Malam itu, Abdi mengambil amplop yang berada di saku celananya, yang tadi siang ia terima dari Rido. Ia berani mengambil amplop tersebut setelah ia bisa memastikan bahwa Syarif dan Ira sudah keluar dari rumah sakit untuk pulang mengambil pakaian buat ganti dirinya.
Dibukanya oleh Abdi amplop itu dengan penuh hati-hati, di robeknya pinggir amplop tipis itu dengan rapi. Setelah terbuka, ia keluarkan isinya, ternyata betul dugaan Abdi semula, bahwa di dalam amplop tersebut memang berisi selembar kertas, semacam surat dengan tulisan tangan yang cukup jelas, meskipun tidak begitu bagus. Dibukanya lipatan kertas tersebut dengan hati agak bergetar, karena ia belum bisa menebak tulisan siapa, dan apa isi surat itu.
Abdi meninggikan letak bantalnya, agar ia bisa membaca dengan enak dan jelas. Setelah posisinya nyaman, Abdi mulai membaca satu-satu tulisan itu. Kata demi kata, kalimat demi kalimat ia baca semuanya dengan seksama dan dengan jantung yang semakin berdebar.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang aku hormati dan yang aku sayangi,
Adikku Abdi.

Mungkin kamu terkejut membaca isi surat ini. Surat ini aku tulis dan sudah aku siapkan sebelumnya di rumah, sebelum kami berangkat ke Malang ini. Aku memutuskan untuk menulis surat ini setelah aku berkali-kali memperhatikan sikapmu dan juga sikap dik Nisa ketika kalian bertemu, khususnya ketika kalian di Jakarta dulu itu. Aku menulis surat ini dik Nisa juga tidak mengetahuinya.

Yang perlu dik Abdi ketahui adalah bahwa dik Nisa adalah orang yang sangat baik. Sulit mencari gadis seusia dia yang mempunyai pribadi mengagumkan semacam itu. Bahkan aku sendiri belajar tentang kehidupan dari perilakunya dia sehari-hari yang sangat menawan hati. Aku sekampung dengan dik Nisa. Semua orang kampung menaruh hormat padanya, bahkan anak kecilpun mengetahui kebaikkan hatinya. Aku sangat sayang kepada dik Nisa, sehingga aku anggap dia sebagai adik kandungku sendiri. Demikian pula dik Nisa, ia menganggapku sebagai kakaknya. Dik Nisa tidak mempunyai kakak, ia ikut bibinya yang tinggal di dekat rumah kami. Sementara aku adalah anak tunggal yang tidak punya siapa-siapa kecuali ayah dan ibuku saja. Maka kami menjadi begitu saling menyayangi bagai dua orang kakak beradik yang sudah lama tidak pernah bertemu.

Perlu dik Abdi ketahui, bahwa aku berkenalan dengan dik Nisa, asalnya karena ibuku yang menyuruhku untuk mendekat kepada dik Nisa, karena memang dia mempunyai pribadi yang sangat mulia. Semua orang kagum padanya, tidak terkecuali ibuku. Setelah aku bertemu dengannya, kami sangat cocok dalam arti kami sepakat ingin berdekatan terus sebagai layaknya saudara kandung. Tetapi aku tidak tega kalau dalam waktu dekat ini, memberi tahu ibu kalau sebenarnya kami berhubungan tidak seperti yang dimaksudkan oleh ibuku. Ibuku cepat-cepat ingin meminang Nisa. Beliau ingin melihat kami berdua sebagai suami istri. Karena aku tidak tega terhadap ibu itulah, maka ketika kami ke jakarta dan bertemu denganmu, engkau menyaksikan sendiri, betapa ibuku dengan bangga mengenalkan Nisa sebagai calon menantunya.

Dik Abdi, betapa sakit hati dik Nisa waktu itu. Ia diakui dan dikenalkan oleh ibuku sebagai calon menantunya, padahal saat itu ada kamu, seseorang yang selalu ditunggu-tunggunya..
Mengertikah engkau bahwa setiap dik Nisa bertemu denganmu ia selalu merasa bersalah? Karena ia berperan sebagai calon istriku? Mengapa ia mau berperan sebagai calon istriku, padahal sebenarnya itu sangat menyakitkan hatinya? Karena ia tidak mau menyakiti hati ibuku. Orang yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya. Ia lakukan itu semua hanya untuk memenuhi permintaanku saja. Ah, sungguh kasihan dia…

Aku tidak mengerti bagaimana perasaan dik Abdi ketika membaca suratku ini. Yang aku ketahui dan bisa aku rasakan, meskipun belum tentu benar seluruhnya, bahwa dik Nisa sangat berharap bisa bertemu denganmu… Aku tidak tahu siapa sebenarnya dik Nisa itu, karena ia baru enam tahun berada di kampung kami. Yang aku ketahui ia adalah gadis di dekat rumah kami yang baik hati, yang selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkannya..
Sekali lagi bahwa dik Nisa tidak mengetahui tentang surat ini …
Sekian dulu

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rido

Untuk kedua kalinya, kepala Abdi terasa pecah. Kalau menuruti nafsu hati, ingin rasanya ia menangis atau bahkan menjerit sepuasnya….tetapi ia tahan semua itu..
Untuk beberapa saat lamanya, Abdi membiarkan air matanya meleleh di pipinya. Ia hanya bisa memejamkan mata saja, sambil membayangkan wajah Nisa.., sosok gadis baik hati yang ia sangka telah menjadi tunangan Rido itu.
Ternyata menurut Rido, Nisa masih memikirkan dirinya, benarkah?
..Ya Allaah…kembali Abdi merintih perlahan sambil menutupi mukanya dengan bantal yang ada di sisinya.

Hari itu, betul-betul Abdi terpukul. Setelah ia melihat kenyataan bahwa Nisa adalah Ama, sungguh ini sesuatu yang membuat dadanya seperti tertindih beban yang sangat berat. Sekarang pukulan itu seolah bertambah bertubi-tubi menghunjam jantungnya. Sebab selama ini ia salah sangka.
Nisa yang baik hati, Nisa yang selalu memikirkan dirinya, yang ia kira sudah menjadi calon istri Rido itu, tadi siang dengan sengaja ia sakiti hatinya dengan cara memuji kebaikan hati Ira di hadapan Nisa….
ya Allaah, astaghfirullaah…berulang kali Abdi berbisik mohon ampunan.
Isi surat itu betul-betul membuat luka yang dalam pada diri Abdi. Ia seperti lumpuh. Kakinya seolah tidak bisa digerakkan., tangannya seolah kaku tak mau menuruti kehendak hatinya…mulutnya serasa kesemutan…seluruh tubuhnya seolah ikut bersedih mengikuti hatinya yang sedang dirundung duka.

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 31)

BULIR-BULIR KASIH (30)