Nisa mengikuti saja apa kata Rido, karena memang ia tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, dan ia percaya kepada keputusan Rido, sebab ia sangat tahu bahwa Rido orangnya bisa dipercaya.
Begitu mereka menjadi satu rombongan, ternyata mereka berada pada satu mobil yang menuju rumah Rony. Nisa sangat terkejut, sebab ia sekarang berada satu mobil dengan Abdi dan menuju rumah Ira. Demikian pula Abdi sangat terkejut dengan situasi yang berubah mendadak itu. Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Rony itu, Abdi dan Nisa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Mereka serba salah, tidak mengerti harus bicara apa, dan tidak mengerti harus bersikap bagaimana. Sebab kebetulan juga duduk Abdi dan Nisa berada pada satu jok. Yaitu di jok mobil bagian belakang.
Selama dalam perjalanan ke rumah Rony tersebut, Abdi dan Nisa hanya berdiam saja, seperti orang yang belum pernah ketemu sama sekali. Padahal keduanya setiap hari, bahkan setiap saat saling merindukan untuk bertemu. Bahkan sejak pandangan pertama mereka ketika di acara pengajian rumah Syntya. Tetapi karena adanya peristiwa perkenalan ketika di kafetaria tadi, kini Abdi dan Nisa menjadi tak karuan perasaannya. Masing-masing menahan diri untuk saling menyapa. Nisa hanya menunduk, demikian pula dengan Abdi, pandangan matanya ia alihkan jauh-jauh ke luar kaca mobil.

Ira yang duduk di jok depan di sebelah Rony, berulang kali menoleh kebelakang untuk melihat Abdi yang lagi duduk berdekatan dengan Nisa. Tetapi karena di sebelah Nisa masih ada Rido, maka hati Ira menjadi tentram. dan perasaan was-was pun bertambah lama semakin bertambah hilang. Karena ia bertambah percaya, sebab sekarang Nisa sudah menjadi tunangan Rido. Demikian perasaan Ira.
“Abdi, teman Ira …!? Di Malang di mana Mas? “Tanya Rido, mencoba memecah kebisuan yang terasa nggak enak, karena mereka sebentar lagi berada pada satu rumah, yaitu sama-sama bermalam di rumah Ira. Karena itu Rido mencoba mengakrabkan diri dengan Abdi.
“Eeh, iya Mas. Saya dari Malang, saya teman Ira satu kampus. Kemarin secara mendadak saya diajak Ira ke jakarta ini. Dan juga masih ada satu teman lagi yang sekarang tidak ikut ke acara wisuda, ia menunggu di rumah Ira, karena undangannya nggak ada..”
“Jadi kalian berdua dari Malang, bertiga dengan Ira?”
“Iya Mas.” Jawab Abdi singkat.
“Oh, iya, kalian tadi sudah kenal satu sama lain kan..? “ tiba-tiba Rido bertanya kepada Abdi dan sekaligus kepada Nisa yang tetap saja menunduk sejak tadi.

Nisa tak mampu menjawab atas pertanyaan Rido, ia hanya tertunduk saja, tak tahu harus menjawab apa. Sementara Abdi menjawab sambil memandang kepada Rido :”Sudah Mas, kami sudah saling kenal beberapa waktu lalu…”
“Iya?”Jawab Rido, “ sudah kenal sebelum di acara wisuda ini? Artinya sebelum kita ketemu di jakarta ini?” jawab Rido cukup heran.
“Iya, kami sudah kenal beberapa bulan yang lalu…”Jawab Abdi.
“Wah, di mana kalian kenal? di Surabaya? Atau di Malang?” kembali Rido bertanya.
“…di Malang…” jawab Abdi, dengan suara yang terdengar agak bergetar.
Rido tiba-tiba memandang wajah Abdi. Kemudian memandang ke arah Nisa yang masih tetap menundukkan kepala. Ada sesuatu yang aneh pada diri mereka berdua ini. Pikir Rido.
Selanjutnya Rido mencoba memancing dengan pertanyaan lagi:”…wah, tentu kalian sudah akrab sekali ya…? tetapi kenapa kok sejak tadi saya tidak melihat kalian bercakap-cakap layaknya teman lama?”
“e,e,.. Nisa kok diam aja sejak tadi…teman lama kok nggak diajak bicara?..” Rido bertanya lagi sambil menatap wajah Nisa yang masih menyembunyikan wajahnya dengan cara menunduk itu.
Rido cukup kenal dengan gaya Nisa, walaupun ia juga belum lama berkenalan dengannya. Pasti ada sesuatu antara mereka berdua. Tetapi Nisa tidak bisa mengungkapkan dengan kata.
Ketika Rido mau memancing dengan pertanyaan berikutnya, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi sudah berjalan pelan, kemudian berhenti di depan sebuah rumah besar yang mewah, yang tak lain adalah rumah Pak Barta, atau tempat tinggal Rony dan Ira.
“Ayo, kita turuun…” terdengar Ira berteriak sambil sedikit bercanda. Kemudian ia turun dari mobil lebih dahulu, terus ia menghampiri pintu pagar untuk ngebel ke dalam rumah. Tak lama kemudian terlihat oleh Rido seorang anak muda yang berlari-lari kecil menuju pintu pagar untuk membukanya…

* * *

Syarif yang sejak pagi berada di dalam kamar sendirian, di rumah Ira tersebut, begitu sakit hatinya, meskipun hal itu tidak ditampakkan dalam ekspresi dan tingkah lakunya. Mereka datang berdua, atas ajakan Ira. Jauh-jauh dari Malang ke Jakarta, ternyata yang mendapat kesempatan untuk mengikuti acara justru Abdi. Bukan dirinya. Dan yang lebih menjengkelkan hati Syarif adalah sikap Mama dan Papa Ira sangat kelihatan sekali kalau cenderung lebih memperhatikan Abdi dibanding dirinya. Kini ia ditinggal sendiri bersama para pembantu di rumah, sementara mereka mungkin saja kini lagi bersenang-senang makan minum dengan gembira. Pikir Syarif.
Meskipun di rumah itu, Syarif tidak kurang suatu apa, bahkan sarapan pagi pun sudah disiapkan oleh pembantu Ira, sehingga Syarif tidak perlu memikir tentang makanan. Tetapi tetap saja hati Syarif tidak puas.
“Sungguh menyesal aku ikut ke sini !” kata Syarif dalam hati.
“Rasanya ingin pulang saja aku, dari pada nunggui mereka…”.
Tetapi tiba-tiba Syarif berpikir lain.
“…Ah, kenapa aku tidak memanfaatkan keadaan Abdi?”
“Bukankah Abdi sudah membuka rahasia hatinya kepadaku, bahwa ia lebih suka kepada Nisa dari pada Ira? Ia sangat rindu kepada Nisa, dan selalu ingin bertemu dengannya..“
“Ah, benar ! “Jawab Syarif kepada diri sendiri.
“Aku besok akan bercerita kepada Ira. Ia harus tahu kalau Abdi tidak suka kepadanya…, Ira harus tahu kalau Abdi selalu merindukan Nisa…”
Andai saja aku bisa dekat dengan Ira, dan kemudian aku bisa menjadi pacarnya…,ah begitu hebatnya! Ira begitu kaya, rumahnya sebesar dan semewah ini, dia cantik, …sungguh menyenangkan…dan aku akan menjadi orang yang paling bahagia…” Pikir Syarif.

Lamunan Syarif menjadi buyar, ketika terdengar suara bel rumah berbunyi beberapa kali, tanda ada tamu atau ada orang yang mau masuk rumah ini.
Kemudian terdengar suara deru mobil yang masuk ke halaman rumah, yang kemudian berhenti di garasi.
Syarif pun berbegas keluar dari kamarnya ingin mengetahui siapa yang datang. Ternyata mobil Rony beserta anggota keluarganya sudah datang dari acara wisuda. Syarif hanya berdiri saja di dekat pintu kamar sambil memandang Ira yang sudah turun lebih duluan dari mobilnya.
“Hei, Rif, bagaimana ? enak istirahatnya? Kami baru datang, soalnya acaranya memang sangat lama sekali…capek deh…!” kata Ira menyapa Syarif.
“Iya, Ir, enak kok aku istirahat…”Jawab Syarif singkat.
Rido memperhatikan seorang pemuda yang keluar dari rumah itu, yang barusan diajak bicara oleh Ira. Oh, ini rupanya teman Abdi yang bersama-sama datang dari Malang itu. Pikirnya.
Ternyata benar, bahwa yang datang ke jakarta ini bukan sekedar Abdi saja, tetapi juga ada kawannya.
Maka Rido-pun berpikir lain. Jangan-jangan Abdi ini memang sekedar teman kuliah Ira. Bukan sebagai pacarnya. Pikir Rido.
Tetapi kenapa yang diajak ke acara wisuda oleh Ira hanya Abdi saja…? Oh iya.., memang undangannya terbatas, jawab Rido sendiri.
Tetapi kenapa sikap Ira di kafetaria tadi selalu mendekat dan sangat akrab ke Abdi? dan pandangannya kelihatan sangat mesra ke arah Abdi, sementara Abdi sepertinya biasa-biasa aja? Bahkan cenderung salah tingkah ?
Jangan-jangan ada sesuatu pada diri Abdi, Ira, dan juga Nisa ! pikir Rido.

Tiba-tiba Rido juga teringat akan hubungan dirinya dengan Nisa, yang juga punya persoalan cukup pelik. Di mana Nisa harus berpura-pura jadi tunangannya untuk menyenangkan hati ibunya…!
Wah, aku harus segera mencari tahu, tentu ada sesuatu di balik itu semua, Sebab aku lihat antara Nisa dan Abdi ada sikap yang tidak wajar.
Mereka sudah lama berkenalan,… tetapi sebagai orang yang sudah lama kenal kemudian saat ini secara kebetulan bertemu di kota Jakarta yang jauh dari Malang, dan mereka diam saja…? Rasanya nggak mungkin. Apalagi masing-masing mengambil sikap yang nampaknya acuh? Ah, sungguh tidak mungkin, tidak mungkin seperti itu…, pasti ada sesuatu ! Aku harus segera mencari tahu, kasihan Dik Nisa. Rupanya ia kebebanan pikiran. Sebab sejak tadi ia selalu menunduk saja. Sejak bertemu dengan Abdi terjadi perubahan tingkah laku pada Dik Nisa. Bahkan wajahnya terus disembunyikan. Yah, aku harus segera mencari tahu….kata Rido dalam hati.

“Ayo kita turun…” Kata Rido kepada Abdi dan Nisa. setelah mobil yang mereka tumpangi sudah masuk ke car port rumah Rony.
Kembali Rido berfikir, …mestinya yang punya inisiatif untuk mengajak turun adalah Abdi, sebab dialah yang sudah satu malam berada di rumah ini, tetapi ternyata ia cenderung diam saja. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Pikir Rido. Aku yakin pasti ada sesuatu pada diri Abdi, yang tentunya sangat terkait erat dengan diri Dik Nisa. Aku yakin bahwa mereka berdua menyimpan sebuah rahasia…
Siapa yang harus ku tanya?
Kepada Dik Nisa rasanya tidak mungkin aku tanyakan, karena situasinya belum mendukung. Abdi juga pasti tak akan menjawab dengan sebenarnya. Pikirnya.
Tiba tiba Rido ingat sesuatu. ” Nah, ini dia…! “Katanya. Pasti temannya itu bisa aku mintai penjelasan. Paling tidak aku harus tahu siapa sesungguhnya Abdi ini…Pokoknya sebelum aku pulang ke Surabaya, aku harus bisa mencari tahu keadaan mereka berdua. Kata Rido lagi.

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 22)

BULIR-BULIR KASIH (21)