Mobil yang biasa dipakai Ira untuk pergi kuliah itu, kini melaju keluar kota yang dikemudikan sendiri oleh Ira. Duduk di jok depan di samping Ira, adalah Abdi yang meskipun sudah sehat tetapi badannya masih lemas. Sedangkan di jok belakang, adalah kedua orangtua Ira, dan juga Syarif.

Ketika, mobil mereka sudah memasuki areal kota Bangil, Abdi menjadi lebih semangat, seolah lupa kalau ia baru saja keluar dari rumah sakit.  Begitu memasuki daerah persawahan, maka ingatan Abdi kembali pada beberapa tahun silam ketika ia masih duduk di Sekolah Dasar. Dan Abdi pun kembali ingat kepada Nisa. Yang ternyata adalah Ama gadis yang sudah dikenalnya sejak mereka sama-sama masih kecil dahulu.

Wajah Abdi nampak tidak sepucat ketika di rumah sakit, bahkan kelihatan begitu riang melihat kampung halamannya.

Ketika mobil mereka melewati perkebunan dan beberapa petak sawah, nampak beberapa orang sedang makan siang di pematang sawah, sambil bercanda.

“Wah, nampaknya kamu begitu senang Di, melihat suasana desamu ini.” kata Ira sambil mengemudikan mobilnya.

“Iya Ir….aku seperti mendapat obat mujarab begitu melihat kampung halamanku ini…, lihatlah betapa indah dan tenteram kehidupan di desa ini…” kata Abdi.

 

Ketika mereka melintasi sebuah lapangan luas yang ditumbuhi rumput ilalang, tampak beberapa anak kecil bermain kejar-kejaran. Mereka begitu enaknya berlari-lari tanpa alas kaki, bahkan ada dua orang yang tanpa mengenakan baju. Canda tawa mereka begitu lepas sampai terdengar dari dalam mobil, yang saat itu berjarak sekitar lima puluh-an meter dari tempat mereka bermain.

Abdi tersenyum memandang anak-anak kecil itu. Karena ia teringat pada dirinya sendiri, yang waktu itu juga demikian.

Ira tiba-tiba berkata seperti pada dirinya sendiri:

”Ah, kenapa mereka mau seperti itu ya…, bermain tanpa baju, berlari tanpa alas kaki…kalau sakit bagaimana nanti…,kan jauh dari dokter di daerah ini…kalau sampai sakit kan kasihan orangtuanya…”

Abdi tersenyum mendengar perkataan Ira tersebut.

“Ir, mereka itu anak-anak KAYA, dan mereka adalah anak-anak yang BAHAGIA. Mereka tidak pernah takut sakit seperti kita…” jawab Abdi menimpali kata-kata Ira.

“Mereka anak-anak kaya?…” kata Ira heran.

Abdi kembali tersenyum sambil menjawab : ”Iya Ir….” Lanjut Abdi.

 

“Orang-orang kota kalau berjalan, mereka sering memakai payung supaya tidak kepanasan dan kehujanan, sementara anak-anak itu justru membuka baju untuk MENIKMATI hangatnya matahari dan segarnya air hujan.”

“Orang-orang kota kalau berjalan selalu memakai alas kaki karena takut kakinya kotor dan terasa sakit kalau kena duri, sementara anak-anak itu alas kaki mereka adalah TELAPAK KAKINYA yang tidak pernah rusak, tidak pernah aus akibat hujan dan panas…”

“Orang-orang kota, kalau ingin menikmati keindahan alam, ia harus punya lukisan yang bagus, yang mungkin sangat mahal harganya, sementara anak-anak itu setiap hari menikmati indahnya LUKISAN Tuhan yang selalu berubah dan selalu INDAH MENAWAN, dan yang tidak akan bisa terbeli oleh jutawan sekali pun  karena harganya tak terhingga mahalnya…”

“Orang-orang kota kalau berolah raga selalu memilih lapangan yang bagus, bahkan kadang berada di dalam gedung megah dengan dinding yang mewah, sementara anak-anak itu tempat olah raganya di tanah lapang luas tak terbatas, DINDINGnya adalah ANGIN yang menyehatkan, dan ATAPnya adalah LANGIT yang menyejukkan…Kepuasan mereka terhadap apa yang mereka miliki adalah KEKAYAAN yang TAK ADA HABIS-HABISNYA. Mereka jauh lebih kaya dari para pengusaha yang ada di kota…Mereka punya segalanya Ir. Mereka TAK PERNAH MEMBELI…”

 

Ira, berkaca-kaca mendengar penjelasan Abdi tentang anak-anak desa itu.:” Oh, begitukah…? Katanya dalam hati, alangkah indahnya…kehidupan mereka…Ira baru paham dengan apa yang dimaksud oleh Abdi bahwa mereka adalah anak-anak yang kaya, yang sekaligus juga anak-anak yang bahagia.

Ira yang sedari kecil, berada dalam kehidupan kota, tidak pernah menyangka kalau ada sisi kehidupan lain yang begitu indah seperti yang dijelaskan Abdi barusan. Sungguh ia bertambah kagum kepada Abdi yang begitu dalam memilki pemahaman tentang kehidupan.

Demikian pula Ayah dan Ibu Ira yang diam-diam memperhatikan pembicaraan Abdi dan Ira, ikut menjadi kagum mendengarnya.

 

Pak Barta seperti disadarkan oleh kalimat Abdi tadi.

Beberapa saat kelihatan ia merenung…

Pak Barta menjadi semakin paham, betapa yang disebut dengan kaya adalah BUKAN mereka yang banyak HARTA, bukan pula mereka yang memiliki gedung megah. Orang yang kaya adalah mereka yang hatinya bebas tak kurang suatu apa. Orang yang kaya adalah mereka yang BISA MENIKMATI apa saja yang dimilikinya, bukan yang iri dan selalu dengki pada kepemilikan orang lain. Orang yang kaya adalah orang yang mampu melihat keindahan ciptaan Tuhan secara menyeluruh, bukan yang terkungkung dalam kehidupan material yang semu dan sering menipu…

 

Berulang kali pak Barta berdecak kagum atas penjelasan Abdi. Diam-diam, dalam hati berjanji. Ia akan berusaha meningkatkan kehidupan spiritualnya lebih dalam lagi. Ia menyadari bahwa selama ini meskipun ia cukup peduli kepada manusia lain dalam segi sosial, tetapi dalam arah vertikal ia belum melakukan apa-apa. Dalam hati Pak Barta mengakui bahwa ia belum melakukan kewajibannya sebagai orang yang mengaku beragama islam. Shalatnya masih belum lengkap lima waktu, bahkan kadang-kadang kalau ia lagi sibuk tidak pernah sama sekali ia melakukannya. Sehari-hari yang selalu ia urusi adalah  pekerjaannya yang tak akan ada habisnya. Bahkan dengan kekayaannya yang melimpah itu, tidak pernah terpikir oleh Pak Barta untuk pergi ke tanah suci melaksanakan ibadah haji. Padahal ia beragama Islam. Padahal ia mampu. Ketika banyak teman-temannya yang sudah beberapa kali melaksanakan ibadah haji, tak sedikitpun hati Pak Barta tersentuh untuk melakukannya.

Pak Barta merenung panjang tentang kesalahan-kesalahannya yang sering ia lakukan. Dalam perjalanan itu, pak Barta betul-betul seperti diingatkan oleh Abdi atas kekeliruannya selama ini. Tidak terasa di bola matanya ada setitik air yang hampir jatuh, meskipun sempat ditahannya.

Terima kasih Nak…, kata-katamu barusan sungguh telah mengingatkan aku. Aku baru sadar akan kekeliruanku selama ini dalam menyikapi kehidupan.

Terima kasih Nak Abdi…semoga engkau selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa…Kata Pak Barta dalam hati, yang semakin terkagum-kagum pada kepribadian Abdi.

Semua terdiam seketika. Sehingga di dalam mobil itu menjadi sunyi. Masing-masing melamun dengan pikirannya sendiri-sendiri…

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 33)

BULIR-BULIR KASIH (32)