“Hei, Ir, udah datang? ayo, ayo, masuk, wah ! kami sangat kangen nich, udah enam bulan kamu nggak tinggal bersama kami, nggak ada kamu di rumah jadi sepi lho Ir…”

“Hei, kak Rony, “ teriak Ira gembira.

“Ini kenalkan teman-temanku dari Malang.” Sahut Ira kepada seorang pemuda yang muncul dari kamar sebelah, yang disebut sebagai kakaknya tadi.

“Kak, ini namanya Syarif, dan yang ini Abdi.” lanjut Ira.

“Rif, Di, kenalkan, ini Mama, ini Papa, dan ini Kak Rony, yang besok akan diwisuda.” sambung Ira.

“Wah, selamat ya Kak, “ sambung Ira pula.

“Ayo, ayo masuk, Ir beritahu kepada teman-temanmu, dan tunjukkan kamar mereka, agar cepat bisa istirahat…setelah itu nanti kita ngobrol-ngobrol lagi” kata Ayah Ira.

 

Kamar yang ditempati Abdi dan Syarif terletak di bagian samping rumah yang berdekatan dengan garasi mobil. Di dalam kamar yang ditempati mereka, terdapat sebuah kamar mandi yang sangat bagus bagi ukuran Abdi dan Syarif. Abdi dan Syarif hanya bengong saja melihat kamar mereka yang seperti kamar hotel berbintang. Di sudut kamar itu, terdapat sebuah meja antik yang di atasnya ada sebuah pesawat televisi yang cukup besar. Betul-betul Ira keluarga kaya. Pantas saja ia begitu manja dan cenderung maunya sendiri. Apa yang diinginkan harus tercapai saat itu juga. Pikir Abdi.

Tapi tak apalah, memang ia sejak kecil sudah terpola demikian, lain dengan aku, yang sejak kecil hidup sederhana di sebuah kampung yang jauh dari kemewahan.

Begitu terkenang dengan keadaan kampungnya, kembali Abdi ingat akan ayah bundanya yang saat ini, entah sedang berbuat apa. Mungkin ibunya saat ini lagi memasak di dapur, atau lagi mencuci baju adik-adiknya, atau lagi berdiam diri mencari solusi persoalan keuangan bagi dirinya dan juga bagi adik-adiknya, atau ada aktivitas yang lain. Abdi kembali secara tidak sengaja membandingkan kehidupannya dengan kehidupan Ira, bahkan membandingkan kondisi rumah gubuknya dengan istana Ira, yang bedanya tidak bisa diukur dengan kata.

Abdi hanya bisa menggeleng kepala saja, sambil duduk di tepi ranjang yang juga sangat mewah bagi ukuran Abdi.

 

Tiba-tiba dalam benak Abdi yang lagi larut dalam lamunannya itu, muncul bayangan Ama. Gadis mungil baik hati, yang pernah berebut untuk saling memberi dengan dirinya, sebuah pisang goreng yang tinggal satu.

Ah, di mana gerangan ia sekarang…? bisik Abdi kepada dirinya.

 

***

 

“Ir, kamu besok jadi ikut hadir ke acara wisudaku kan?” kata Rony.

“…sekalian aja, kamu ajak salah satu dari temanmu, soalnya aku ada undangan lebih. Sehingga selain Mama dan Papa, masih bisa dua orang lagi. Jadi kamu dan salah seorang dari temanmu bisa ikut.” kata Rony.

“Tapi besok berangkat agak pagi ya, jangan sampe terlambat ! ” lanjut Rony.

“Betul Kak? Wah kalau begitu aku ngajak Abdi aja deh, biar Syarif yang tinggal di rumah “ jawab Ira dengan nada gembira.

Sejak dari Malang sebenarnya Ira sudah berpikir, bahwa tidak mungkinlah mereka bisa hadir di acara wisuda Kakaknya, sebab biasanya undangan terbatas hanya untuk dua orang saja. Tetapi setelah Kakaknya memberi tahu ada undangan lebih, maka spontan ia sangat gembira, dan Ira pun memilih Abdi untuk menghadiri acara wisuda besok. Kepada Syarif Ira hanya minta maaf sekedarnya saja. Karena memang undangan terbatas.

Meskipun Syarif tidak puas dengan keputusan Ira yang hanya mengajak Abdi saja, ia tidak berani membantahnya. Padahal hati Syarif ingin sekali ia bisa pergi bersama Ira ke acara special itu.

 

* * *

 

Sementara itu, Abdi tidak mau berbantahan dengan Ira yang mengajaknya. Apalagi kelihatannya Mama dan Papa Ira juga lebih setuju kalau yang diajak adalah dirinya, bukan Syarif. Maka Abdi pun menurut saja apa kata mereka.

“Di, ini ada baju Kak Rony yang mungkin cocok buat kamu. Dan ini sekalian dasinya ” Kata Nora kepada Abdi sebelum mereka berangkat.

Abdi tidak banyak membantah, karena ia sendiri tidak punya baju yang cukup bagus untuk dipakai ke acara wisuda. Tentu para tamu undangan lainnya pakaiannya pasti bagus-bagus. Apalagi ini Jakarta. Pikir Abdi. Maka ia pun menurut saja apa yang disarankan Ira kepadanya.

Ketika Abdi mengenakan baju dan dasi dari Ira, yang model dan harganya memang berkelas, maka Ira bertambah kagum kepada Abdi. Sebab Abdi begitu cakepnya memakai pakaian itu. Nampak gagah dan berwibawah. Apalagi di mata Ira, yang memang sudah sejak lama menaruh hati kepada Abdi. Sungguh Abdi bertambah memiliki daya tarik yang luar biasa baginya. Tetapi sebaliknya di mata Abdi, dengan pakaian seperti itu, Abdi merasa bukan seperti dirinya. Ia sangat canggung dengan pakaian semacam itu. Kalau disuruh memilih Ia lebih memilih pakaian yang sederhana saja, yang sesuai dengan kepribadiannya. Apalagi di situ ada Syarif, ia menjadi merasa nggak enak dengan Syarif yang tidak bisa ikut ke acara wisuda.

 

Sekitar pukul enam pagi berangkatlah mereka berlima, yaitu Rony, Papa dan Mamanya, serta Ira dan Abdi. Mereka mengendarai satu mobil menuju ke kampus Rony untuk mengikuti acara wisuda.

Cukup lama mereka duduk di kursi undangan. Sampai Abdi terasa agak bosan dengan acara yang cukup panjang dan lama itu, karena memang pada saat itu yang diwisuda jumlah mahasiswanya sangat banyak. Mereka datang agak kepagian, sementara acara dimulai baru jam sembilan. Sehingga betul-betul Abdi menjadi jenuh dibuatnya.

Tetapi ia tetap berusaha mengikuti saja acara demi acara dengan sabar. Karena memang untuk acara inilah Ira mengajak ia datang ke Jakarta ini.

 

Sekitar jam satu siang, seluruh acara  yang direncanakan oleh panitia telah usai semuanya. Maka dengan penuh riang gembira seluruh undangan bubar, mencari keluarganya masing-masing. Maklum antara kursi wisudawan dan kursi undangan tempatnya terpisah. Sehingga cukup hiruk pikuk dan cukup berjubel orang-orang yang lalu-lalang di tempat upacara wisuda itu. Tidak terkecuali Ira dan orang tuanya. Mereka saling mencari Rony, untuk mengucapkan selamat.

Akhirnya setelah mereka bertemu dan saling berfoto-ria di halaman kampus, baru terasa oleh mereka kalau mereka sangat lapar, karena sedari pagi belum sempat makan yang nyaman, karena ketika berangkat mereka terburu-buru takut terlambat.

“…Kak, di mana ada tempat makan yang enak, tetapi yang dekat sini aja dong, soalnya aku udah lapar banget nih,” kata Ira kepada Rony sambil memegangi perutnya.

“Iya, iya, Ir, aku juga udah lapar nih, kata Mama dan Papa Rony hampir bersamaan.

“Ayo kita ke arah selatan sedikit, di situ ada kafetaria yang bagus, masakannya enak dan tempatnya sangat nyaman.” Kata Rony sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Maka mereka pun bergegas menuju kafetaria yang dimaksud oleh Rony.

 

Kafetaria itu cukup nyaman, bersih, dan asri. Seperti yang digambarkan oleh Rony. Tempatnya masih di areal kampus sehingga tidak sampai naik mobil lagi untuk mencapainya. Dari kejauhan nampaklah bahwa para tamu dan undangan wisuda juga banyak yang datang ke tempat tersebut. Sehingga cukup ramai kafe itu dikunjungi pembeli.

“Wah, untung aja, tidak terlalu jauh.“ kata Ira.

“..itu, tuh, masih ada tempat kosong, ayo ke sana…” kata Ira sambil menunjuk di suatu meja yang masih kosong. Tertulis di atas meja itu angka nomor sepuluh. Yang menunjukkan bahwa mereka duduk di meja urutan sepuluh, sebuah nomor meja untuk memudahkan pelayan menyampaikan pesanan para pembeli.

Sambil melepas lelah, mereka bercanda ria, sambil memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Demikian pula dengan para tamu lainnya, yang rata-rata mereka adalah para undangan wisuda. Maka sungguh menjadi ramai kafetaria yang mereka kunjungi itu. Di setiap meja, para pembeli melakukan aktivitasnya masing-masing. Berisik, bercanda, dan penuh dengan tawa, karena rata-rata mereka sedang berbahagia bersama keluarganya.

 

Di sela-sela Ira dan keluarganya lagi bercanda sambil menunggu pesanan mereka, tiba-tiba dari arah luar kafe datang rombongan lagi yang rupanya juga dari keluarga wisudawan. Terbukti salah satu dari mereka masih menggunakan toga. Kebetulan meja di sebelah tempat Ira dan keluarganya duduk, masih ada meja kosong dengan empat kursinya. Dan kebetulan rombongan yang datang tersebut juga terdiri dari empat orang pula. Maka langsung saja mereka menuju ke tempat meja di sebelah meja Ira dan keluarganya.

Ira tidak ambil peduli dengan kedatangan empat orang ini. Apalagi Abdi sebagai orang asing di acara tersebut, ia diam saja, dan mengikuti saja apa yang dikehendaki oleh Ira.

Beberapa saat setelah rombongan empat orang itu duduk, terlihat pemuda yang masih berpakaian toga itu berdiri untuk memesan makanan yang baru ditulisnya.

“Mbak ini pesanan kami, di meja sebelas ini.” Kata pemuda itu sambil memanggil pelayan kafe yang kebetulan berdiri dekat mejanya.

 

Mendengar suara itu, tiba-tiba Rony yang duduk di samping Ira berteriak gembira :”Hei, Do?! wah, tak pikir siapa yang baru datang ini.”

“Hei, Rony ! tak pikir juga siapa” sahut pemuda itu.

“Ini keluargaku datang dari Surabaya, kenalkan ! “ jawab pemuda itu pula.

“Iya, ini juga orang tuaku, dan ini adikku beserta temannya, ia baru datang dari kota Malang.” Jawab Rony

“Wah, rupanya aku kalah selangkah nih, hahaha.” kata Rony sambil ketawa.

“Kamu udah punya pendamping Do, aku masih didampingi Papa dan Mamaku.he he he..” lanjut Rony pula.

“Oh, Iya…Mam, Pap, kenalkan ini temanku dan orang tuanya yang datang dari Surabaya….” sambung Rony kepada orang tuanya.

Maka Pak Barta dan Bu Barta-pun berdiri untuk menyambut salam perkenalan orang tua teman anaknya itu.

“Saya Barta, orang tua Rony, ini ibunya Rony…” sahut Pak Barta sambil sedikit berjalan ke arah meja nomor sebelas.

“…sedangkan ini Ira anak saya yang kuliah di Malang, dan ini temannya…” sambung Pak Barta pula.

 

Begitu dikenalkan, maka pemuda di meja nomor sebelas itu pun juga berdiri memperkenalkan diri mereka masing-masing.

Abdi  yang sejak tadi menunduk saja, terpaksa mengkuti juga acara perkenalan spontan, dengan keluarga teman Rony itu.

“Saya Rido, Pak, Bu,…selamat siang, saya teman akrab Rony, tetapi nggak pernah ke rumah Rony, jadi baru kali ini saya bertemu bapak dan ibu…” sahut pemuda itu yang ternyata adalah Rido dan orang tuanya.

“Kenalkan ini ibu saya dan ini bapak saya…” jawab Rido.

“Kenalkan, saya Tedy bapak Rido, dan ini ibu Rido.” Jawab Pak Tedy sambil bersalaman dengan Pak Barta ayah Ira.

“Terus yang ini siapa, Nak Rido…?” tanya ayah Ira kepada Rido, sambil menunjuk seorang gadis cantik berbaju putih yang berdiri agak menjauh dari Rido.

“Oh, dia calon menantu kami, dia calonnya Rido Pak…” tiba-tiba Bu Tedy menjawab pertanyaan Pak Barta sebelum Rido menjawabnya.

Dengan bangga Bu Tedy melanjutkan lagi

“Namanya…Nisa…” lanjut Bu Tedy.

 

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 19)

BULIR-BULIR KASIH (18)