman yang belum pernah Abdi dengar. Maka Abdi pun bertambah kagum kepada Ustadz H. Sukri ini. Orangnya bersahaja, tutur katanya tertata, dan wajahnya yang selalu berseri menjadikan setiap orang yang melihatnya hatinya menjadi tenang dan tentram.

Abdi memandang kepada mahasiswi yang bertanya tadi. Nampak bahwa ia pun memanggut-manggutkan kepala atas jawaban dan penjelasan yang sangat dalam maknanya itu.

Abdi tersentak dari lamunannya, ketika ada lagi seorang mahasiswa yang mengajukan pertanyaan.

Abdi memasang telinga, apakah ini termasuk pertanyaan yang menarik seperti Romlah tadi? Pikirnya.

“Ustadz, nama saya  Dimas. Saya menjadi semakin tertarik, mendengar penjelasan Ustadz tadi.”

“Begini Ustadz, kami para mahasiswa ini setiap hari mempelajari ilmu untuk masa depan kami. Ketika kami belajar ilmu yang sesuai dengan jurusan kami masing-masing, apakah ilmu teknik, ilmu ekonomi, ilmu kedokteran, atau yang lainnya. Kami selalu berusaha untuk mencapainya dengan segala upaya kami. Agar di masa mendatang kami akan bisa sukses seperti harapan kami sendiri, dan juga harapan orangtua kami. Seolah-olah kami tidak perduli lagi dengan kehidupan akhirat. Yang penting pokoknya kami sukses di dunia ini.

“Tetapi Ustadz….” Lanjut Dimas.

“Ketika kami mendengarkan pengajian semacam ini, atau ketika kami belajar agama di kelas, kami seolah-olah lupa pada kesuksesan dunia yang kami inginkan itu, yaitu ketika kami sedang belajar ilmu pengetahuan tadi. Bagaimana ini Ustadz?”

Saya pribadi sedikit bingung. Di mana titik temunya dua persoalan dunia dan akhirat itu Ustadz?”

     “Sekian.., Wasalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh…”

      “Wa ‘alaikum salaam, warahmatulaahi wabarakaatuh”

Jawab sang Ustadz sambil tersenyum.

     “Subhaanallaah…”

“Nak Dimas, sungguh saya kagum atas pertanyaanmu. Sebagai seorang mahasiswa kamu bisa merangkai dua persoalan penting yang mungkin saja penjelasan tentang hal ini sangat dibutuhkan oleh banyak mahasiswa lainnya, atau oleh saudara-saudara kita yang lain. Sebab memang inilah pemahaman dasar dalam ajaran agama kita.”

“Anakku-anakku para mahasiswa, yang dikasihi Allah..”

“Pemahaman tentang kehiduan dunia dan akhirat haruslah kita pahami secara holistik. Karena dua alam itu diciptakan oleh Allah dalam rangkaian yang tidak terpisahkan. Kita akan sampai di alam akhirat nanti setelah kita berada di alam dunia ini. Karena seiring berjalannya sang waktu, kita terus melaju tanpa henti untuk menuju hari akhir itu.

Anakku, hidup ini kata junjungan kita rasulullah SAW, bagaikan garis lurus, yang ada awalnya dan suatu saat ada akhirnya pula. Bukan seperti bulatan bola yang tiada ujung tiada pangkalnya.

Anak-anakku, perhatikan analogi ini. Kalau kita saat ini sedang berjalan dalam sebuah garis lurus yang memiliki tiga titik yaitu : A,B, dan C, mari kita renungkan…!

Kita mulai berjalan dari titik A sebagai awal perjalanan, berikutnya kita akan bertemu dengan titik B. Apabila kita terus berjalan lagi kita akan bertemu dengan titik C sebagai penghujung dari garis lurus itu.

Anak-anakku,…kalau kita bertujuan hanya kepada titik B saja, pertanyaannya, apakah kita akan sampai ke titik C?” Tanya Pak Ustadz.

“Wah, tentu tidak akan sampai Pak Ustadz !” jawab seorang mahasiswa yang duduk di depan sendiri.

“Bagus Nak..!”

“Terus, kalau tujuan kita ke titik C, apakah kita akan sampai titik B?”Tanya Pak Ustadz lagi.

“Kita akan melewatinya Pak…”

“Bagus, anakku!”

“Itulah jawaban, dari pertanyaan ananda Dimas tadi.!”

“Kita tidak bisa memisah-misahkan antara dunia dan akhirat. Karena keduanya adalah merupakan dua alam yang berada pada satu garis. Sebuah garis yang akan dilalui oleh seluruh manusia. Mulai dari ALAM RUH, kemudian ke ALAM RAHIM, kemudian lahir ke ALAM DUNIA, berikutnya setelah mengalami kematian manusia akan masuk ke ALAM BARZAH, dan selanjutnya akan menuju ALAM AKHIR.

“Anakku, agama kita mengajarkan tentang suatu do’a yang sangat indah, di mana do’a ini sering kita ucapkan setiap kali kita berdo’a. Doa’ ini tertera di dalam al-Qur’an al Kariim, surat al-Baqarah ayat 201:

“Wa minhum may yaquulu rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar.”

(Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.)

“Anak-anakku, do’a ini SEOLAH-OLAH lebih mementingkan dunia di banding akhirat, sebab kata dunia disebut terlebih dahulu, baru kemudian kata akhirat. Tetapi ingatlah tentang garis lurus tadi. Titik terdekat adalah dunia, sementara titik penghujung adalah akhirat. Artinya jika kita mementingkan dunia, atau jika TUJUAN HIDUP kita hanya terbatas UNTUK DUNIA saja, maka kita TIDAK AKAN BERTEMU dengan kebahagiaan akhirat. Sebaliknya jika tujuan hidup kita adalah untuk akhirat, maka kita akan bertemu dengan keduanya. Kebahagiaan dunia dan juga kebahagiaan akhirat.”

Allah Swt, memberikan pelajaran kepada kita tentang hal itu di dalam al-Qur’an surat al-Qashash: 77

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 38)

BULIR-BULIR KASIH (37)