BULIR-BULIR KASIH (29)

Apakah Nisa mengerti kalau aku sudah mengetahui nama lengkapnya? Ah, tentu tidak mungkinlah jawab Abdi sendiri. Pikiran Abdi tidak karuan. Sampai agak lama ia tidak menjawab pertanyaan Nisa. “Apakah Mas Abdi melihat dompet warna coklat tua..?” Nisa mengulangi pertanyaannya. Dengan

BULIR-BULIR KASIH (28)

Apa yang dilihat oleh Abdi? Sehingga ia seperti itu? Ternyata nama yang tertera di dalam Kartu Tanda Pengenal itulah yang membuat Abdi bagaikan disambar petir. Ketika membaca identitas yang ada di KTP tersebut, betul-betul Abdi seperti tidak percaya pada pandangannya

BULIR-BULIR KASI (26)

Abdi yang posisinya masih terbaring, terasa nggak enak juga. Akhirnya dengan memberi sedikit kode kepada Syarif, kemudian Abdi duduk dengan dibantu oleh Syarif. “Abdi sakit apa,…?” Rido mulai membuka pembicaraan. “Ndak apa-apa koq Mas, Cuma kecapaian aja. Kemarin menghadapi ujian

BULIR-BULIR KASIH (25)

Minggu pagi itu sangat cerah, di mana Abdi menjalani rawat inap sudah memasuki hari ke lima. Kesehatannya sudah banyak kemajuan, ia sudah bisa makan sambil duduk, meskipun tangannya masih dimasuki jarum infus. Ira yang saat itu duduk berada di samping