Abdi yang posisinya masih terbaring, terasa nggak enak juga. Akhirnya dengan memberi sedikit kode kepada Syarif, kemudian Abdi duduk dengan dibantu oleh Syarif.

“Abdi sakit apa,…?” Rido mulai membuka pembicaraan.

“Ndak apa-apa koq Mas, Cuma kecapaian aja. Kemarin menghadapi ujian semesteran ini, aku belajar tanpa melihat waktu. Sehingga begitu selesai ujian badanku terasa sakit, sampai akhirnya aku dibawa oleh Syarif, dan….temanku Ira ini ke sini…” jawab Abdi sambil sedikit melirik ke arah Nisa. Rido terus mengamati ekspresi Abdi. Bahkan lirikan mata Abdi yang sekilas ke arah Nisa pun tidak lepas dari pantauan Rido.

“Untung ada Ira…, kalau tidak, mungkin ceritanya menjadi lain…karena di rumah kami tidak ada kendaraan …terima kasih ya Ir…” kata Abdi memuji-muji Ira sambil kembali ia melirik ke arah Nisa.

Wah…, ini Abdi sudah mulai menunjukkan protes hatinya, sebab sampai dengan sekarang ini, Abdi tidak tahu keadaan Nisa sebenarnya. Ia masih menganggap Nisa sebagai calon istriku… Pikir Rido.

Rido menoleh ke arah Nisa. Dan… Rido melihat bahwa wajah Nisa berubah. Kelihatan sekali di wajah Nisa ada rasa cemburu yang berusaha disembunyikannya. Wah, ini jelas sudah. Kata Rido dalam hati. Sekarang aku bertambah percaya dengan cerita Syarif di kedai kopi itu. Kalau ini dibiarkan akan berbahaya bagi hubungan mereka berdua. Kasihan Nisa..!

Sementara itu, sambil mulutnya memuji Ira, sebenarnya di dalam hatinya Abdi merintih sedih…maafkan aku Nis, aku memuji Ira di hadapanmu, karena kamu sekarang bukan kamu beberapa bulan yang lalu….padahal hatiku tidak bisa lepas darimu…setiap saat aku selalu mengenangmu Nisa, maafkan kata-kataku yang mungkin menyakitimu…

 

Nisa hanya bisa mengalihkan pandangannya ke tempat lain, ketika Abdi berkata demikian. Tetapi Nisa bisa mengerti dan bisa merasakan, kenapa Abdi bicara seperti itu, karena Abdi rupanya kecewa melihat ia sekarang sudah menjadi calon istri orang lain. Sungguh tersiksa perasaan Abdi. Pikir Nisa.

Kalau mau menuruti kata hatinya, ingin sekali Nisa memberi tahu bahwa ia masih seperti yang dulu, ia bukan calon istrinya Rido. Tetapi tidak mungkin bagi Nisa untuk mengatakan hal itu. Maka ia hanya diam saja. Yang bisa ia lakukan hanyalah menundukkan kepala sambil memain-mainkan jemari tangannya….

Itulah Nisa, yang selalu berbaik sangka terhadap siapapun. Meskipun situasinya semacam itu, Nisa tidak mau menyalahkan Abdi. Nisa bisa merasakan bahwa Abdi sedang protes terhadap dirinya, Nisa hanya bisa tersenyum pahit, hatinya berkata…biarlah Abdi berprasangka apapun tentang diriku, kasihan dia.., tetapi aku yakin bahwa Allah Yang Maha Mengetahui, suatu saat Dia pasti akan menunjukkan sebuah jalan kebenaran, jalan yang lurus, jalan yang nantinya akan membahagiakan para hambaNya. Aku yakin Allah tidak akan pernah menyengsarakan hambaNya. Aku tetap yakin, suatu saat Abdi pasti tahu bahwa sebenarnya aku bukan calon istri Rido…., tetapi entah kapan saat itu akan terjadi, ….kata Nisa dalam hati.

 

Tiba-tiba seorang perawat masuk ke ruang kamar Abdi. Ia memberikan sebuah resep obat yang harus dibeli hari itu. Maka Ira yang sudah terbiasa dengan hal tersebut, ia mengambil resep itu. Dan berkata kepada Syarif: ”Rif, ayo temani aku ke apotek untuk membeli resep ini…kan di sini masih ada Mas Rido dan Nisa… . Entar ya Mas, saya keluar sebentar….” kata Ira.

“ …oh, silahkan Ir, aku masih belum pulang koq, jangan kuatir..” kata Rido

 

Tinggallah di ruang kamar itu, Rido, Abdi dan Nisa saja. Sebab Syarif dengan senang hati mengikuti Ira yang membeli obat di apotek. Dan apotek terdekat adalah yang ada di lingkungan rumah sakit tersebut. Kecuali obat yang dimaksud tidak ada, barulah mereka nanti akan keluar rumah sakit.

Nah, ini adalah saat yang tepat untuk aku segera bertindak. Pikir Rido.

“…Dik Nisa, katanya kamu tadi mencari kamar mandi, kalau tidak salah aku tadi melihat di depan agak sebelah kiri ruangan ini ada kamar mandi koq….” Kata Rido kepada Nisa, yang memang sejak tadi Nisa kepingin ke kamar mandi.

“Oh iya Mas, makasih….” Kata Nisa sambil menuju tempat yang ditunjukkan Rido.

Begitu Nisa keluar dari ruangan Abdi, Rido mendekati Abdi. Ia memberi kode kepada Abdi supaya Abdi tidak banyak berbicara.

Kata Rido:”…Di, tolong kamu simpan ini baik-baik, jangan sampai ada yang mengetahuinya…” kata Rido setengah berbisik.

Abdi tidak mengerti apa yang dimaksud Rido, tetapi ia menuruti saja, sambil menerima sebuah amplop kecil yang diambil Rido dari saku celananya.

“Cepat simpan baik-baik, Di….” Kata Rido cepat-cepat.

Begitu selesai memberikan amplop yang memang oleh Rido sudah disiapkan sebelumnya, Rido kembali duduk di tempatnya semula. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sementara Abdi hanya terbengong saja dengan peristiwa barusan. Ia tidak mengerti sama sekali apa maksud Rido memberi amplop kepadanya itu. Begitu Abdi mau bertanya sesuatu, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan terlihat Nisa masuk lagi ke ruangan itu. Maka sesuai pesan Rido Abdi hanya diam saja, tidak berani bertanya apa-apa.

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 27)

BULIR-BULIR KASI (26)