Seribu satu macam pertanyaan memenuhi pikiran Abdi, tetapi tetap saja Abdi tak bisa menemukan jawabnya. Maka Abdi pun mencoba bersabar hati, ia simpan rapat-rapat amplop kecil itu di saku celananya. Untung saja ia sudah agak enakan sehingga sudah bisa mengenakan baju seperti sedia kala. Andaikata belum, tentu akan sulit menyimpan amplop itu. Pikir Abdi.

Sekitar kurang lebih lima belas menit, nampak ira dan Syarif, sudah memasuki ruangan lagi. Rupanya di apotek lingkungan rumah sakit tersebut tersedia obat yang dimaksud, sehingga tidak perlu mencari keluar rumah sakit.

“Maaf ya, agak lama kalian menunggu…?” kata Ira.

“Oh tidak, justru aku pikir masih lama, ternyata cukup cepat juga pelayanan di rumah sakit ini” jawab Rido.

Setelah ngobrol sana sini, akhirnya Rido dan Nisa mohon pamit, karena mereka harus kembali ke Surabaya lagi.

“Terima kasih ya Mas Rido…terima kasih Nisa…” kata Ira

Demikian pula Abdi juga mengucapkan terima kasihnya. Tetapi ia tidak berani menatap Nisa lama-lama, Nisa pun juga sekedarnya memandang ke arah Abdi. Seperti biasanya Nisa berjalan keluar dari kamar Abdi sambil tetap menunduk, tidak banyak bicara. Hanya sedikit tersenyum ke arah Ira dan juga Syarif, sebagai tanda untuk mohon diri. Maka mereka berdua pun pergi dengan perlahan meninggalkan kamar itu.

 

Bersama dengan kepergian Rido dan Nisa, Abdi seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Ketika Nisa masih ada tadi, Abdi seolah tidak mau melihatnya, karena ada rasa cemburu di hatinya. Begitu Nisa pergi, Abdi serasa sendirian lagi di dunia ini. Ya Allaah…bagaimana aku ini… kata Abdi

Untuk menghilangkan rasa sedihnya, Abdi bangun dari tempat duduknya, ia minta tolong kepada Syarif untuk sekedar membantu menurunkan tubuhnya dari pembaringan. Setelah itu dengan jalan agak terseok-seok ia ke kamar mandi. Syarif tidak lagi menuntun seperti ketika dua hari yang lalu di mana Abdi masih belum kuat. Sejak pagi itu Abdi sudah bisa ke kamar mandi sendiri, tanpa  dibantu lagi oleh Syarif.

 

Abdi membuka daun pintu kamar mandi secara perlahan, karena ia masih takut kalau terpeleset. Suasana kamar mandi remang-remang agak sedikit gelap, karena lampu neon satu-satunya yang ada di kamar mandi tersebut rupanya baru dimatikan oleh pengguna sebelumnya. Maka Abdi pun menyalakan kembali lampu tersebut dengan menekan tombol skhakelar yang berada di dalam ruang kamar mandi. Begitu lampu menyala, maka suasana di kamar mandi begitu terangnya. Ketika Abdi mau mengambil air dengan gayung yang sudah dipegangnya, tiba-tiba ia melihat sebuah dompet warna coklat tua, yang berada di pinggir bak kamar mandi. Ah punya siapa dompet ini? Pikir Abdi. Siapakah yang masuk ke kamar mandi ini sebelum aku ? pikirnya lagi.

 

Maka dengan hati-hati karena ingin tahu isi dompet tersebut, Abdi mengintip isi nya. Jangan-jangan banyak uangnya ! pikirnya. Sungguh kasihan pemiliknya. Apalagi kalau sampai ia sedang membutuhkan uang dan ia baru tahu kalau dompetnya tidak ada… tentu akan bingung dia. Maka dengan hati-hati Abdi membuka dompet kecil warna coklat tua itu. Ternyata di dalamnya tidak ada uang yang terlalu banyak. Ada beberapa lembar uang lima ribuan, satu lembar lima puluh ribuan dan beberapa lembar ribuan. Abdi tidak berani menghitungnya, ia hanya menaksir bahwa uang yang ada di dalam dompet tersebut tidak lebih dari tujuh puluh ribu rupiah. Ketika Abdi mau menutup dompet tersebut, tiba-tiba pandangan mata Abdi tertuju pada sebuah Kartu Tanda Pengenal yang ada di dompet tersebut, yang diselipkan di bagian sebelah kiri dompet.

Mata Abdi terbelalak, ketika ia mengetahui bahwa ternyata gambar foto yang ada di KTP tersebut adalah wajahnya Nisa. Abdi baru ingat bahwa sebelum ia ke kamar mandi, memang Nisa terlebih dahulu yang masuk ke dalamnya, rupanya mungkin terburu-buru, dompet yang selalu dipegangnya itu, lupa tidak terbawa olehnya. Pikir Abdi.

 

Pikiran Abdi kembali bergejolak. Sudah lama ia bertemu dan berkenalan dengan Nisa. Bahkan mereka sempat satu rumah ketika mereka di jakarta dulu. Tetapi sampai saat itu, belum pernah Abdi melihat foto Nisa. Baru pertama kali ini, ia melihatnya. Justru ketika ia berada di dalam kamar mandi  rumah sakit ini. Saking senangnya Abdi bisa melihat foto Nisa, tanpa sadar ia membaca identitas Nisa yang tertera dalam KTP itu.

Begitu Abdi membaca identitas Nisa, Abdi seperti kena hipnotis. Ia terpaku begitu lama, kemudian ia berusaha mengingat-ingat sesuatu…. Tiba-tiba kepala Abdi seperti tidak ada rasanya, pandangannya kabur, dinding-dinding kamar mandi yang dilihatnya seolah berputar….hampir saja ia jatuh…Untung cepat-cepat ia pegangan pada pinggiran bak kamar mandi.  Nafasnya memburu dengan cepat. Abdi berusaha menenangkan pikirannya yang lagi terkejut setengah mati. Saking terkejutnya sampai ia tidak tahu harus berbuat apa… beberapa saat kemudian, barulah Abdi tersadar bahwa ia sedang berada di kamar mandi….Abdi hanya mampu berbisik …ya Allah, ya Allah….berulang-ulang…

astaghfirullaahal adziim….ya Allaah, ampuni aku…bisiknya kembali…

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 28)

BULIR-BULIR KASIH (27)