Pak Barta adalah orang yang sukses dalam kehidupan materi, maka yang dicarinya sekarang bukan sekedar materi lagi, tetapi Pak Barta ingin sekali mencari rasa bahagia yang hakiki. Ia mulai menfokuskan dirinya dalam kehidupan yang lebih dalam dari sekedar materi. Ia ingin mendalami kehidupan yang sebenarnya. Apalagi setelah ia tersadarkan oleh kata-kata Abdi ketika di dalam mobil. Pak Barta kini merasa bahwa ia bukanlah seorang yang kaya. Ia kebetulan HANYA punya materi saja, tetapi ia tidak punya KEKAYAAN HATI seperti yang dikatakan Abdi.

Setelah hari sudah beranjak sore, Pak Barta dan Bu Barta mohon pamit kepada Keluarga Pak Sofyan. Karena besok pagi mereka bertiga termasuk Ira, akan kembali pulang ke Jakarta, setelah malam itu mereka menginap di kota Malang.

“Pak Sofyan, Bu Sofyan,…terima kasih banyak atas segalanya…kami sangat senang bisa bertamu di rumah ini…semoga bapak dan ibu tidak bosan menerima kedatangan kami. Kami mohon diri karena besok pagi harus kembali ke Jakarta lagi.” Kata Ayah Ira mewakili keluarganya.

“Aduuh, justru kami-lah yang sangat berterima kasih Pak. Bapak dan ibu datang jauh-jauh dari Jakarta, bahkan dengan rela hati menyempatkan diri untuk mengantarkan Abdi sampai ke rumah ini. Sungguh kami mohon maaf kalau kami tidak bisa menyambut kedatangan keluarga bapak dengan lebih baik…ya inilah kehidupan kami Pak…” jawab Pak Sofyan.

“Sama-sama Pak, Bu,…kami langsung aja.., soalnya kami juga mau mengantarkan Syarif yang juga kebetulan satu kota dengan Abdi.”

Assalamu’alaikum…” kata Pak Barta.

Wa ‘alaikum salaam…Warahmatullaah…”

Jawab keluarga Pak Sofyan serempak.

“Di, jaga baik-baik ya kesehatanmu…kalau bisa, orangtuamu jangan sampai mengetahui kalau kamu barusan sakit.” Bisik Ira kepada Abdi.

“Sampai ketemu di semester depan ya, soalnya besok pagi aku ikut pulang bersama orangtuaku.”

“Iya, Ir…insya Allah.  Makasih banyak ya…” jawab Abdi pula.

“Di, sampai jumpa ya,…” kata Syarif sambil berjalan menuju mobil Ira.

“Makasih banyak Rif…” kata Abdi pula.

Maka mobil sport warna merah itu pun bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Abdi untuk menuju kota Malang, setelah terlebih dahulu mereka mengantarkan Syarif yang rumahnya berada agak di tengah kota.

Abdi betul-betul merasa bahagia hatinya, ia tidak tahu mengapa begitu masuk kampung halamannya, ia serasa mendapat kekuatan baru. Sehingga badannya yang masih lemas akibat sakitnya tersebut seolah tidak berpengaruh lagi. Abdi nampak lebih segar, dan nampak lebih bersemangat. Raut wajahnya selalu  berseri.

“Di, kamu kok kelihatannya pucat dan agak kurus, tetapi wajahmu kelihatan gembira sekali ada apa sih Di…” kata Bu Sofyan sambil memandang wajah Abdi. Ibu Abdi merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi pada diri Abdi. Sebab wajah Abdi kelihatan pucat, tidak seperti biasanya. Tetapi wajah yang pucat itu seolah tertutup oleh hatinya yang nampak gembira. Ibu Abdi hanya berfikir jangan-jangan Abdi ini suka dengan Ira. Gadis manis putri Pak Barta yang baru saja mengantar mereka pulang itu. Kalau toh Abdi suka dengan Ira, maka sebagai orangtua, aku pun akan ikut senang, sebab Ira sendiri kelihatan begitu akrab dengan Abdi. Bahkan orang tua Ira begitu perhatian sekali pada Abdi. Apakah mereka memang sudah saling menyukai? Pikirnya. Dan sekarang ini Abdi kelihatan gembira sekali. Apakah kegembiraan Abdi ini ada hubungannya dengan Ira? Pikirnya pula.

Ah, kenapa aku berpikir yang bukan-bukan? Kata Ibu Abdi lagi. Sangat tidak mungkinlah, jika mereka sampai menjurus ke arah hubungan yang lebih jauh. Paling-paling mereka berhubungan sekedar sebagai teman yang baik saja. Apalagi mereka orang-orang kaya, sementara Abdi hanyalah seorang anak desa….pikir Bu Sofyan.

Kelihatan Bu Sofyan menghela nafas panjang sambil menggandeng tangan Abdi untuk di ajaknya masuk ke dalam rumah.

Setelah duduk di dalam, Abdi baru menjawab:

”Iya Bu, saya barusan sakit makanya agak kurus, tetapi sekarang sudah sehat kok, hehehe.. Mungkin kecapekan aja.” Kata Abdi singkat.

“Makanya jangan terlalu capek toh, Di…”

Kata Ibu Abdi sambil memegang kepala Abdi, sebagai tanda kasih sayangnya.

Ibu Abdi tidak mengetahui kalau akibat sakitnya itu, Abdi sampai harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Bu Sofyan hanya mengira Abdi sakit biasa saja. Abdi pun hanya meng-iyakan saja mendengar ibunya berkata demikian itu. Ia tidak akan memberi tahu ibunya tentang sakitnya. Abdi khawatir nanti Ibu dan Ayahnya akan terbebani pikiran jika mereka mengerti keadaan yang sesungguhnya. Apalagi biaya pengobatannya ditanggung oleh orangtua Ira.

“Di, kok malah melamun…barusan wajahmu gembira. Sekarang kok kelihatan sedih, ada apa sih Di..” kata Bu Sofyan yang cukup mengejutkan Abdi.

“Ndak Bu, saya sangat senang dan gembira kok.”

“Oh iya, aku sampai lupa. Mana adik-adik Bu, kok tidak kelihatan?” tanya Abdi

“Mereka kan sekolah sore. Sebelum maghrib ini insya Allah sudah datang.”

“Bu,…” tiba-tiba Abdi berkata pada Ibunya dengan nada sedikit serius.

“Apa Di,..?”

“Ibu masih ingat, teman kecilku dulu itu?”

“Siapa toh Di?”

“Itu, teman mengajiku. Anaknya pak Ahmad yang sudah meninggal, yang rumahnya di dekat masjid itu lho, Bu…”

“Oh…si Ama, maksudmu? Yang Ibu dan Ayahnya sudah meninggal itu? ”

“Iya, iya…namanya Ama.”

“Kenapa Di?”

“Ndak apa-apa, aku hanya ingat saja ketika tadi melintasi rumahnya.” Kata Abdi seolah-olah tidak ada maksud apa-apa.

“Dia kan sudah lama tidak berada di kampung ini Di.”

“Kamu juga masih ingat kan, sebab sejak Ayah dan Ibunya tidak ada, Ama di ajak oleh pamannya ke Surabaya, untuk disekolahkan di sana. Ama itu anak yang baik sekali, kasihan dia. Masih kecil sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Apalagi ia adalah anak satu-satunya pak Ahmad. “Ya Allah mudah-mudahan ia kelak akan menjadi orang yang sukses dan bahagia…”

“Amien..,” Diam-diam Abdi meng-amini dengan penuh harap, do’a yang disampaikan oleh ibunya tersebut.

Abdi memang lupa kalau Ama ternyata tinggal di Surabaya. Yang ia tahu Ama hanya diajak pamannya keluar dari kota Bangil.

Mendengar penjelasan ibunya ini, Abdi bertambah yakin bahwa memang Nisa yang dirindukannya itu ternyata adalah Ama… Wajah Abdi kembali berseri.

“Ama…, kapan kita akan bertemu kembali?” gumamnya.

Abdi bertambah yakin bahwa mereka akan bisa bertemu lagi, apalagi setelah ia  membaca suratnya Rido. Diam-diam Abdi sangat kagum kepada Rido. Rido adalah seorang pemuda yang baik hati. Dan sangat bijaksana. Pantas saja Nisa atau Ama mau memerankan dirinya sebagai calon istri Rido, padahal hal itu sangat menyakitkan hatinya. Tetapi karena Rido ternyata orangnya baik, maka Nisa dengan ikhlas mau melaksanakannya.

Tiba-tiba Abdi berpikir, tetapi apakah Nisa atau Ama sudah mengetahui  bahwa dirinya sekarang mengerti rahasia hubungan Nisa dan Rido?

Ah, biarlah…kata Abdi lagi. yang penting sekarang aku sudah bisa mengambil sikap yang tepat. Nanti setelah aku kembali ke Malang, aku akan mencoba menghubungi Mas Rido.

“Bu, Abdi istirahat dulu ya…” kata Abdi kepada ibunya.

“Oh, iya, iya Di…, nanti setelah maghrib aja kita ngobrol lagi, sambil menunggu adik-adikmu datang…” sahut ibunya.

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 35)

BULIR-BULIR KASIH (34)