‘RAHASIA WAKTU DHUHA’

Masa Kuliah sudah berjalan lagi, karena waktu liburan semester sudah habis. Abdi dan Syarif sudah kembali ke kampusnya. Demikian pula Ira. Saat-saat kuliah sudah kembali seperti sedia kala. Abdi dengan nilainya yang bagus menyebabkan ia mengambil mata kuliah lebih banyak dibanding semester yang lalu. Kegiatan demi kegiatan menyebabkan Abdi kembali sibuk dengan kuliahnya. Karena sejak kecil ia berada pada lingkungan yang kental dengan nuansa religius, maka hal itu tidak bisa hilang begitu saja dalam keseharian Abdi.

Meskipun ia sibuk dengan aktivitas kuliahnya, Abdi tetap mengikuti kegiatan pengajian yang sering diadakan oleh unit kegiatan mahasiswa.

Siang itu ketika Abdi baru keluar dari ruang kuliahnya, ia bertemu dengan Syarif.

“Di, besok Sabtu kamu ada rencana ikut kuliah dhuha?” kata Syarif.

“Apa ada pengumumannya Rif?”

“Ada tuh, lihat di papan pengumuman”

“Kalau ada, aku tentu ikut Rif. Sayang kalau nggak ikut.”

“Terus Ira bagaimana? Apa ia juga ikut?” sambung Abdi

“Ndak tahu-lah, tapi kalau Ira ikut, aku juga ikut deh…” jawab Syarif

“Nah, gitu dong! Kita kan kompak…” jawab Abdi lagi

“Siapa ustadznya?” kata Abdi lagi.

“Aku juga tidak tahu Di”

“Oke deh kalau begitu. Kalau nanti kamu ketemu Ira, beritahu ya dia, dari pada sendirian di rumah, lebih baik ikut aja, siapa tahu ada manfaatnya. Aku akan ke perpustakaan dulu Rif.” Kata Abdi.

“Oke” jawab Syarif sambil jalan ke arah ruang kuliahnya Ira.

 Pagi itu, sekitar pukul tujuh para mahasiswa sudah kelihatan berjubel di Gedung Serba Guna yang ada di pusat kampus itu. Mereka adalah para mahasiswa yang aktif mengikuti kuliah dhuha. Kuliah dhuha adalah kuliah ekstra dalam kaitannya dengan kuliah agama Islam. Yang memberi materi cenderung bukan dosennya sendiri, tetapi para ulama atau ustadz lain. Sehingga para mahasiswa sangat antusias mengikuti acara itu. Lebih-lebih jika pembicaranya bagus, bisa-bisa gedung yang mereka pakai untuk kuliah dhuha itu tidak cukup.

Tampak Abdi sudah datang bersama Syarif, tidak berapa lama kemudian kelihatan Ira juga datang. Karena tempat duduk mahasiswa dan mahasiswi terpisah, Ira hanya bisa tertawa saja kepada Abdi dan Syarif yang sudah duduk di bagian laki-laki, di seberang duduknya Ira.

Tidak seberapa lama kemudian, panitia mengumumkan bahwa acara segera dimulai, para mahasiswa diharap untuk tenang.

Abdi melihat ada seorang setengah baya yang memasuki ruangan itu. Dandanannya biasa-biasa saja, memakai baju takwa warna putih, kopyahnya hitam, dan celananya juga berwarna hitam. Yang membuat Abdi tertarik adalah wajahnya yang begitu bersih, selalu tersenyum, sehingga membuat senang bagi siapa saja yang melihatnya.

“Ustadz Haji Sukri..?!” Abdi spontan berbisik pada dirinya sendiri

“Iya, dia itu Haji Sukri yang dulu memberi ceramah di rumah Syntya.” Sambung Syarif yang duduk di sebelah Abdi.

Tidak berapa kemudian, pembawa acara membuka acara kuliah dhuha tersebut, dengan terlebih dahulu memperkenalkan yang memberi kuliah pagi itu adalah seorang ustadz yang cukup terkenal. Maka para mahasiswa pun berisik. Beberapa orang tampak maju agar bisa melihat dan mendengar dengan jelas.

Selanjutnya seorang mahasiswi yang sudah ditunjuk sebagai pembaca al-Qur’an maju untuk mengawali kuliah dhuha pada pagi itu.

Surat yang dibacanya adalah surat Adh-Dhuha. Surat yang cukup pendek, tetapi mungkin mempunyai keterkaitan erat dengan acara mereka pada pagi itu.

Makhraj dan tajwidnya cukup bagus, suaranya-pun merdu, meskipun tidak terlalu istimewa. Setelah selesai membaca, ia juga membacakan terjemahannya, agar audiens mengerti maksud dari surat yang dibacanya.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

dan demi malam apabila telah sunyi,

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.

Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

  1. Adh-Dhuha (93): 1 -11

 

Memperhatikan mahasiswi yang sedang membaca al-Qur’an itu. Seperti otomatis saja, ingatan Abdi langsung tertuju pada Nisa. Sebab saat-saat seperti inilah yang membuat Abdi bertemu dan berkenalan dengan Nisa. Maka kembali Abdi mengenang saat yang sangat indah itu. Di mana bersamaan dengan terdengarnya ayat al-Qur’an surat Lukman, saat itu Abdi bertemu dengan Nisa dalam pandangan pertamanya yang membuat jantungnya berdebar.

Abdi tersenyum bahagia mengenang saat itu. Meskipun kini Nisa tidak ada di sampingnya, tetapi Abdi sudah sedikit tenang sebab Nisa menurut Rido ternyata bukan calon istrinya. Bahkan menurut Rido justru Nisa yang juga Ama itu ingin sekali bisa bertemu dengannya….Ah, alangkah bahagianya jika ia bisa bertemu lagi dengan Nisa dalam keadaan yang lebih baik.

Lamunan Abdi terhenti seketika, karena Ustadz Haji Sukri sudah dipersilahkan oleh pembawa acara untuk memberikan ceramahnya. Maka Abdi pun kembali memperhatikan ke arah mimbar yang ada di depannya itu.

Assalaamu’alaikum, Warahmatullaahi Wabarakaatuh…

Kata Ustadz Haji Sukri mengucap salam kepada hadirin semua.

Wa ‘alaikum salaam, Warahmatullaahi Wabarakaatuh…” jawab hadirin

Selanjutnya Haji Sukri memberikan ceramahnya dengan gayanya yang khas. Kadang santai, kadang serius, kadang memberikan joke-joke yang segar. Sehingga para mahasiswa sangat senang dibuatnya.

Mereka meskipun jumlahnya sangat banyak, tetapi bisa konsentrasi mengikuti seluruh apa yang disampaikan Haji Sukri. Sang Ustadz mengupas surat Adh-Dhuha yang tadi telah dibaca oleh pembaca al-Qur’an sebelumnya. Menarik sekali apa yang disampaikannya. sehingga Ira yang tidak biasa mengikuti acara pengajian menjadi tertarik pula.

Setelah selesai menyampaikan materinya, sang Ustadz memberi kesempatan kepada para mahasiswa yang ingin bertanya.

Setelah pembawa acara menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan, ada beberapa orang yang angkat tangan untuk bertanya. Dari sekian pertanyaan yang muncul itu ada satu pertanyaan yang menarik hati Abdi. Maka Abdi pun berkonsentrasi ingin mendengar jawaban dari sang Ustadz yang dikaguminya itu.

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 36)

BULIR-BULIR KASIH (35)