BULIR-BULIR KASIH (24)

‘SEPUCUK SURAT’ Tidak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. satu semester telah terlewati, sejak Abdi dan Syarif pergi ke Jakarta mengikuti ajakan Ira waktu itu. Tak ada perubahan penting yang terjadi antara Abdi dan Syarif yang satu rumah tersebut. Ira tetap

BULIR- BULIR KASIH (23)

“Mas, terus terang saja sebenarnya sejak aku bertemu dengan Ira, aku ingin lebih dekat dengannya. Aku sangat tertarik kepadanya. Setiap hari kami ketemu, setiap hari kami mengerjakan tugas bersama. Maka aku pingin sekali bisa dekat lebih serius dengan Ira. Tetapi

BULIR-BULIR KASIH (22)

‘DIALOG DI KEDAI KOPI’ Melihat banyak orang di rumah Ira dan mereka semua nampaknya ceria, menyebabkan Syarif bertambah sakit hati. Sebab ia hampir satu hari ditinggal mereka ke acara wisuda, sehingga ia seolah-olah di ajak ke Jakarta ini hanya sekedar

BULIR-BULIR KASIH (21)

Nisa mengikuti saja apa kata Rido, karena memang ia tidak bisa mengambil keputusan apa-apa, dan ia percaya kepada keputusan Rido, sebab ia sangat tahu bahwa Rido orangnya bisa dipercaya. Begitu mereka menjadi satu rombongan, ternyata mereka berada pada satu mobil