‘SEPUCUK SURAT’

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. satu semester telah terlewati, sejak Abdi dan Syarif pergi ke Jakarta mengikuti ajakan Ira waktu itu. Tak ada perubahan penting yang terjadi antara Abdi dan Syarif yang satu rumah tersebut. Ira tetap seperti biasanya sering mengunjungi rumah Abdi dan Syarif. Abdi pun tetap bersikap baik, apa adanya, terhadap siapapun, juga terhadap Ira. Apalagi Ira sering meminjami buku-buku literatur, sering menraktir makanan, bahkan sering membiayai Abdi ketika Abdi harus foto copy tugas-tugas dari dosennya. Semua berjalan seperti biasa.

Hanya saja, minggu depan ini mereka sedang menghadapi ujian semester di akhir tahun. Maka persiapan demi persiapan mereka lakukan dengan cukup serius. Abdi terus belajar siang dan malam bahkan kadang sampai lupa makan. Karena Abdi selalu teringat pada orangtuanya yang begitu susah payah dalam mencari biaya untuk kuliahnya. Maka satu-satunya jalan yang mungkin akan bisa membuat orangtuanya senang adalah jika nanti nilainya bagus. Abdi pun belajar tak kenal waktu.

 

Di antara waktu-waktu belajarnya,  Abdi tetap tidak bisa melupakan Nisa. Ia juga sering sedih jika memikirkan kondisi ekonomi orangtuanya. Sehingga pikiran Abdi betul-betul terbebani oleh beberapa hal yang memberatkannya. Tidak jarang ia sering pusing ketika belajar. Suhu badannya akhir-akhir itu terasa lebih panas dari biasanya. Tetapi tekad untuk meraih nilai bagus tetap berada pada pikiran Abdi, sampai-sampai pikiran itu masuk pada alam bawah sadarnya.

Kesibukan yang luar biasa itu, ditambah dengan beban pikirannya, membuat kesehatan Abdi bertambah menurun, sampai di hari akhir ujiannya, Abdi sudah tidak kuat lagi. Pulang dari ujian ia sakit, suhu badannya bertambah memanas. Tidak ada nafsu makan, perutnya terasa tidak enak, bicaranya cenderung ngelantur bahkan pandangannya agak kabur. Syarif yang satu rumah dengan Abdi menjadi bingung dibuatnya.

 

Sore itu cepat-cepat Syarif menghubungi dokter terdekat, ternyata dokter yang dimaksud sedang tidak praktek. Maka bertambah bingunglah Syarif. Akan membawa Abdi ke rumah sakit, Syarif bingung karena ia dan juga Abdi saat itu tidak punya uang, dan juga tak ada kendaraan. Maka satu-satunya jalan, Syarif menelpon Ira lewat wartel yang kebetulan ada di dekat rumah mereka.

Dengan tergopoh-gopoh Ira menuju rumah Abdi.

“Bagaimana Rif, dibawa ke rumah sakit mana?”

“Terserah aja Ir, di Malang ini kalau tidak salah banyak rumah sakit, mungkin sekitar tujuh buah rumah sakit, tetapi kita bawa ke rumah sakit terdekat aja-lah. Agar cepat mendapat pertolongan pertamanya.”

 

Selanjutnya mereka bertiga menuju rumah sakit terdekat dengan mengendarai mobil Ira. Tidak sampai setengah jam perjalanan, mereka telah sampai di rumah sakit yang paling dekat dengan rumah mereka. Setelah mereka diterima dibagian UGD, oleh dokter yang memeriksa, Abdi di periksa secara teliti. Ira dan Syarif yang menunggu proses pemeriksaan itu sangat khawatir sekali.   Setelah menunggu agak lama, dokter yang memeriksa Abdi tadi menyatakan bahwa Abdi dicurigai menderita sakit thyphus. Dan untuk memastikannya ia harus tinggal di rumah sakit untuk diagnosis dan perawatan.

Begitu dokter yang memeriksa menyatakan keadaan Abdi, Ira dan Syarif hanya bisa saling pandang saja. Ketika mereka akan menelpon ke orangtua Abdi yang ada di kampung, Abdi melarangnya.

“…jangan…” kata Abdi sambil menahan rasa sakit.

“Lebih baik, aku pulang saja, aku lebi enak istirahat di rumah aja…” lanjut Abdi dengan nada bicara yang sangat lemah.

“Di, kenapa harus pulang, kan dokter sudah menyarankan harus tinggal di rumah sakit, supaya kamu dapat istirahat dengan enak dan dalam pengawasan para dokter…dan yang lebih penting lagi agar dapat dipastikan kamu menderita sakit apa…” bujuk Ira. Tetapi Abdi menggeleng kepala dengan lemah…

“Ir, aku pulang aja Ir, lebih enak aku istirahat di rumah aja..” kembali Adi meminta kepada Ira agar mereka istirahat di rumah.

“Iya, sebentar, aku ke dokter dulu ya, untuk meminta penjelasan yang lebih detail” kata Ira. Selanjutnya Ira mengajak Syarif untuk menemui dokter yang memeriksa Abdi.

 

“Dok, apakah mungkin teman saya istirahat di rumah saja?” kata Ira

Begitu herannya dokter tersebut akan permintaan Ira.

“Mbak, kalau fihak keluarga menghendaki seperti itu ya silahkan saja. Tetapi menurut diagnosis kami, dicurigai ia menderita sakit thyphus mbak. Untuk lebih pastinya harus dilakukan pemeriksaan darah dan kultur darahnya. Nanti setelah sekitar tiga hari kami akan memberitahu kepastiannya. Karena itu ia harus tinggal di rumah sakit untuk menjalani opname….” Kata dokter dengan wajah agak heran.

Ira berbisik kepada Syarif: ”Rif, kenapa sih Abdi tidak mau opname, kalau di rumah kan bertambah parah sakitnya…”

“Ir, masa kamu tidak bisa menebak sih, Abdi tidak mau tinggal di rumah sakit, dan juga tidak mau memberitahu orangtuanya, lantaran ia tidak punya uang untuk biaya rumah sakit. Ia tidak mau membebani orang tuanya lagi, karena ia mengetahui bahwa saat ini orangtua Abdi juga sedang bingung mencari uang untuk biaya sekolah adiknya..”

“Ooh, gitu masalahnya…” jawab Ira.

 

“Rif, tolong tunggui Abdi ya, jangan boleh ia banyak bergerak..aku keluar sebentar ” kata Ira sambil berjalan ke luar ruangan.

Sesampai di luar ruangan Ira mengeluarkan HPnya untuk menelpon orang tuanya yang ada di Jakarta.

“Papa, ini Ira Pap. Ira lagi di rumah sakit di Malang…” kata Ira

“Lho ada apa kamu di rumah sakit? Siapa yang sakit Ir?” kata ayahnya

“Ini Pap, Abdi sakit, tadi ia aku bawa ke rumah sakit, ternyata kata dokternya ia dicurigai sakit typhus dan harus opname untuk istirahat dalam waktu yang cukup lama…” kata Ira lagi.

“Abdi yang dulu pernah kamu ajak ke Jakarta itu…?”

“Iya, Pap…”

“Terus, sekarang sudah masuk kamar? Kelas berapa?” kata ayah Ira.

“Pap, Abdi tidak mau istirahat di rumah sakit, ia lebih memilih pulang…”

“Lho koq bisa begitu, kan bisa bertambah parah nanti…”

 

“Iya Pap, setelah aku tanyakan pada Syarif, temannya itu, ternyata saat ini orangtua Abdi juga lagi kebingungan mencarikan biaya untuk sekolah adik-adik Abdi, jadi Abdi tidak mau menambah susah orangtuanya…, bahkan ketika Syarif mau menelpon untuk memberi tahu orangtua Abdi tentang keadaan Abdi, ia melarangnya…Bagaimana ini Pap..” jawab Ira hampir menangis.

“Wah, nggak bisa Ir…, kamu aja yang ngambil keputusan…Abdi harus mau tinggal di rumah sakit, agar dapat perawatan sehingga bisa lekas sembuh, katakan pada Abdi, gak usah mikirin biaya…taruh ia di ruangan yang baik. Nanti hari minggu Papa dan Mama akan ke Malang untuk menjenguknya.” Kata ayah Ira lagi.

“Iya, baik Pap, makasih Pap, ini Ira sangat bingung nih…Papa dan Mama cepat ke Malang ya…?” pinta Ira

“Iya, iya…cepat urus, agar secepatnya mendapat perawatan.” Kata ayah Ira.

 

Dengan berbagai bujukan dan juga permintaan maaf kepada Abdi, akhirnya Ira berhasil membawa Abdi masuk ke kamar ruangan untuk opname. Kebetulan kamar yang tersisa hari itu hanya ada satu kamar yaitu di kelas I-B. Abdi hanya menyerah saja dibawa ke mana, karena bertambah lama ia rasakan badannya bertambah lemah. Maka sejak saat itu, Abdi berbaring di rumah sakit untuk menjalani rawat inap.

Seharian Ira dan Syarif mengurusi Abdi di rumah sakit. Kebetulan mereka baru selesai ujian semester, sehingga tak ada masalah dengan kuliah mereka. Karena memang mereka sedang waktunya libur.

 

Sudah tiga hari, Ira dan Syarif menjaga dan menunggui Abdi. Memang tak seorang pun tamu yang membesuk Abdi, karena memang sedang liburan kuliah, sehingga teman-teman kuliahnya pun juga tidak ada yang mengetahuinya.

Pada hari yang ke tiga itu perawat memberi tahu kepada Ira bahwa Abdi positif menderita thyphus Abdominalis. Maka harus banyak istirahat, dan harus mendapatkan perawatan intensif secara baik dan benar. Maka tak ada pilihan lain kecuali memang harus menjalani rawat inap sampai sembuh kembali.

 

Dengan adanya Abdi menjalani rawat inap di rumah sakit, membuat Syarif merasa bertambah dekat dengan Ira karena setiap hari ia kemana-mana mengurusi Abdi bersama Ira. Di sisi lain Ira pun merasa bertambah dekat dengan Abdi, karena setiap saat ia yang mengurusinya. Perilaku Ira yang bertambah dekat dengan Abdi itu, tidak luput dari pantauan Syarif. Yang hal itu membuat Syarif menjadi bertambah sakit hati. Maka Syarif mencari-cari akal bagaimana caranya agar ia bisa lebih dekat dengan Ira. Sebab Syarif sudah mengetahui hati Abdi, bahwa sebenarnya Abdi tidak merespon Ira. Tetapi celakanya Ira tetap saja mendekat kepada Abdi. Bahkan sekarang ini orangtua Ira turun tangan untuk membiayai Abdi opname. Wah, ini gila benar, berarti orang tua Ira sangat mendukung anaknya. Pikir Syarif. Bagaimana ya caranya?

 

Tiba-tiba Syarif teringat kepada Rido si ‘kakak’ Nisa.

Syarif masih punya alamat Rido, sebab ketika mereka ngobrol di kedai kopi, waktu itu Rido memberi tahu alamatnya yang ada di Surabaya kepada Syarif. Dan Syarif pun memberi tahu alamatnya yang ada di Malang kepada Rido.

Aku harus memberitahu Rido, agar Nisa datang ke rumah sakit ini. Dengan demikian Ira akan tahu bahwa Nisa dan Abdi sebenarnya ada hubungan hati. Nah ! setelah itu tentu Ira akan sakit hati dan harapanku ia akan menjauhi Abdi, kemudian ia pasti akan meninggalkan Abdi, dan mau menerimaku. Pikir Syarif dengan sedikit tersenyum karena ia sudah merasa ada jalan untuk lebih mendekat kepada Ira…

 —————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 25)

BULIR-BULIR KASIH (24)