Minggu pagi itu sangat cerah, di mana Abdi menjalani rawat inap sudah memasuki hari ke lima. Kesehatannya sudah banyak kemajuan, ia sudah bisa makan sambil duduk, meskipun tangannya masih dimasuki jarum infus. Ira yang saat itu duduk berada di samping Abdi, tiba-tiba mengangkat hand phonenya, karena ada nada dering, ada telpon masuk.
“Ir, bagaimana kabarnya Abdi? Sudah baikan? Kamu urus ya semuanya, Papa Mama hari ini belum bisa ke Malang, kalau kamu perlu uang untuk sehari-hari, nanti Papa transfer aja, kamu butuh berapa, kamu beritahu aja Papa. Mungkin lusa, Papa dan Mama baru bisa ke Malang…oke?”
“Oke Pap, makasih…jangan lupa ya, lusa. Nanti Ira tunggu !” terdengar Ira menyahuti papanya.
Hari itu tetangga-tetangga sebelah kamar Abdi banyak yang mengunjunginya, maklum hari minggu. Di mana suasana rumah sakit pada jam-jam tertentu nampak ramai sekali.

Sudah satu minggu Abdi tinggal di rumah sakit. Kesehatannya sudah agak membaik dibanding sebelumnya, meskipun badannya masih sangat lemah. Karena sakit yang dideritanya memang harus membutuhkan banyak istirahat. Saat itu jam di dinding ruangan Abdi menunjukkan pukul sebelas, lagi ramai-ramainya orang-orang membesuk saudara atau kerabatnya.
Ketika Ira dan Syarif lagi enak-enaknya membaca majalah, tiba-tiba dari luar kamar yang pintunya agak terbuka sedikit itu, terdengar suara orang memberi salam.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa ‘alaikum salaam…”
Jawab Ira, Syarif, dan juga Abdi hampir bersamaan.
Pintu kamar di dorong perlahan dari luar. Ira dan Abdi heran, siapa gerangan yang akan masuk ke kamar ini? Sebab perasaan mereka tidak ada orang lain yang tahu kalau Abdi sedang menjalani rawat inap di rumah sakit ini. Padahal di dalam kamar itu hanya ada Abdi sendiri, tidak ada pasien lain. Lalu siapakah yang datang siang ini? Abdi dan Ira hanya saling pandang saja, sambil menunggu siapakah gerangan tamu Abdi itu.
Setelah pintu terbuka sedikit, maka muncullah sosok pemuda tinggi gagah mengenakan kaos warna merah hati. Ia masuk ke kamar sambil melepas kacamatanya. Di belakang pemuda itu, berjalan perlahan masuk ke kamar Abdi seorang gadis berjilbab putih…
“Mas Rido…?!”
Syarif, Ira, dan Abdi menyapa hampir bersamaan.
“Dengan siapa Mas…?” tanya Ira :” Dengan calon istrimu…?” lanjut Ira.
“Iya,…dengan Dik Nisa….” jawab Rido sambil sedikit ketawa.
“…Nisa….?!..” suara Abdi hampir tak terdengar oleh siapapun, ia tak percaya kalau yang barusan masuk ke kamarnya dan sedang berdiri di depannya itu Nisa. Gadis pujaan hatinya. Yang kini sudah menjadi calon istri Rido.
Hanya sesaat Abdi bingung, kemudian ia bisa menenangkan diri lagi. Abdi berbaring sambil mengamati dan mendengarkan pembicaraan orang-orang, setelah ia menyilahkan duduk kepada Rido dan juga kepada Nisa.

“Mas Rido, silahkan duduk,…Nisa silahkan duduk…” nampak sekali suara Abdi bergetar ketika ia menyebut nama Nisa, tetapi yang paling bisa merasakan getaran itu hanya dua orang. Yaitu Rido dan Nisa.
Rido begitu peka, karena ia sudah tahu persoalan yang terjadi antara Abdi dan Nisa. Tetapi sampai saat itu, Rido memang belum bercerita kepada siapa-siapa, ia masih mencari moment yang tepat untuk menguak tabir rahasia itu.
Tidak ada yang tahu di antara mereka, betapa muka Syarif berubah pucat, ketika Ira menyapa Rido pertama kali tadi. Ternyata Nisa calon istrinya Rido?, bukan adiknya seperti yang ia ketahui dari obrolan di kedai kopi di Jakarta dulu? Pikir Syarif dengan hati yang tak karuan.
Kalau sampai benar bahwa Nisa adalah calon istri Rido, berarti yang aku sampaikan kepada Rido dulu itu sungguh salah besar dan fatal. Tidak seharusnya itu terjadi…Wah, bagaimana ini?! Pikiran Syarif pun menjadi bertambah bingung. Sampai ia tidak berani memandang ke arah Rido.

“Lho, Mas Rido diberitahu siapa, koq tahu kalau Abdi lagi sakit?, bahkan tahu kalau berada di rumah sakit ini, bahkan juga tahu nomor kamarnya…dari mana infonya Mas…” tanya Ira.
“Ini…Ir, dari Syarif…”
“Kan waktu di Jakarta dulu itu, kami sering ngobrol, terus aku memberitahukan alamatku yang di Surabaya.”
“Ketika Abdi sakit ini, Syarif ingat ke aku, terus kemarin itu Syarif menelponku. Wah aku terima kasih sekali diberi tahu….”
“…kita sudah seperti saudara, sejak kita bertemu dan berkumpul di Jakarta dulu itu. Iya kan…he he he… ”
“Oh gitu,…” jawab Ira sekedarnya, tanpa curiga apa-apa.

* * *

Sementara itu, ketika Rido diberitahu oleh Syarif via telpon bahwa Abdi sedang sakit di rumah sakit Malang, maka Rido memutar otaknya bagaimana caranya agar ia bisa mengajak Nisa untuk menjeguk Abdi. Mungkin di rumah sakit itulah saat yang paling tepat baginya, untuk sedikit demi sedikit membuka simpul tali rahasia yang cukup pelik itu. Pikir Rido.
Pagi itu, Rido mendatangi rumah Nisa.
“Dik Nisa, hari ini kan mengajarnya lagi libur? mau aku ajak ke Malang?”
“Ada apa Mas, kok mendadak…” tanya Nisa agak heran
“Begini Dik, kamu tahu Abdi? Yang dulu ketika kita ke Jakarta ia juga ikut hadir di acara wisudaku dulu, lalu kita juga sama-sama tinggal di rumah Rony temanku itu.., kan kita satu rumah juga dengan Abdi, temannya Ira. ingat kan Dik…?” kata Rido
Begitu disebut nama Abdi, langsung jantung Nisa berdegup kencang, mukanya nampak berubah. Yang perubahan itu sangat jelas dalam pandangan Rido. Sebab Rido sudah mulai tahu persoalan. Setiap Rido bercerita tentang diri Abdi tanpa diketahui oleh Nisa, Rido langsung memperhatikan ekspresi Nisa. Sebab Rido sambil mencari kepastian kebenaran cerita Syarif ketika di kedai kopi di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

“Iya, iya Mas.., ada apa dengan Abdi….” Tanya Nisa agak gugup.
“Aku barusan dapat kabar dari Syarif temannya Abdi itu, bahwa Abdi sudah lima hari ini ia di rawat di rumah sakit di kota Malang….”
“Sakit? sakit apa Mas,…” kata Nisa dengan nada khawatir.
“Aku juga nggak tahu Dik, maukan Dik Nisa ikut ke Malang? Nanti aku ijinkan ke Bibi dan Pamanmu…” kata Rido lagi.
“Iya, iya Mas, aku ikut…aku ikut.. ” jawab Nisa.
“Baiklah Dik Nisa, aku pulang dulu ya, kamu bersiap-siap, sebentar lagi aku jemput..”
“Iya, Mas..”
Tidak berapa lama kemudian, Rido dan Nisa melaju ke Malang dengan mengendarai mobil Rido yang biasa ia bawa ketika masih kuliah dulu.

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 26)

BULIR-BULIR KASIH (25)