“Mas, terus terang saja sebenarnya sejak aku bertemu dengan Ira, aku ingin lebih dekat dengannya. Aku sangat tertarik kepadanya. Setiap hari kami ketemu, setiap hari kami mengerjakan tugas bersama. Maka aku pingin sekali bisa dekat lebih serius dengan Ira. Tetapi Mas…ternyata, Ira lebih mendekati Abdi. Dia dengan segala kemampuannya ingin mengambil hati Abdi. Sementara Abdi berbaik kepada Ira sebatas sebagai teman biasa. Hal itu dianggap Ira bahwa Abdi juga membalas apa yang diinginkannya. Abdi memang anak baik Mas. Kepada siapa saja ia sangat baik. Saya kenal Abdi sejak kami di SMA dulu. Sebab kami satu sekolahan. Kami berasal dari kota yang sama, tetapi kami tidak sekampung. Sedikit banyak saya tahu pribadi Abdi yang memang sangat baik…” Lanjut Syarif.

“Terus Mas…, harapan saya dengan kami ikut ke Jakarta ini, saya bisa lebih dekat kepada Ira. Karena suatu saat pasti Ira akan mengerti bahwa Abdi tidak suka padanya. Dalam hati ingin sekali saya ikut ke acara wisuda, tetapi ternyata kembali Abdi yang diajak Ira, sedangkan saya ditinggal bersama para pembantu di rumahnya….” Kata Syarif dengan nada yang menunjukkan hatinya sakit.

Ooh, ternyata ini rahasianya…pikir Rido.

 

Ira tidak salah, karena undangan kebetulan terbatas. Pikir Rido.

Abdi juga tidak salah, karena ia tidak mungkin menolak ajakan Ira.

Syarif, mungkin juga tidak salah, karena hatinya sudah terlanjur tercuri oleh Ira. Dengan ke Jakarta ini harapan Syarif, ia ingin lebih dekat dengan Ira.

Wah, bagaimana ini…pikir Rido. Bingung juga ah…! Tapi yang jelas aku sudah bisa mengambil sikap, terutama kepada Dik Nisa. Kasihan dia. Dia aku suruh berpura-pura sebagai calon istriku, justru dalam kepura-puraannya itu ia bertemu dengan Abdi, yang menurut Syarif mereka lagi saling merindu.….kasihan mereka. Pantas saja aku melihat sesuatu yang aneh…Ah, aku betul-betul merasa bersalah kepada Dik Nisa. Betapa hancur hati Abdi melihat bahwa orang yang dirindukan selama ini ternyata sudah menjadi tunangan orang lain.

Di sisi lain betapa sedihnya pula hati Dik Nisa…Makanya ia tadi tidak mau memandang siapa-siapa kecuali hanya menundukkan kepala saja…Tidak terasa mata Rido mulai berkaca-kaca…Ia bisa merasakan bagaimana hancur dan kecewanya dua hati yang lagi kasmaran itu…Rido tahu, bahwa Nisa adalah sosok wanita yang memiliki hati menawan luar biasa baiknya. Sementara menurut Syarif, Abdi juga seorang pemuda yang sangat baik hatinya. Waduh, begitu cocoknya mereka.. sungguh tepat jika mereka tertakdir menjadi pasangan suami istri. Pikir Rido berhayal.

 

Dua-duanya terdiam. Syarif tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, sementara Rido juga hanya bisa menghela nafas panjang saja.

“…Rif, terima kasih, engkau telah berbagi rasa kepadaku…semoga permasalahanmu cepat teratasi kembali sehingga kalian bisa kembali menjadi sahabat yang hebat seperti sedia kala….” Hanya itu yang bisa disampaikan Rido untuk membalas curahan hati Syarif tadi. Karena ia pun cukup bingung, harus bagaimana ia bersikap.

 

“Baiklah Rif, mari kita kembali ke rumah, sudah cukup lama kita meninggalkan rumah, mungkin orang-orang sudah mencari kita…, yuk kita pulang…” Lanjut Rido.

Maka mereka pun meninggalkan kedai kopi itu, untuk kembali kerumah Ira. Syarif cukup puas, karena menurutnya ia sudah bisa memanfaatkan Rido yang ia anggap sebagai kakak Nisa itu untuk ikut berpihak kepadanya. Ia tidak mengerti bahwa Rido lebih puas lagi, karena Rido bisa memanfaatkan Syarif untuk mendapatkan keterangan yang sangat mahal nilainya itu.

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 24)

BULIR- BULIR KASIH (23)