‘DIALOG DI KEDAI KOPI’

Melihat banyak orang di rumah Ira dan mereka semua nampaknya ceria, menyebabkan Syarif bertambah sakit hati. Sebab ia hampir satu hari ditinggal mereka ke acara wisuda, sehingga ia seolah-olah di ajak ke Jakarta ini hanya sekedar menjadi penjaga rumah saja. Betapa menjengkelkan mereka itu. Kenapa aku tidak di perhatikan sama sekali… pikir Syarif yang sudah terlanjur berburuk sangka.

Maka untuk melampiaskan hatinya, sore itu ia tidak mau berkumpul dengan yang lain-lain. Syarif melihat mereka semua saling ngobrol di ruang keluarga sambil nonton televisi dan makan pisang goreng yang masih panas. Mereka bercanda tawa. Terutama nampak sekali Ira lagi bergembira. Sehingga dialah yang menjadi driver dalam obrolan sore itu.

Syarif melihat bahwa di kursi-kursi itu mereka semua nampak gembira. Ada Ira, di samping Ira ada Abdi, kemudian di sampingnya lagi Rony, sampingnya lagi Nisa, dan yang terakhir paling ujung ada Rido.

Rido yang sejak tadi mencari-cari Syarif, tiba-tiba ia melihat Syarif lagi menyelinap keluar rumah melalui pintu samping. Rupanya ia sengaja tidak mau kelihatan oleh yang lain.

Ada apa Syarif keluar rumah? padahal kami semua lagi ramai berbincang-bincang? Pikir Rido.

Maka diam-diam Rido memperhatikan ke arah mana Syarif pergi. Kebetulan orang-orang juga tak ada yang memperhatikannya, karena lagi ramai bersenda gurau. Mereka ada yang menganggap Syarif masih di kamar mandi.

Di sela-sela semuanya lagi asyik bercanda, Rido bangkit perlahan dari tempat duduknya. Nampak ia ngomong sejenak kepada Ira.

“Ira, sebentar ya.., aku ada perlu ke depan. nggak lama kok.” Katanya

“Oke, “ jawab Ira tanpa curiga apa-apa.

Abdi dan Nisa hanya memandang saja kearah Rido pergi. Tanpa berpikir apa-apa, karena memang acara sore itu bebas-bebas saja.

 

Rido bergegas keluar pagar rumah, ia langsung saja melangkahkan kakinya  ke arah kanan. karena sejak Syarif pergi, ia sudah tahu bahwa Syarif pergi ke arah itu. Benar saja, beberapa saat kemudian, Rido masih melihat Syarif yang sedang jalan menjauhi rumah dalam jarak yang sudah cukup jauh dari posisi Rido.

Maka Rido-pun bergegas mengikuti Syarif.

Setelah mereka agak dekat, tampak oleh Rido bahwa Syarif berhenti di sebuah kedai minuman kopi. Syarif masuk ke kedai itu. Rido pun mendekati kedai itu. Di dalam kedai itu ada bermacam gorengan. Dengan agak setengah ragu, Rido  mengikuti Syarif. Rido juga masuk ke kedai itu. Seolah terkejut, Rido menyapa Syarif.

”Hei, Syarif yaa,…wah, rupanya kesenangan kita sama nih. Kalau sore hari semacam ini, aku di Surabaya juga mencari gorengan. Bahkan itu terus berlanjut sampai aku kuliah di sini…” kata Rido sambil tertawa.

“Ee, Mas Rido…” Kata Syarif menutupi rasa terkejutnya.

“Ayo,ayo Mas,…duduk sini…” Lanjut Syarif, sambil bergeser tempat duduk.

:”Bu, kopinya dua gelas ya,…yang kental, manis, dan panas lho bu …he he he” kata Rido kepada penjualnya.

Maka sambil menunggu kopi yang dipesannya itu, mulailah Rido beraksi untuk mengorek keterangan dari Syarif.

 

“Syarif kemarin datang ke Jakarta ini hanya berdua aja dengan Abdi ?” tanya Rido mulai memancing pembicaraan.

“Oh, ndak Mas, kami bertiga. Juga dengan Ira “

“Terus kok tadi pagi nggak ikut ke acara wisuda bersama Abdi “ tanya Rido kembali. “wah rame lho acaranya…, kan mumpung di Jakarta…” kembali Rido memberi umpan.

“Yah…, itulah Mas, kenapa sore ini, Mas Rido bisa ketemu saya di kedai kopi ini.”

“Lho, apa hubungannya dengan kita minum kopi sore ini ?”

“…andaikata saya ikut ke acara wisuda tadi pagi, tentu saya nggak perlu lagi keluar rumah, tentu ya lebih enak di rumah, rame-rame makan pisang goreng…” Jawab Syarif agak menyindir mereka yang lagi makan pisang goreng di ruang keluarga.

“Ah, aku kok jadi nggak mengerti sih Rif,…he he. “ kata Rido agak bercanda, sambil pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Syarif.

“Begini lho Mas,…” lanjut Syarif sambil tangannya meraih gelas berisi kopi panas yang sudah ada di depannya.

 

“…kami bertiga, saya, Abdi dan Ira adalah teman sekampus di kota Malang. Kami kemana-mana sering bertiga, sebagai sahabat sejak kami kuliah di awal tahun ajaran baru enam bulan yang lalu. Kami selalu kompak dan sehati, terutama dalam kami mengerjakan tugas-tugas yang setiap minggu selalu ada dari dosen kami.” kata Syarif.

“Kami tak ada masalah apa-apa kok Mas, hanya saja…..” lanjut Syarif yang nampaknya ragu-ragu melanjutkan ucapannya.

“Kenapa Rif,…apa ada sesuatu yang membuat kamu kecewa? Atau ada sesuatu yang lain? Kok nampaknya ada sesuatu….Tapi ya ndak apa-apalah, nggak perlu kamu ungkap juga nggak apa-apa kok….. Aku kan hanya orang lain saja. Yang kebetulan sebagai teman Rony, Kakaknya Ira…”Jawab Rido.

 

Tiba-tiba Syarif seperti diingatkan oleh sesuatu. Katanya :” Mas, Mas Rido ke Jakarta bersama dengan Nisa? Apa Mas Rido masih saudara Nisa…” tanya Syarif.

“Oh, iya, aku lupa menjelaskan tadi. Apa kamu kenal dengan Adikku Nisa ?” balas Rido sambil menatap Syarif.

“Ooh, jadi Nisa, adiknya Mas Rido..,” Kata Syarif.

Begitu senangnya hati Syarif mendengar bahwa Nisa ternyata adalah adik Rido, berarti ini kesempatanku, untuk memberi tahu Rido. Kata Syarif dalam hati. Agar Abdi bisa lebih dekat kepada Nisa, dan kemudian aku akhirnya akan bisa mendekat kepada Ira..

Biarlah semuanya aku ceritakan kepada Rido, aku akan memanfaatkan dia. Mungkin saja dia bisa membantu keinginanku. Kata Syarif dalam hati.

 

“…begini Mas Rido, kebetulan sekali kalau Mas Rido ini adalah kakak Nisa…” kata Syarif sambil sedikit menelan ludahnya, agar bisa bicara dengan lancar.

“…sebenarnya, Nisa Adik Mas Rido itu, sudah cukup lama berkenalan dengan Abdi. Mereka bertemu pertama kalinya di acara pengajian, di rumah teman Ira. Aku juga ikut ke acara itu. Nisa saat itu sebagai pembaca al-Qur’an dadakan, sebab ia dimintai tolong oleh tuan tumah untuk mengganti ibu Hasan pembaca al-Qur’an yang kebetulan berhalangan hadir. Sejak Nisa membaca al-Qur’an itulah, Abdi seperti terpesona kepada Nisa. Maka sejak saat itu, Abdi siang malam tidak bisa tidur nyenyak karena selalu teringat Nisa. Saya tahu hal itu secara persis, sebab saya satu rumah dengan Abdi. Setiap hari ia bercerita kepadaku bahwa dirinya tidak bisa menghilangkan Nisa dari pikirannya….”

 

“Saya tidak tahu, kenapa Abdi bisa seperti itu kepada Nisa, padahal mereka belum pernah bertemu dan bincang-bincang secara enak. Apalagi pergi berduaan, ah itu sama sekali nggak pernah terjadi. Apalagi mereka berlainan kota. Nisa di Surabaya, sedangkan Abdi di Malang. Tetapi begitu bertemu dengan Nisa, Abdi langsung jatuh hati berat. Ketika aku tanya kepada Abdi bagaimana dengan Nisa, Abdi hanya menjawab, menurut perasaan Abdi, Nisa juga seperti Abdi…hal itu menurut Abdi dapat ia lihat dan ia rasakan dari pandangannya…! Wah, ini kan sulit toh mas…., tetapi ya ndak apa-apalah kalau mereka memang seperti itu. Saya hanya bisa berdo’a Mas. semoga aja benar apa yang dirasakan Abdi itu. Dan semoga pula Nisa juga membalas perasaan Abdi.” Kata Syarif.

Wah, benar dugaanku,! pikir Rido. Ternyata antara Nisa dan Abdi ada suatu rahasia. Makanya sejak Rido melihat mereka, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Dan yang mengetahui rahasia pribadi itu, hanya satu orang saja, yaitu Syarif. Sungguh kebetulan sekali aku bertemu dengan Syarif ini.. Aku bertemu dengan orang yang tepat. Kata Rido dalam hati.

“Terus.., yang membuat kamu nampaknya agak sedikit kecewa itu, apa Rif?” tanya Rido dengan hati agak bergetar, karena ia ingin mengetahui rahasia selanjutnya…

 

—————————————– bersambung (Bulir-Bulir Kasih 23)

BULIR-BULIR KASIH (22)