Apakah Nisa mengerti kalau aku sudah mengetahui nama lengkapnya? Ah, tentu tidak mungkinlah jawab Abdi sendiri.

Pikiran Abdi tidak karuan. Sampai agak lama ia tidak menjawab pertanyaan Nisa.

“Apakah Mas Abdi melihat dompet warna coklat tua..?” Nisa mengulangi pertanyaannya. Dengan nada yang semakin kelihatan bergetar.

“Ee,…kelihatannya di ruang ini tidak ada ….Dik…” Jawab Abdi, yang tiba-tiba saja membalas dengan sebutan Dik kepada Nisa.

Nisa juga nampak sangat terkejut dengan jawaban Abdi barusan. Karena Abdi membalas dengan panggilan ‘Dik’ disertai dengan nada yang bagi telinga Nisa begitu indahnya.

Alangkah senangnya aku, jika Mas Abdi memanggilku seperti itu…pikiran Nisa pun melayang atas panggilan yang membuat hatinya menjadi tentram itu.

“Baiklah Mas,..! Mungkin saja di kamar mandi, karena aku tadi  juga ke kamar mandi.” Kata Nisa yang sudah bisa berbicara agak lancar dengan Abdi.

Selesai mengucapkan kata tersebut, Nisa bergegas menuju ke kamar mandi.”

Alhamdulillaah…ternyata ada di kamar mandi..” Terdengar oleh Abdi suara Nisa  mengucapkan syukur.

Kemudian Nisa kembali masuk ke kamar Abdi.

“Mas,…alhamdulillaah, ternyata dompetku ada di kamar mandi.” Kata Nisa.

“Oh, iya? Alhamdulillaah tidak sampai hilang.” Jawab Abdi dengan perasaan yang masih tidak karuan rasanya.

Bertambah Abdi memandang wajah Nisa bertambah yakinlah Abdi, bahwa memang Nisa ini adalah Ama.

Alis itu begitu khas. Dan juga dagu itu begitu khas milik Ama. Ia masih ingat ! dan sangat ingat akan wajah gadis kecil itu. Karena setiap saat ia selalu mengenang peristiwa-peristiwa indah bersama Ama ketika kecilnya dahulu.

Ingin rasanya Abdi membongkar ‘rahasia kamar mandi’ yang telah ia ketahui itu kepada Nisa. Tetapi Abdi masih ragu-ragu. Apakah masih perlu ia memberi tahukan hal itu? Apakah masih perlu Nisa mengetahui bahwa dahulu mereka adalah sebagai teman akrab yang sering bertemu? Tetapi bukankah Nisa kini sudah milik Rido?

 

Ingin rasanya mulut Abdi berbicara untuk mengatakan bahwa ia telah mengetahui siapa Nisa sebenarnya.

Tetapi kembali ia ragu-ragu!

Akhirnya Abdi mengambil keputusan untuk mengatakannya. Baiklah, aku akan mengatakan ! katanya dalam hati.

Tetapi sebelum Abdi mengatakan maksudnya, tiba-tiba Nisa sudah mendahuluinya.

“Mas, kasihan Mas Rido menunggu di dalam mobil. Aku pamit dulu ya? Terima kasih dompetku sudah ketemu. Semoga Mas Abdi cepat sembuh…” Kata Nisa.

“Dik Nisa mau pulang?”

“Iya, soalnya takut kemalaman di jalan…” jawab Nisa

Abdi tidak bisa menjawab. Serasa putus harapan Abdi. Ternyata ia kedahuluan oleh Nisa yang mohon pamit lebih dahulu. Sungguh sangat menyesal Abdi.

Baru saja ia mempunyai kesempatan, dan bisa berbicara agak enak sedikit dengan Nisa, kini Nisa sudah mau pergi lagi. Padahal ia mau berbicara tentang sesuatu yang amat penting mumpung ada kesempatan emas. Ternyata ia  kedahuluan Nisa.

“Ee…iya, iya..Dik, semoga selamat dan lancar di jalan…” Jawab Abdi dengan perasaan bingung.

“Makasih Mas…”Jawab Nisa sambil memandang wajah Abdi yang kelihatan bengong itu.

Tampak sekilas oleh Nisa bahwa Abdi mau ngomong sesuatu.Tetapi ditahannya. Nisa tidak komentar apapun. Karena Nisa sendiri merasa tidak enak terlalu lama di kamar itu, sebab tidak ada orang lain. Padahal Nisa ingin sekali bisa berlama-lama berbicara dengan Abdi. Inilah kesempatan yang sangat sulit datangnya. Ia bisa berdua dengan Abdi saja. Ia bisa melepas kerinduan hatinya. Tetapi naluri kewanitaannya yang sangat lembut membuatnya untuk segera meninggalkan ruangan yang lagi sepi itu.

     “Assalaamu’alaikum…”

Akhirnya Nisa pamit kepada Abdi.

     “Wa’alaikum salaam…”

Jawab Abdi dengan suara yang kelihatan sekali getarnya.

 

Meskipun dengan hati berat Nisa membalikkan tubuhnya. Ia berjalan perlahan meninggalkan Abdi yang duduk di tepi pembaringan. Abdi tidak bisa bicara apapun. Hatinya sangat pedih, seolah seperti ditinggal selamanya oleh pujaan hatinya.

Ketika Nisa keluar dari pintu, dan kembali menutup pintu kamar dari luar, seolah bagi Abdi tertutupnya pintu kamar itu, sebagai pertanda pintu hati Nisa telah tertutup baginya. Kembali mata Abdi berkaca-kaca. Dunia terasa sepi baginya. Harapannya telah hilang,  bersama semakin hilangnya suara langkah kaki Nisa yang pergi meninggalkan ruangan kamarnya.

 

Abdi tersadar dari suasana hatinya. Kembali ia teringat akan dompet itu. Betul-betul ia terkejut atas kedatangan Nisa barusan. Untung saja firasatnya benar, sehingga ia tidak jadi mengambil dan menyimpan dompet itu.

Sejak Abdi menemukan dompet itu, sampai menjelang maghrib pikiran Abdi tidak bisa tenang. Ia bingung sendiri. Sekarang apa yang harus aku perbuat, aku tak tahu…pikirnya. Sebab ternyata Nisa yang juga Ama itu, kini sudah milik Rido. Mereka mungkin sebentar lagi akan menikah, mengingat Rido sudah lulus jadi Sarjana. Maka bertambah pusinglah kepala Abdi.

 

Tiba-tiba Abdi teringat pesan Rido tadi siang. Apa gerangan isi amplop yang diberikan Rido kepadanya tadi? Apakah berisi uang? Rasanya tidak mungkin ! Atau berisi surat? Tapi untuk apa ia memberi aku surat? Jawab Abdi sendiri. Abdi pingin sekali cepat-cepat membuka amplop dari Rido tersebut. Tetapi ia menunggu waktu yang tepat. Suara adzan maghrib sudah terdengar dari musholla yang tidak jauh dari kamarnya itu, maka Abdi teringat kembali kepada kebesaran Allah. Begitu selesai membaca do’a sesudah adzan, Abdi merintih dalam hati..Ya Allah hamba tidak tahu apa yang bakal terjadi. Semoga apa yang hamba alami ini justru merupakan tanda kasih sayangMu, bukan  lantaran kemarahanMu akibat dari seringnya hamba berbuat khilaf dan salah…rintih Abdi, sambil tetap masih menutupi sebagian wajahnya.

 

Abdi mengambil air yang sudah tersedia di mejanya, untuk kemudian ia gunakan mengusap wajah tangan dan kakinya. Abdi berwudhu dengan hati yang penuh khusyu’. Setiap ia mengusap anggauta badannya selalu ia sertai dengan do’a untuk mohon ampunan. Setiap kali tangannya mengusap muka, kepala, dan telinga, selalu ia barengi dengan munajat mohon syafaat. Setelah Abdi melakukan tata cara wudhu dengan penuh kekhusyu’an itu, ia kemudian mengakhiri wudhunya dengan bisikan do’a yang begitu menyentuh hatinya.

     “Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syarii kalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu. Allahummaj ‘alnii minattawaabiina, waj’ alnii minal mutathahiriina, waj’ alnii min ‘ibaadikashshalihiin.”

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah jadikanlah aku sebagai orang yang ahli tobat, dan jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku golongan orang-orang yang shaleh…”

 

Do’a wudhu yang diucapkan dan dihayati oleh Abdi dengan sepenuh hati itu, begitu membekas di hatinya.. karena Abdi sedang dalam situasi sedih. Begitu selesai membaca do’a tersebut, dengan perasaan yang semakin dekat dengan Allah, ia bertakbir dengan penuh khusyiu’ pula. “ Allaahu Akbar…” dan Abdi pun tenggelam dalam shalat maghrib dengan penuh kekhusyu’an yang tiada tara.

Dengan tetap berbaring ia melaksanakan dan menikmati shalat maghribnya, yang ia rasakan begitu indahnya. Dibiarkan saja air matanya meleleh membasahi bantalnya. Abdi betul-betul menangis….dilaporkannya semua kepedihan hatinya kepada sang Pencipta. Sampai akhirnya hatinya menjadi tenang kembali dalam kemesraannya menghamba kepada Ilahi.

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 30)

BULIR-BULIR KASIH (29)