Tiba-tiba suara Ira memecah kesunyian.

“Di,..itu tanaman apa?”

“Yang mana?”

“Itu, yang di tengah sawah itu, yang berwarna putih, seperti bunga tapi juga seperti kapas…” kata Ira.

“Oh, itu…” kata Abdi tersenyum

“Itu adalah tanaman khas daerah sini Ir. Itu adalah Bunga Sedap Malam..”

“Bunga Sedap Malam? Oh begitukah tanamannya?”

“Berarti di daerah ini kalau malam berbau harum?” kata Ira

“Iya. Ir. Harum sekali…” jawab Abdi.

“Ah, sungguh mengagumkan”

“Apanya yang mengagumkan?” Tanya Abdi

“Ah, Ndak usahlah, aku hanya tertarik saja dengan lingkungan daerah ini.” Jawab Ira.

“..di depan itu sudah masuk wilayah desaku Ir, Kecamatan Rembang. Nanti ada pertigaan terus kita belok yang ke arah kanan.” Kata Abdi yang duduk di sebelah Ira, sambil memberi tanda kepada Ira untuk belok ke arah rumah yang di tuju.

Tidak berapa lama kemudian mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman sebuah yang tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih dan rapi. Rumah itu temboknya bercat putih seperti kebanyakan rumah yang ada di desa itu. Halamannya cukup bersih meskipun banyak tumbuhan di dalamnya. Di depan rumah itu ada dua buah pohon mangga yang sudah berbuah, dan nampak buahnya yang sangat lebat. Di samping rumah sebelah kiri ada beberapa pohon pisang, dan juga beberapa tumbuhan lainnya.

Ira mengemudikan mobilnya masuk ke halaman rumah itu dengan perlahan, kemudian ia menghentikan mobilnya di sebelah kanan rumah yang di situ ada sedikit tanah kosong.

Tampak seorang lelaki setengah baya keluar dari dalam rumah itu diikuti oleh seorang perempuan yang berpakaian seperti layaknya perempuan desa pada umumnya. Wajahnya masih nampak cantik, meskipun sudah ada sedikit guratan-guratan di mukanya. Mereka berdua berdiri di serambi rumah itu sambil menunjukkan raut muka yang agak heran dengan adanya mobil merah yang sudah ada di halaman rumah mereka. Ketika Abdi keluar dari dalam mobil, barulah kedua orang itu yang ternyata adalah orangtua Abdi menyambut gembira atas kedatangan Abdi.

“Abdi?!” Tanya kedua orang tua tersebut hampir berbarengan.

Assalamu’alaikum…Bu, Pak…”

Kata Abdi sambil mendatangi mereka dan mencium tangan Ibu dan Bapaknya secara bergantian.

Ibunya merangkul Abdi dengan penuh rasa kangen, demikian juga Ayahnya. Setelah itu Abdi kembali lagi ke mobil, menyilahkan Ira, orangtua Ira serta Syarif untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Ir, Pak Barta, Bu Barta…ini orangtua saya, …”

Kata Abdi kepada Ira dan orang tuanya.

Assalamu’laikum, saya Ira teman Abdi kuliah Bu, Pak…”

Kata Ira sambil menyalami kedua orangtua Abdi.

“Saya Barta, Ayah Ira, ini Ibu Ira…”

Kata pak Barta.

“Saya Sofyan Bapak Abdi, dan ini ibunya…”

Kata pula Ayah Abdi yang ternyata bernama Sofyan.

”Ayo, ayo kita masuk…” lanjut Pak Sofyan sambil menyilahkan pada para tamunya itu untuk memasuki rumahnya.

“OH, itu Syarif rupanya,…ayo, ayo Rif, masuk ke dalam…” Lanjutnya lagi begitu melihat dari dalam mobil masih ada seorang pemuda sebaya Abdi yang baru keluar dan menutup pintu mobil.

 

Selanjutnya mereka duduk-duduk di ruang tamu rumah itu. Cukup luas, meskipun sangat sederhana ruangan itu. Tak ada hiasan dan aksesoris apa-apa di dinding rumah itu, kecuali satu kaligrafi ayat al-Qur’an yang digantung di tembok di atas pintu yang menghubungan ruang tamu dengan ruang keluarga.

Meskipun hari itu sekitar jam satu siang, tetapi udara tidak begitu panas sebab banyak tumbuhan di sekitar rumah itu, dan kebetulan pula ada angin yang berhembus  masuk menerpa mereka. Sehingga cukup sejuk suasana siang itu.

“Abdi, kok baru datang hari ini, katanya bulan ini lagi liburan.” Kata ayah Abdi membuka pembicaraan.

“Iya, Di…kami sangat gelisah dan khawatir lho…soalnya kamu tidak memberi kabar…” kata Ibu Abdi nyambung omongan ayahnya.

Abdi dan Ira saling pandang mendengar perkataan Ayah dan Ibu Abdi. Sebab orangtua Abdi tidak tahu kalau Abdi barusan sakit sampai menjalani rawat inap selama dua minggu.

Abdi sangat bingung. Akan memberi tahu kondisi sesungguhnya, ia pasti salah. Kalau berbohong juga bukan kebiasaan Abdi. Abdi terdiam belum tahu harus menjawab apa.

Ira yang mengetahui situasi, langsung ia yang menjawabnya.

“Iya Bu, Pak…., Abdi dan saya dan juga Syarif akhir-akhir ini memang lagi banyak urusan, sehingga Abdi tidak bisa pulang tepat waktu. Baru hari ini urusan itu selesai, dan kebetulan Papa dan Mama juga lagi datang dari Jakarta, maka langsung saja kami mengantar Abdi dan Syarif pulang. Sekalian Papa dan Mama pingin jalan-jalan ke kota ini…” Kata Ira.

“Oh, begitu,…syukurlah…, kami takut aja kalau ada yang sakit…” kata Ayah Abdi, yang membuat Ira dan Syarif kembali saling pandang. Untuk mengalihkan pembicaraan, Ira berkata kepada Ibu Abdi:

”Bu kami lihat tadi di sepanjang jalan di kampung ini banyak sekali tanaman mangga, juga di halaman rumah ini. Memangnya di daerah ini tempatnya buah mangga…?”

“Iya. Kamu suka mangga Nak…?” tanya Ibu Abdi.

“Wah, kalau Ira jangan ditanya Bu, dia paling suka buah mangga…” kata Ayah Ira. Sambil tertawa lebar.

 

Suasana di ruang tamu itu menjadi terasa lebih santai dengan adanya canda-canda kecil, yang membuat mereka betul-betul gembira.

Meskipun baru kenal hari itu, Pak Barta dan Bu Barta semakin akrab saja dengan orangtua Abdi, yaitu Pak Sofyan dan Bu Sofyan.

Setelah masing-masing bercerita, orangtua Abdi semakin kagum kepada orang tua Ira. Meskipun mereka orang kaya tetapi terkesan tidak sombong, bahkan sangat perhatian kepada orang-orang desa, yang rata-rata hidup dalam kesederhanaan.

Siang itu mereka disediakan makan oleh Bu Sofyan dengan lauk pauk  ala kadarnya, Pak Barta dan Bu Barat sangat menikmati makanan mereka, sehingga Orangtua Abdi semakin bertambah senang bahkan kagum terhadap keluarga Pak Barta ini.

Pak Barta-pun sangat terkesan dengan perilaku Pak Sofyan sekeluarga yang sangat sederhana, apa adanya, jujur, dan mempunyai perhatian yang besar terhadap siapa saja. Satu hal yang membuat Pak Barta bertambah hormat kepada Pak Sofyan adalah kehidupan beragamanya. Mereka sekeluarga sangat patuh dan taat dalam menjalankan kewajibannya sebagai orang muslim.

Diam-diam Pak Barta berangan-angan, betapa sangat bahagianya ia, apabila anaknya Ira bertambah dekat dengan Abdi anak Pak Sofyan ini…

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 34)

 

BULIR-BULIR KASIH (33)