Mendengar nama Nisa disebut, Abdi tersentak dari lamunannya seperti terbangun dari mimpi. Kalau ada suara guruh yang menggelegar di siang itu, mungkin dampaknya tidak seperti jawaban Bu Tedy barusan. Abdi spontan wajahnya berubah, ia melihat ke wajah gadis yang dikenalkan oleh Bu Tedy tadi. Maka bertambah pucatlah wajah Abdi, ketika melihat gaun yang dipakai gadis itu berwarna putih. Warna kesenangan Nisa. Abdi melihat sekali lagi, jangan-jangan hanya namanya saja, dan juga warna gaunnya saja yang kebetulan sama. Benarkah ia Nisa yang di Surabaya itu? Yang ketemu dengannya di rumah Syntya itu? Atau Nisa yang lain?. Pikir Abdi. Sebab pandangan Abdi masih terhalang oleh beberapa orang di dekatnya. Termasuk oleh tubuh Ira yang duduk di sebelahnya.

 

Abdi yang sejak tadi berdiri dari tempat duduknya yang paling ujung, langsung memandang lebih mendekat ke arah gadis berbaju putih, yang berdiri agak menjauh dari Rony, jantung Abdi berdegup lebih kencang, rupanya benar, ia  adalah…Nisa. Gadis yang membuatnya tidak bisa tidur itu.

Nisa…?, benarkah itu Nisa? Abdi seperti tidak percaya terhadap pandangannya sendiri. Seperti lepas rasanya semua persendian di tubuh Abdi. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Nisa adalah calon menantu Bu Tedy, atau calon istri Rido temannya Rony. Ah, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa aku bisa bertemu dengan Nisa di tempat yang tidak terduga sama sekali ini?

Yang membuat Abdi tidak habis mengerti adalah ternyata Nisa kini sudah milik orang lain. Apakah sejak ia ketemu dengan Nisa dulu, Nisa sudah bertunangan dengan Rido ini? kata Abdi dalam hati. Tetapi kalau melihat pandangan pertama  Nisa kepadanya ketika mereka berkenalan dulu, sepertinya Nisa masih belum punya siapa-siapa. Bahkan ia yakin bahwa Nisa pun pasti seperti dirinya juga, ingin bertemu lagi setelah perkenalan di rumah Syntya itu. Tetapi kenapa sekarang hanya terpaut beberapa bulan, tiba-tiba Nisa sudah menjadi calon istri Rido?

Abdi serasa tidak kuat menahan gejolak hatinya. Mata Abdi hanya bisa terpejam, tak bisa ia menyaksikan Nisa berdekatan dengan keluarga Rido semacam itu.

…Ya Allaah, berilah hamba kekuatan… rintih Abdi.

 

Bukan saja Abdi. Nisa pun terkejut setengah mati ketika mengetahui bahwa pemuda yang ada di depannya itu adalah Abdi, yang dahulu pernah bertemu di rumah Syntya di kota Malang. Pemuda yang membuat hatinya berdegup kencang. Pemuda yang selalu membayang di pelupuk matanya ketika ia rebah di pembaringan. Kenapa ia bisa bertemu dengan Abdi di Jakarta ini? Terus, siapa gadis di samping Abdi itu? Tanya Nisa kepada diri sendiri.

Ah, bukankah itu Ira, temannya Syntya? yang dahulu mereka juga datang bersama ke tempat syukuran di rumah Syntya…? Apakah mereka berpacaran? Atau bahkan sudah bertunangan?, sebab Abdi nampaknya akrab sekali dengan orang tua Ira. Pikir Nisa.

Ah, tidak mungkinlah mereka bertunangan, kan mereka masih sama-sama kuliah.. kata Nisa menepis anggapannya sendiri. Tapi kenapa Abdi bisa datang ke Jakarta, kalau hanya sekedar teman kuliah saja? Kembali Nisa ragu.

Nisa tidak berani menatap wajah Abdi, ia hanya tertunduk saja.

 

Sejak diperkenalkan oleh ibu Rido sebagai tunangan Rido, betapa jengah dan malunya Nisa. Tetapi ia harus mampu ‘bermain sinetron’ seperti pesan Rido, agar tidak melukai hati ibunya. Tetapi kini ia justru berhadapan dengan pria yang diingatnya terus sampai kebawa-bawa tidur. Dan mata Abdi kini melihatnya dengan penuh selidik kepada dirinya. Tetapi di sisi lain Nisa juga ‘panas’ hatinya karena ternyata Abdi kini sudah ada di samping Ira, teman kuliahnya itu.

Nisa hampir saja lupa kalau saat itu posisinya sebagai tunangan Rido. Hampir saja ia menyapa Abdi. Tetapi begitu ia ingat maka kembali ia berusaha menenangkan hatinya, agar perubahan di wajahnya tidak nampak oleh siapa-siapa. Termasuk oleh Abdi sendiri. Biarlah aku sendiri yang mengerti perasaanku. katanya dalam hati.

Sementara itu, hati Abdi semakin terkoyak, bagaikan benang laba-laba yang sebelumnya sudah terajut dengan indah, kini berantakan karena adanya pertemuan ini. Ternyata gadis yang dirinduinya selama ini, yang sedang dicari-carinya di mana ia berada, kini berdiri di depannya sebagai calon istri Rido temannya Rony, kakak Ira.

Abdi mau menyapa Nisa tidak berani, mau bersalaman, apalagi… Nafas Abdi memburu serasa hampir terhenti di kerongkongannya. Abdi hanya bisa mengalihkan pandangannya ke tempat lain supaya tidak kelihatan kalau ia lagi bingung.

Baik Nisa maupun Abdi keduanya tidak tahu, kalau mereka sebenarnya saling ingin bertemu, saling rindu. Tetapi lantaran kondisinya seperti itu, mereka menganggap masing-masing sudah milik orang lain. Mereka pura-pura acuh tak acuh, padahal hati mereka ingin sekali bisa bicara sekedar melepas rasa rindu yang menggelora di dada.

Dan hal itu tidak mungkin mereka lakukan!

 

Rasanya sudah tertutup rapat harapan mereka selama ini, baik bagi Nisa maupun bagi Abdi. Seolah tak ada gunanya mimpi setiap malam, seolah tak ada manfaatnya mengenang setiap pagi dan siang…Abdi dan Nisa hanya terpaku di tempatnya, tak mampu bicara, apalagi bercanda seperti orang-orang lainnya.

Hanya Nisa sendiri yang bisa mendengar suara hatinya, ketika merintih :”ya Allah, kenapa aku bertemu dengan Abdi justru ketika aku berpura-pura menjadi calon istri Mas Rido…? “

“Ah, bagaimana perasaan Abdi saat melihatku seperti ini ?”

“Kalaulah perasaan Abdi saat ini, masih seperti dahulu, yaitu masih seperti ketika ia bertemu di rumah Syntya dulu…yang pandangannya itu tidak bisa menipuku…”

“…kalaulah Abdi bukan milik Ira seperti yang ia sangka saat ini.., sungguh kasihan Abdi, begitu melihatku sudah menjadi calon menantu Bu Tedy….”

“Ah, ..bagaimana ini?…tetapi aku masih yakin akan pandangan Abdi itu. Meskipun tidak terungkap dengan kata, aku yakin Abdi masih mengharap bisa bertemu denganku…karena ketika ia memandang sejenak tadi, pandangan itu masih seperti dulu..” kata Nisa dalam hati.

 

Pada diri Abdi pun terjadi gejolak perasaan yang sulit dilukiskan.

“…Ya Allaah, kenapa aku bertemu dengan Nisa yang aku tunggu-tunggu itu, justru pada saat seperti ini, ketika aku berada dan bersama Ira. Ketika aku datang bersama keluarga Ira…, pastilah Nisa mengira bahwa aku pacar Ira, atau bahkan lebih jauh dari itu….”

Abdi serba salah, ia tidak bisa berbuat banyak kecuali diam saja.

Biarlah Nisa bersama orang lain, menjadi calon istri orang lain, kalau memang itu sudah takdirnya…, aku berusaha ikhlas ya Allaah… Kembali Abdi merintih pada dirinya sendiri.

Sungguh sedih hati Abdi. Karena pertemuan yang tidak sengaja itu, maka menjadi pupuslah harapan Abdi. Meskipun dalam hati kecilnya masih ada tersisa harapan, yang ia sendiri tidak tahu alasannya, mengapa hatinya masih berharap bisa bertemu lagi dengan Nisa.

 

Di tengah kesedihannya itu, kembali Abdi ingat akan sahabat lamanya. Seorang gadis manis sekampungnya, yang juga tidak akan pernah bisa ia lupakan.

“…Ama, di mana engkau sekarang…sungguh senang hatiku, jika kita bisa kembali seperti dahulu, bercanda bersama, bahkan makan pisang goreng bersama…” kenang Abdi untuk melupakan kesedihannya.

Setiap Abdi sedih, secara spontan yang selalu diingatnya adalah Ama. Gadis kecil itu. Karena dengan mengingat Ama, Abdi semacam mendapat obat  mujarab yang bisa menyembuhkan luka di hatinya.

“Ya Allah bisakah aku akan kembali bertemu dengan Ama..? di manakah ia kini berada? ” katanya setengah merintih.

Dengan mengenang Ama, rupanya Abdi menjadi sedikit terhibur. Dan saat itu ia bisa tersenyum kembali meskipun nampak sekali kalau hal itu dipaksakan.

 

Ketika Abdi mencoba melayangkan pandangannya ke arah Nisa kembali, secara kebetulan Nisa pun sedang memandang ke arahnya. Kembali keduanya saling pandang. Dan pandangan kedua mata itu rupanya masih tetap penuh arti seperti dulu. Yang mewakili kata ‘rindu’, kata ‘sayang’, dan kata ‘ingin bertemu’…dan secara hampir bersamaan pula mereka cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain, rupanya mereka menyadari kalau hal itu kurang pantas terjadi karena masing-masing sudah memiliki pendamping. Abdi-lah yang lebih dahulu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Karena ia khawatir kalau Rido sebagai calon suami Nisa akan mengetahui rahasia hatinya…

 

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 20)

BULIR-BULIR KASIH (19)