Selain Abdi dan Nisa, dalam pertemuan yang tidak sengaja itu, tentu saja yang juga sangat terkejut adalah Ira. Sebab Ira masih ingat, bahwa Nisa adalah gadis cantik si pembaca ‘dadakan’ yang dahulu mereka pernah bertemu dan berkenalan di rumah Syntya itu. Dan kini tiba-tiba ia muncul lagi.

Dahulu hati Ira menjadi panas, lantaran ketika mereka berkenalan, Abdi dan Nisa saling berpandangan penuh arti. Yang peristiwa sesaat itu dapat ditangkap dan direkam dengan jelas oleh otak Ira. Saat itu Abdi dan Nisa saling pandang dengan mata berbinar yang membuat Ira salah tingkah, bahkan menjadi jengkel tiada tara. Dan kini Nisa muncul lagi disaat ia lagi menjalin hubungannya dengan Abdi yang ia ajak ke Jakarta ini. Maka hati Ira pun kembali jengkel, sehingga otomatis ia tidak bisa ‘welcome’ atas kehadiran Nisa.

Tetapi begitu mendengar pembicaraan sepintas tadi, hati Ira sedikit terhibur karena ia mendengar bahwa Nisa sudah menjadi tunangan Rony teman kakaknya itu, ia menjadi sedikit lega, meskipun rasa khawatir masih saja melekat di hatinya.

Pada saat yang singkat itu, di mana mereka bertiga yaitu Abdi, Nisa dan Ira, sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, mereka disadarkan oleh kedatangan pelayan yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja mereka dengan membawa pesanan yang mereka inginkan.

“Bapak, ibu,…ini pesanannya…” kata pelayan kafe itu.

“Baik Mbak terima kasih,…jawab Ira yang cepat bisa memulihkan situasi perkenalan tadi.

Demikian pula Rido juga menyambut kedatangan pelayan itu dengan ramah:

“Makasih Mbak, terima kasih ya…” kata Rido kepada pelayan itu.

Selanjutnya mereka menyantap makanan yang sudah ada di atas mejanya masing-masing dengan lahap. Kecuali Nisa dan Abdi yang saat itu perutnya tidak bisa menerima makanan, karena tak ada selera sedikitpun, meskipun sebelumnya mereka sangat lapar.

Ketika semua orang sedang makan dengan lahapnya, Rido melihat kepada Nisa yang tidak cepat-cepat makan seperti dirinya atau juga seperti Bapak dan Ibunya yang langsung bisa menikmati dengan sepenuh hati itu. Rupanya ada sesuatu yang sedang dipikirkan Nisa sehingga ia sepertinya malas makan. Pikir Rido.

Maka Rido dengan hati-hati, ia bertanya secara bisik-bisik kepada Nisa, agar tidak ketahuan oleh kedua orang tuanya.

“..Dik Nisa, ada yang lagi dipikirin?”

“Ayo, cepat makan Dik, kita sudah lapar benar nih.” Bisik Rido.

“Kalau ada sesuatu ceritakan ke aku ya, siapa tahu aku bisa memberi masukan” kata Rido lagi.

Nisa maunya bercerita kepada Rido, yang sudah dianggap sebagai kakaknya, tetapi karena situasinya tidak tepat, maka ia menahannya dulu. Nanti kalau sudah memungkinkan, ia akan bercerita kepada Rido siapa tahu ia bisa memberi masukan yang akan bisa menolongnya. Pikir Nisa. Maka atas pertanyaan Rido, Nisa hanya menjawab sekenanya saja.

“Oh ndak Mas, ndak ada apa-apa kok, Cuma aku memang lagi nggak enak badan aja. Mungkin lagi masuk angin kali…” jawab Nisa.

“Nah, karena itu Dik Nisa harus makan yang banyak supaya badannya sehat kembali.”Sahut Rido.

“Oh iya, Dik Nisa tahu? Sebenarnya temanku yang dahulu pernah aku ceritakan kepadamu itu, yang ia ingin aku kenalkan kepada Dik Nisa itu adalah dia itu. “

“Siapa Mas?”Kata Nisa.

“Itu, tuh, si Rony, yang baru saja kita kenalan dengan keluarganya itu…” jawab Rido.

“…Ohh…”Jawab Nisa setengah terkejut.

“Tapi sekarang ya ndak usah-lah, karena aku sudah bisa menebak, bahwa Dik Nisa sekarang ini sudah punya tambatan hati…cuma aku belum tahu siapa dia…iya kan Dik?..”

“..iya Mas. Kapan-kapan kalau Mas Rido tidak keberatan, dan situasinya memungkinkan Nisa ingin cerita kepada Mas Rido…” jawab Nisa polos.

“Oke, adikku yang maniis, jangan kuatir, aku akan mendengarkannya dengan baik…he he he…ayo makan Dik, nanti keburu dingin makanannya.”

“Baik Mas…”Jawab Nisa yang sudah agak bisa mengatur emosinya.

 

Selanjutnya suasana meja ‘sepuluh’ dan ‘sebelas’pun menjadi ceria kembali, oleh canda ria mereka. Kecuali Abdi yang masih penasaran, masih bingung, dan masih merasa serba salah dengan situasi yang kebetulan ini.

Setelah semua selesai dengan makan siangnya itu, Rony mendekati Rido.

“Do, kamu hari ini bermalam di mana? Kapan datangnya orangtuamu? Dan kapan rencana pulang ke Surabaya ?” tanya Rony kepada Rido.

“Ini Ron, kami juga masih mencari hotel untuk bermalam. Rencananya sih, besok udah pulang ke Surabaya. Kecuali Ibu dan Ayah mau keliling dulu lihat-lihat kota Jakarta…ya mungkin lusa-lah kami pulangnya.”Jawab Rido.

“Do, daripada kamu cari-cari hotel, kan lebih baik aja kalian bermalam di rumahku. Tidak terlalu jauh kok rumahku dari kampus kita ini…gimana Do ?”

“Wah, terima kasih Do, tetapi mungkin orangtuaku gak mau. Biarlah kami cari hotel aja….” Jawab Rido

“Entar dulu Do, kalau kalian bermalam di hotel, kan kasihan juga itu, tunanganmu, kan dia tidak ada temannya. Tetapi kalau kalian bermalam di rumahku, di rumah kan ada Ira, sehingga mereka bisa satu kamar, dan mereka bisa lebih akrab, iya kan Do…?”

Rido terkejut sendiri atas perkataan Rony, ia baru ingat kalau ada Nisa. Belum terpikirkan olehnya bagaimana dengan tidurnya Nisa nanti. Maka tawaran Rony ini sungguh tepat. Pikir Rido

“Baiklah Ron, entar aku bicarakan ke orangtuaku, bagaimana baiknya nanti. “ jawab Rido.

Maka Rido pun bergegas menuju ibu dan ayahnya untuk membicarakan tawaran Rony tersebut. Terlihat mereka berbisik-bisik beberapa saat. Kemudian Rido kembali berjalan ke arah Rony lagi sambil berkata:

“Ron, maaf deh, Ibu dan Ayahku tetap aja pingin bermalam di hotel, tetapi aku dan Nisa kalau memang tidak merepotkan keluargamu kami sangat berterima kasih bisa bermalam di rumahmu.” Kata Rido.

“Nah, gitu dong, oke deh ! nanti setelah ini kita cari hotel untuk orangtuamu, setelah itu kita ke rumahku. Oke?…”

“Oke Ron, makasih banyak…”

Akhirnya mereka menjadi satu rombongan. Pulang dari acara wisuda, mereka mencarikan hotel untuk Pak Tedy dan Bu Tedy, setelah itu mereka bersama-sama menuju rumah Rony.

 

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 21)

 

BULIR-BULIR KASIH (20)