Beberapa saat kemudian seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Abdi bisa menenangkan hati dan pikirannya lagi. Abdi sadar bahwa semua ini adalah suratan yang harus ia jalani. Ia tahu bahwa saat ini dirinya sedang berada di atas arus besar kehidupan yang sedang membawanya entah kemana.

Semuanya telah terjadi. Ia percaya bahwa apa saja yang telah terjadi, di situ selalu ada nilai yang tersembunyi.

Abdi adalah seorang yang beriman, yang kokoh dalam memegang amanah kehidupan. Karenanya dalam kondisi dan situasi semacam itu muncullah suara hati Abdi yang menyuruhnya untuk menerima apa adanya. Kalau Abdi ingin keluar dari perasaan yang menyakitkan ini, hanya ada satu jalan baginya. Yaitu berserah diri kepada Ilahi…sang Pengatur Kehidupan. Demikian hatinya berkata.

Akhirnya Abdi mampu mengambil nafas panjang, dan ia pun berhasil  menenangkan hatinya kembali.

Sambil memejamkan mata untuk berusaha tidur, Abdi terus berdzikir kepada Allah, mohon untuk diberi jalan keluar dari permasalahannya yang begitu rumit dan yang membuat dadanya menjadi sakit itu.

     “…Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaha illallaahu allaahu akbar….”

 

‘KAMPUNG HALAMAN’

Sudah dua minggu Abdi berada di rumah sakit. Pagi itu adalah hari Senin. Abdi sudah nampak lebih ceria dari hari-hari sebelumnya. Selama dua minggu itu pula Ira dan Syarif tetap dengan setia melayani keperluan Abdi sehari-hari.

“Bagaimana Di, badanmu? Apa lebih enak di banding hari-hari sebelumnya? “ tanya Ira.

Alhamdulillaah Ir, aku merasa lebih sehat. Bagaimana kata dokter yang memeriksaku?” kata Abdi lagi

“Iya. Katanya kamu sudah boleh pulang kok. Kan infusnya sudah di lepas dua hari yang lalu…” balas Ira sambil tersenyum manis.

“…mudah-mudahan Mama dan Papaku pagi ini bisa datang, sehingga kita bisa mengurus segala sesuatunya, yang berkenaan dengan administrasi rumah sakit…” kata Ira lagi..

Abdi hanya tertunduk sambil berkata ”… makasih ya Ir, atas segalanya yang telah engkau berikan padaku ini…orangtuamu begitu baik Ir….” Kata Abdi lagi.

“Udahlah Di, nggak perlu dipikirin,…yang penting kamu bisa sehat kembali…” sambung Ira.

“Tetapi Ir, aku dirawat di sini selama dua minggu, tentu sangat banyak biaya yang dikeluarkan oleh orangtuamu…”

“Ah, udahlah…kamu nggak tahu Di. Orang tuaku memang sangat senang menolong orang lain. Sejak aku kecil dulu, kalau ada rezeki ayahku selalu  suka memberi kepada siapa saja….apalagi kamu adalah temanku. Dan ayahku pernah kenal kamu walaupun hanya sebentar ketika kamu dahulu bermalam di  rumahku…”  kata Ira.

“Sungguh baik sekali orangtuamu Ir…aku tak tahu bagaimana sikapku kalau ketemu dengan orangtuamu nanti…” kata Abdi.

Percakapan mereka terhenti seketika karena dari luar pintu kamar terdengar suara langkah kaki yang rupanya menuju kamar Abdi.

Assalamu’alaikum…”

Wa’alaikum salaam…” Jawab Ira setengah berteriak gembira.

“Papa, ya…” sambung Ira lagi.

Ira bergegas membuka pintu. Betul saja di depan pintu telah bediri pak Barta dan bu Barta. Ayah dan ibu Ira.

Langsung saja Ira merangkul Ayah dan Ibunya dengan begitu gembiranya.

“Wah, Papa, Mama, panjang umur nih..!” kata Ira sambil tertawa lebar.

“Ada apa Ir, koq tiba-tiba kamu mengatakan gitu?”

“Ini Pap, Mam, baru saja kami membicarakan Papa dan Mama, ee, tiba-tiba Papa dan Mama udah berada di depan pintu kamar…kan panjang umur kata orang-orang tua dulu…he he he…”

“Ah, ada-ada saja kamu ini…” sambung ibu Ira juga ikut tertawa.

Ira mempersilahkan Ayah Ibunya untuk duduk di kursi dekat ranjang Abdi. Kelihatan Abdi sudah bisa duduk di atas ranjangnya. Memang sudah dua hari ini Abdi tidak lagi berbaring seperti beberapa waktu yang lalu. Ia sudah bertambah sehat. Abdi sudah sering duduk-duduk di ranjang, juga di kursi, bahkan pagi-pagi ia sudah berjalan-jalan keluar kamar untuk menghirup udara segar.

“Bagaimana Di, kamu hari ini sudah merasa lebih baik?” tanya pak Barta

“Ee, sudah Pak, terima kasih…terima kasih Pak…” jawab Abdi bingung, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan orangtua Ira yang sudah cukup banyak membiayai dirinya itu.

Kelihatannya Ayah Ira mengerti apa yang ada dalam pikiran Abdi. Pak Barta hanya tertawa sambil mengalihkan pembicaraannya.

“Terus bagaimana rencana selanjutnya?” kata Pak Barta

“Ir, ini kan lagi liburan semester, jika Nak Abdi punya rencana pulang ke kotanya, aku pikir sekalian aja kita antar sampai rumahnya, supaya Nak Abdi bisa istirahat lebih enak. “ kata bu Barta menimpali kata-kata pak Barta.

“Oh, iya Mam, benar !” kata Ira.

“Di, benar kata Mamaku. Bagaimana kalau hari ini juga, setelah kita keluar dari rumah sakit ini, sekalian aja kami mengantar kamu pulang ke kotamu. Mumpung ada Papa dan Mama…” kata Ira.

“Wah, apakah nggak merepotkan Ir,…aku jadi nggak enak …” jawab Abdi sambil agak berbisik, supaya tidak kedengaran orangtua Ira.

“Sudahlah…kamu nurut aja. Kamu kan masih belum sehat seratus persen, aku pikir lebih baik pulang, agar bisa lebih tenang karena dekat dengan keluarga. Toh, liburan kita masih cukup lama…, iya kan Di..” kata Ira lagi.

Abdi tidak bisa membantah lebih jauh, karena ia sendiri memang sudah sangat kangen dengan Ayah Bundanya dan juga Adik-adiknya.

 

Syarif yang sejak tadi diam saja sambil duduk di kursi yang tempatnya agak menyudut, bertambah tidak senang hatinya. Ia melihat betapa perhatian orang tua Ira kepada Abdi begitu tingginya, sampai-sampai Ibu dan Ayah Ira yang baru datang dari Jakarta itu bersedia mau mengantarkan Abdi pulang ke kampung halamannya, yang jaraknya dari kota Malang cukup jauh…sekitar satu setengah jam perjalanan. Betapa jengkelnya hati Syarif. Ingin rasanya ia secepatnya memberi tahu Ira, bahwa Abdi sebenarnya tidak suka kepada Ira. Tetapi keinginan itu terus ditahannya, karena waktunya ia rasa belum tepat.

Maka mendengar berbagai pembicaraan yang mengistimewakan Abdi tersebut, Syarif tidak komentar apa-apa, kecuali diam saja.

“Oke-lah Pap kalau begitu, langsung aja kita berkemas untuk keluar dari rumah sakit ini, kemudian kita sekalian saja mengantar Abdi dan juga Syarif. Karena mereka berdua bertempat tinggal di kota yang sama, meskipun tidak sekampung…” kata Ira kepada ayahnya.

 

Setelah semua urusan administrasi telah diselesaikan oleh ayah Ira,  maka Abdi beserta rombongannya meninggalkan kamar yang sudah dihuninya selama dua mingu itu. Ira kelihatan sangat bahagia sekali, karena ia bisa merawat Abdi selama dua minggu di rumah sakit itu, bahkan orangtuanya-lah yang membiayai perawatannya. Dengan dirawatnya Abdi di rumah sakit itu, menjadikan Ira semakin dekat dan semakin sayang kepada Abdi. Demikian juga orangtua Ira. Mereka nampak senang sekali. Mereka ingin sekali berkenalan dengan orangtua Abdi. Karena itu sungguh sangat kebetulan jika hari itu Abdi sudah diperbolehkan pulang, sehingga mereka ada alasan untuk berkunjung ke rumah Abdi yang katanya di pinggiran kota Bangil itu.

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 32)

BULIR-BULIR KASIH (31)