Apa yang dilihat oleh Abdi? Sehingga ia seperti itu?

Ternyata nama yang tertera di dalam Kartu Tanda Pengenal itulah yang membuat Abdi bagaikan disambar petir.

Ketika membaca identitas yang ada di KTP tersebut, betul-betul Abdi seperti tidak percaya pada pandangannya sendiri.

Abdi tahu bahwa KTP itu adalah milik Nisa, karena memang terpampang foto Nisa di dalamnya.

Tetapi yang membuat ia sangat terkejut adalah nama asli Nisa.

Ternyata nama asli atau nama lengkap pemilik KTP itu adalah :

NISA AMANA, Alamat  tinggalnya di Surabaya.

Dan yang membuat Abdi lebih terkejut lagi adalah ternyata bahwa tempat kelahiran Nisa adalah di kota ……BANGIL, tempat kelahiran Abdi juga.

Serasa pecah kepala Abdi membaca identitas itu, untung saja ia tidak pingsan.

Ya Allah.., jadi…Nisa, gadis yang ia rindukan selama ini,…

 

…gadis yang tidak bisa ia lupakan selama ini, dia ternyata adalah AMA….gadis mungil yang juga ia rindukan dan ia harapkan untuk bisa selalu bertemu dengannya itu…

Ya Allaah, ya Allaah…kembali Abdi berbisik dengan tanpa mengerti harus berbuat apa. Pantas saja, aku tidak merasa asing sejak aku berkenalan dengan Nisa waktu itu. Pantas saja, ketika aku rindu ingin bertemu dengan Nisa, tiba-tiba aku pun ingat akan Ama…ya Allaah, ya Allaah.

Maka Abdi tidak kuasa lagi membendung air mata yang berurai membasahi pipinya, bahkan membasahi punggung tangannya yang ia pakai terus-menerus untuk mengusap matanya…ya Allaah,

Abdi hanya bisa berbisik perlahan…Nisa,… Ama, …kalian ternyata berada pada diri yang satu…

Nisa ternyata engkau adalah Ama…yang aku tunggu sejak dulu.

ya Allaah, kenapa tidak sedari dulu aku mengetahuinya…

Ya Allaah…pertemukan aku dengannya dalam keadaan yang lebih baik…rintih Abdi…berulang kali. Sungguh tak ada artinya aku sehat, sungguh tak ada artinya aku sembuh, jika Ama dan Nisa engkau pisahkan dariku.

ya Allaah…biarlah Nisa menjadi istri orang lain, asal Ama tidak…rintih Abdi. Tetapi ternyata Nisa adalah Ama…. Ya Allaah..aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan..kata Abdi.

 

Abdi terjaga dari suasana bathinnya, ketika Syarif mengetuk pintu kamar mandi.

“…Di, Abdi, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Syarif dari luar kamar mandi.

“Oh, eh,..ndak, ndak apa-apa Rif…“ jawab Abdi sangat gugup. Sehingga suaranya masih terdengar bergetar oleh Syarif. Yang dikira Syarif itu akibat fisik Abdi memang masih belum pulih seperti sedia kala, sehingga suaranya pun masih bergetar.

“Oke deh, cepetan keluar ya…” kata Syarif lagi.

Abdi  bingung. Haruskah ia ambil dompet itu? Ataukah ia biarkan saja di situ? Kalau ia ambil lalu ia simpan, jangan-jangan Nisa kembali datang untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan itu. Kalau ia biarkan, jangan-jangan ada orang lain yang masuk kamar mandi, dan dompet itu menjadi tidak aman.

Feeling Abdi mengatakan bahwa Nisa kemungkinan besar akan kembali lagi untuk mengambil dompetnya. Karena itu ia biarkan saja dompet itu berada di dalam kamar mandi. Kemudian Abdi mematikan kembali lampu kamar mandi sebelum ia melangkah keluar untuk menuju ke kamarnya lagi.

 

Sambil agak termangu Abdi keluar dari kamar mandi, pandangan mata Abdi kosong, pikirannya melayang jauh entah kemana. Kemudian Abdi menuju tempat tidurnya, dan langsung saja ia menggunakan selimutnya untuk menutupi wajahnya. Abdi menyembunyikan wajahnya. Perasaannya campur aduk tak karuan. Ada rasa malu kepada diri sendiri, kenapa ia tidak tahu hal itu sejak dulu. Ada rasa  kecewa kenapa hatinya tidak peka, ada juga rasa nelangsa, yang semua itu menyebabkan rasa sakit di dalam dadanya. Abdi berbaring miring sambil menutupi wajahnya, agar perubahan wajahnya tidak ketahuan oleh Ira dan Syarif. Hal itu ia lakukan karena matanya masih nampak sedikit bengkak bekas banyaknya air mata yang keluar.

“Kenapa Di? Kamu kambuh lagi?” Tanya Ira

“Ndak,Ndak apa-apa, Cuma masih pegal aja tubuhku.”

“Ok deh, istirahat aja, atau bawa aja tidur. Supaya cepat pulih kembali.”

Maka Abdi pun menutupi wajahnya dengan selimut agar perubahan wajahnya sejak ia melihat dompet itu, tidak ketahuan oleh Ira dan Syarif.

 

Sementara itu, melihat Abdi nampaknya sudah bisa tenang dan bisa tidur, Syarif mengajak Ira untuk pulang, sekalian mengambil baju karena keadaan Abdi sudah bisa ditinggal sendirian. “ Oke baiklah, mari kita pulang sebentar, nanti kamu aku antar ke sini lagi…” kata Ira kepada Syarif.

Syarif dan Ira tidak pamit kepada Abdi, karena takut menganggu Abdi yang nampaknya bisa tidur nyenyak itu. Mereka langsung pulang untuk mengambil baju atau untuk mengambil keperluan lainnya.

Abdi tidak bisa tidur, pikirannya terus melekat pada diri Nisa yang ternyata adalah Ama. Ingin sekali ia melihat lagi foto Nisa yang ada di dalam dompet itu. Ingin ia menyimpannya. Tetapi akal pikirannya kembali membantahnya..

 

Tiba-tiba Abdi dikejutkan oleh suara langkah kaki di luar pintu kamar. Abdi tegang, siapakah yang datang? Ira kembali lagi? atau Syarif? Atau Rido? Atau…Nisa…?

Krieeet…Suara bergesernya daun pintu dengan lantai kamar terdengar begitu jelasnya, bagaikan ‘back sound’ dalam sebuah pementasan drama yang menambah tegangnya hati Abdi.

Pintu dibuka perlahan dari luar, dan muncul-lah… wajah Nisa dari balik pintu tersebut.

Raut muka Nisa nampak sangat terkejut, ketika melihat bahwa di dalam kamar tidak ada siapa-siapa kecuali Abdi sendiri. Nisa beranggapan bahwa yang ada di dalam ruangan itu masih ada Ira dan juga ada Syarif, ternyata di ruangan itu hanya ada Abdi yang lagi tidur dengan posisi miring ke kanan menghadap ke arah pintu. Ke arah Nisa.

Abdi juga sangat terkejut, ia tidak menyangka jika saat itu kembali dapat bertemu dengan Nisa yang sejak dulu ia impikan itu, dan saat itu mereka hanya berduaan saja. Abdi cukup bingung sebab ia baru saja menangis. Menangisi dirinya atau menangisi Nisa ia tidak tahu…Abdi tidak bisa bicara apa-apa. Kecuali hanya diam saja, sambil ia menyingkap selimutnya yang ia pakai untuk menutupi sebagian wajahnya.

Nisa yang sejak pertemuannya dengan Abdi belum pernah bertatapan langsung dengan Abdi, kini ia mencoba menatap wajah Abdi. Mereka saling pandang dengan perasaan masing-masing yang sulit dilukiskan.

Abdi memandang Nisa yang berdiri di dekat pintu kamarnya itu dengan mata yang masih basah. Sementara Nisa memandang Abdi dengan pandangannya yang mencerminkan hatinya menaruh rasa kasihan, khawatir, tetapi juga agak penasaran.

 

Abdi berusaha duduk di tepi pembaringan, sambil membenahi bajunya yang kusut. Abdi diam, Nisa pun terpaku berdiri di dekat pintu. Keduanya bungkam. Tak mampu bicara.

Akhirnya Nisa-lah yang membuka pembicaraan, karena ia memang kembali ke ruangan itu untuk mencari dompetnya yang ketinggalan.

“Mas Abdi…, apakah di ruangan ini tadi ada ketinggalan dompet berwarna coklat tua?” kata Nisa dengan nada sedikit agak bergetar.

Nisa tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia memanggil Mas kepada Abdi. Padahal ketika mereka berkenalan dulu ia hanya memanggil namanya saja. Hati Nisa begitu bergetar memandang kepada Abdi, yang saat itu juga sedang memandang dirinya dengan penuh tanda tanya.

Abdi tidak bisa menjawab langsung. Ia masih terpaku oleh sebuah kenyataan yang di luar dugaannya sama sekali, bahwa Nisa adalah Ama…Dan kini tiba-tiba Nisa memanggilnya dengan sebuatan Mas? Ah…serasa melayang jiwa Abdi. Hampir menangis Abdi dibuatnya. Padahal matanya masih setengah basah dengan peristiwa di kamar mandi itu…

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 29)

BULIR-BULIR KASIH (28)