“Nama saya Romlah Ustadz,.. “ kata penanya tersebut.
“Saya sejak dahulu selalu bingung menghubungkan antara surat adh-Dhuha yang baru Ustadz kupas itu dengan pelaksanaan shalat Dhuha yang di sunahkan oleh rasulullah SAW. Di dalam surat tersebut tidak disebutkan sama sekali bahwa kalau ingin rezeki kita meningkat, kita harus melakukan shalat Dhuha. Tetapi kenapa banyak orang beranggapan seperti itu..?”
“Kalau shalat Dhuha bisa mendatangkan rezeki, kemungkinan banyak sekali orang yang tidak mau bekerja. Padahal Rasulullah juga bekerja untuk mencari rezeki…”
“Bagaimana sih hubunganya Ustadz?”
“Makasih atas jawaban Ustadz…wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh…” kata Romlah menutup pertanyaannya.

“Wa ‘alaikum salaam, Warahmatullaahi Wabarakaatuh…” jawab Haji Sukri.
“Wah, wah, inilah pertanyaan yang sangat bagus…sebuah pertanyaan yang jeli, dan juga cerdas..” kata Sang Ustadz.
“Saudara para mahasiswa yang mendapat rahmat Allah, dengarlah….”
“Saya punya kisah nyata yang sangat berhubungan erat dengan pertanyaan ini.”
“Saya punya seorang famili yang bernama Pak Yusri. Ia menceritakan tentang pengalamannya yang tergolong cukup unik. Katanya, sebuah pengalaman yang sangat istimewa telah ia dapatkan ketika melakukan shalat dhuha.
Dari berbagai sumber, keterangan dan penjelasan yang ia dapatkan, baik ketika mendengarkan ceramah-ceramah, atau dari membaca buku-buku literatur. Ia mengambil sebuah kesimpulan, bahwa shalat dhuha itu dipakai untuk mencari rezeki. Begitulah kesimpulan yang ia dapatkan.
Kata famili saya ini, ketika suatu pagi ia melakukan shalat Dhuha, benar-benar ia bisa tenggelam dalam kekhusyukan yang sangat. Mengapa demikian? Sebab katanya ia mempunyai permasalahan ekonomi yang cukup serius. Maka dengan melakukan shalat dhuha, ia berharap akan mendapat rezeki kontan dari Allah, sehingga bisa menyelesaikan permasalahannya dengan cepat…” Kata Sang Ustadz memulai ceritanya.
“Saat itu..,” lanjut Haji Sukri ”Do’a yang dipanjatkan sangat panjang. Sujud yang dilakukan begitu khusyuknya. Harapannya hanya satu. Ia ingin mendapat rezeki secepatnya untuk segera bisa menutupi hutang-hutangnya yang katanya sudah sangat menumpuk itu.”
“Beberapa hari sebelumnya ia lakukan shalat dhuha tersebut dengan penuh khusyu’ dan tawadhu’. Setiap selesai shalat dhuha ia selalu berharap-harap cemas untuk mendapatkan rezeki dari Allah.”
“Pada pagi yang cerah, ketika waktu dhuha sudah masuk, seperti biasanya ia mengambil air wudhu’, lalu ia menggelar sajadahnya. Hari itu benar-benar ia bisa melakukan shalat lebih khusyu’ dari waktu-waktu sebelumnya. Do’a pun dipanjangkan lebih dari hari-hari sebelumnya. Ia betul-betul merasa puas dengan shalat dhuhanya.”
“Ketika menutup do’a khusyu’nya, sebelum melipat sajadahnya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk perlahan. Dan terdengar suara ucap salam dari seorang tamu yang berada di luar. Kontan Pak Yusri bangkit dari tempat shalatnya, dan ia menjawab salam dengan penuh gembira.”
“…wa ‘alaikum salaam warahmatullaahi wabarakaatuh…” jawabnya.
“Begitu fasihnya Pak Yusri menjawab salam tersebut. Dengan penuh gembira dipersilahkannya tamu itu masuk kedalam rumahnya. Dalam hatinya famili saya itu berkata, Wah, inilah rezeki yang ia harapkan itu. Ia berfikir begitu kontannya Allah kalau memberi rezeki. Belum satu menit do’a panjang itu ia tutup, belum selesai ia melipat sajadahnya, tiba-tiba di depan pintu sudah menunggu rezeki itu…pikir Pak Yusri.”
“Silakan masuk Pak” kata Pak Yusri. “Oh, iya terima kasih…” sahut tamunya. Bapak siapa ya, kok saya agak lupa…” kata Pak Yusri lagi.
“Ini Pak…, saya memang belum pernah ketemu Bapak. Saya adalah utusan dari majikan saya yaitu Pak Diman. Saya kesini disuruh menagih hutang kepada Bapak yang memang belum terbayar sejak lima bulan yang lalu. Mohon maaf kalau saya mengganggu…”
Pak Haji Sukri menghentikan sejenak ceritanya, soalnya para mahasiswa sudah banyak yang tertawa. Bahkan ada seorang mahasiswa yang nyeletuk:
“GR ni yee,…hahaha…dikiranya rezeki, ternyata yang datang orang menagih hutang…hahaha…”
Pak Ustadz-pun ikut tertawa melihat para mahasiswa banyak yang tertawa. Demikian pula Abdi pun ikut tersenyum mendengar cerita yang unik itu.
Kemudian Pak Haji Sukri melanjutkan kisahnya lagi.
“Anak-anak…, betapa pucat muka Pak Yusri mendengar hal ini. Ternyata yang datang bukan rezeki yang diharapkan, tetapi justru orang sedang menagih hutang! Ingin rasanya ia menangis waktu itu. Betapa saat itu ia tidak punya uang sama sekali, Shalat dhuha sudah ia lakukan dengan penuh khusyuk ternyata yang datang bukan seperti harapannya.
Sambil menutup ceritanya, Pak Yusri mengatakan pada saya :”…ternyata shalat dhuha itu tidak bisa dipakai untuk mencari rezeki ya…Pak..”
“…anak-anak, saya hanya tersenyum, menyaksikan Pak Yusri yang mengambil kesimpulan sendiri dari ceritanya itu.” Kata sang Ustadz.
“Anak-anakku para mahasiswa yang saya hormati…, rupanya ada sesuatu yang salah dalam pemahaman Pak Yusri tentang shalat dhuha. Allah Swt sebagai Tuhannya Alam Semesta, Dzat Yang Maha Agung itu, oleh Pak Yusri dimintai uang untuk membayarkan hutangnya…bayangkan..!” kata Pak Ustadz.
Kembali beberapa mahasiswa tersenyum lebar mendengar cerita yang semakin menarik itu.
“…anak-anak.., kira-kira saja, para malaikat mungkin menjadi tersinggung melihat perilaku Pak Yusri ini. Betapa Sang Pencipta Jagad Raya, yang memiliki Arasy yang tinggi, yang mengatur jalannya bintang-bintang raksasa di seluruh galaksi, yang mengatur hidup dan mati seluruh ciptaanNya, disuruh membayarkan hutangnya…?”
“Tapi ya maklumlah… karena Pak Yusri memang belum mengerti. Ia tidak menyadari akan kesalahannya. Maka Allah Swt memberinya pelajaran praktis di pagi itu kepadanya.
Yang datang bukanlah rezeki, tetapi sebaliknya yang datang adalah orang yang menagih hutang….” Lanjut pak Ustadz.
“…anak-anak…, sejak memulai shalat, yang di bayangkan oleh famili saya itu adalah rezeki yang melimpah. Bukan mengagungkan Allah Swt. Pak Yusri telah melakukan kesalahan dalam mengartikan substansinya shalat dhuha.”
“Bahwa dengan shalat dhuha seseorang akan mendapatkan rezeki yang barokah, insyaAllah adalah benar. Tetapi yang menjadi masalahnya, shalat bukanlah untuk mencari rezeki. Apalagi untuk minta uang sekedar sebagai pembayar hutang. Anak-anakku…SHALAT adalah SEBUAH PENGABDIAN yang sangat indah dari seorang hamba kepada Tuhannya…ingatlah itu !”
“Mengabdi bukanlah minta rezeki. Mengabdi adalah mendekatkan diri kepada Ilahi. Mengabdi adalah mensyukuri nikmat diri yang tiada terhitung lagi karena saking banyaknya yang telah diterima oleh manusia….”
“Anak-anakku.., Allah Swt melalui rasulNya, menyuruh kepada kita semua agar di waktu dhuha kita menyembah kepadaNya. Kita disuruh untuk mengagungkanNya. Apabila pada saat semua manusia sibuk mencari rezeki dan sibuk mengurusi duniawi, pada saat itu ada seorang hamba yang menyempatkan diri untuk MENGAGUNGKAN Ilahi dengan melakukan shalat dhuha, maka dia itulah orang yang istimewa.
“Sungguh Allah sangatlah mencintainya. Sebab ketika semua orang memanfaatkan ‘waktu efektif’ untuk bekerja, ‘waktu efektif’ untuk berusaha, ternyata pada saat itu ada orang yang mau dan rela mengorbankan waktunya demi mencari ridha Allah. Mohon ampun atas segala kekhilafannya. Mengagungkan Dia Yang Maha Perkasa. Serta selalu mensyukuri nikmatNya, bukan sekedar untuk minta rezekiNYa. Sungguh orang itu berhak mendapatkan HADIAH ISTIMEWA dari Allah, salah satunya adalah REZEKI yang barokah …”
“Mengertikah kalian anak-anakku? Di situlah RAHASIAnya, kenapa orang yang rajin shalat dhuha, dia menjadi hamba yang sangat istimewa di hadapan Allah Swt.” lanjut pak Ustadz…
—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 37)

BULIR-BULIR KASIH (36)