‘PERTEMUAN DI KAFETARIA’

Tidak terasa enam bulan telah terlewati sejak Abdi tinggal di kota Malang sebagai mahasiswa, yang akhirnya bertemu dengan Ira gadis asal Jakarta, yang diam-diam menaruh hati kepadanya itu. Lambat laun akhirnya Abdi mengerti juga akan kecenderungan hati Ira yang setiap mereka ketemu, Ira selalu menawarkan jasa baiknya kepada dirinya. Tetapi Abdi sampai dengan hari itu ia tetap masih tidak menunjukkan sikap hatinya kepada Ira, kecuali sebatas sikap baik yang juga ia berikan kepada orang lain. Hati Abdi telah tercuri oleh Nisa, gadis anggun  pembaca al-Qur’an di rumah Syntya dahulu. Meskipun rasanya sulit akan bisa bertemu kembali dengan Nisa lagi, tetapi Abdi tetap tidak bisa melupakan gadis itu. Gadis Surabaya yang masih ada hubungan famili dengan Syntya, yang rumahnya entah di mana, karena ia tidak mengetahuinya.

 

Siang itu, Abdi baru saja keluar dari ruang kuliah, ia bermaksud langsung saja pulang ke rumahnya, karena tidak ada aktivitas apa-apa di kampusnya. Tiba-tiba saja Ira muncul dari arah sebelah kanan Abdi, dari jalan setapak yang menghubungkan ruang kuliahnya dengan ruang kuliah Ira.

“Hei, Di !, mana Syarif? Apakah ia belum keluar ?” tanya Ira kepada Abdi.

“Iya, rupanya ia masih ada kegiatan lain dengan teman-teman sekelompoknya.” Jawab Abdi.

“Oh, iya Di, ini ada undangan dari kakakku, kebetulan sekitar dua minggu lagi ia diwisuda.”

“Aku berharap kamu bisa datang ya, aku juga belum ngomong ke Syarif kok. Nanti sampaikan saja ke dia, kalau aku bermaksud mengajak kalian berdua datang ke rumahku, untuk ikut merayakan wisuda kakakku, hitung-hitung kalian bertemu dan berkenalan dengan keluargaku… Bagaimaana Di? bisa kan?”

“Lho, aku dan juga Syarif, mau kamu ajak ke Jakarta?”

“Ya tentu dong, kan kakakku kuliahnya di Jakarta, masak wisudanya di Malang, hi hi hi, gimana sih Di…”

“Oh iya Di, aku punya inisiatif ini, karena kita kan juga sedang libur di sekitar tanggal itu, setelah kita ujian di akhir semester ini. Jadi kan ndak ada masalah toh?” lanjut Ira.

“…terus, masalah biaya atau ongkos ke sana atau untuk pulangnya jangan dipikirin, aku sudah menghubungi orangtuaku kok, aku sudah diijinkan untuk membawa kalian ke Jakarta. Yakh.., paling-paling  tiga atau empat hari-lah kalian di Jakarta, kemudian kalian bisa kembali lagi ke Malang, atau kalian langsung aja pulang ke kota kalian. Kan liburan masih panjang juga….bagaimana? oke?…”

“Ayo Di, kalau Syarif sih, pasti ngikut aja, jika kamu bisa….”

“Katanya kamu belum pernah ke Jakarta, kan ini jadi sesuatu yang istimewa ? hi hi hi…” kembali Ira mendesak Abdi

“Iya, iya, Ir, nanti tak pikirkan, dan nanti aku ngomong-ngomong dengan Syarif dulu…” jawab Abdi setengah bingung menghadapi ajakan Ira yang cenderung memaksanya itu.

 

“Oke, pokoknya kamu bisa lho ya…nggak ada alasan lain lho Di. Nanti malam ini aku akan calling ke papaku, kalau aku jadi pulang ke Jakarta dan aku juga mengajak dua orang temanku….”

“Oke, Di, …,aku pulang dulu ya, tak tunggu beritanya. Ingat harus jadi lho hi hi hi…” kata Ira sembari pergi ke arah jalan setapak lain, menuju ke tempat di mana mobilnya tadi ia parkir.

 

Sepeninggal Ira, Abdi merenung sendiri, ia berfikir bagaimana caranya menolak ajakan itu. Tetapi rasanya tidak ada alasan bagi Abdi untuk menolak ajakan Ira. Di sisi lain Abdi juga sangat canggung. Sebab ia tidak pernah pergi bersama dengan teman wanita sejauh itu. Ke Jakarta lagi. Kota yang ia tidak tahu, bagaimana situasinya, dan seperti apa kondisinya, kecuali hanya tahu lewat berita-berita di televisi saja.

Satu hal lagi, bahwa secara finansiil ia tidak mempunyai kemampuan untuk bisa pergi ke sana. Abdi sudah bisa membayangkan bagaimana canggungnya ketika ia di Jakarta nanti, sebab ia tidak punya uang, sementara segala sesuatunya  nanti pasti Ira yang akan  menanggungnya. Abdi merasa serba salah. Belum lagi nanti bagaimana dan di mana mereka berdua, yaitu Syarif dan dirinya bermalam? Terus, belum juga memikirkan tentang pakaiannya, yang selalu itu-itu saja. Sementara Ira anak orang kaya, yang pakaiannya setiap hari selalu berganti-ganti…

Ah, bagaimana cara menolaknya? Rasanya nggak mungkinlah aku bisa menuruti ajakan Ira itu. Terlalu banyak hal yang nantinya akan menjadikan aku nggak enak dan salah tingkah, karena kondisiku terasa jauh berbeda dengan diri Ira. Pikir Abdi.

“Hei, Di, ada apa kok berdiri aja di situ ?” tiba-tiba punggung Abdi ditepuk oleh Syarif yang baru keluar dari ruang kuliahnya.

“Hei, Rif, baru keluar?, ndak ada apa-apa kok…, cuma barusan aja Ira menemui aku, ia bermaksud mengajak kita untuk pergi ke Jakarta liburan ini, sebab kakaknya, hari Sabtu dua minggu ke depan ini ia diwisuda…” jawab Abdi.

“Wah, asyik dong,..” jawab Syarif spontan.

“Terus bagaimana, kamu menjawabnya?” tanya Syarif kembali

“Aku masih bingung Rif, pergi kesana kan nggak sekedar pergi, meskipun semuanya sudah ditanggung oleh Ira, tetapi…ah, udahlah aku masih bingung menjawabnya. Padahal hari ini Ira akan menghubungi Ayahnya, tentang kepastiannya. Bagaimana enaknya Rif?”

“Ah, udahlah Di, kenapa terlalu banyak pikiran, kan semuanya sudah ada yang nanggung, Ira kan tahu kondisi kita, ia pasti sudah memikirkan bagaimana nanti di sana…iya kan??, nanti aku aja yang menjawabnya, bahwa kita jadi berangkat. “ sambung Syarif.

“Ini kan kesempatan kita untuk bisa ke jakarta Di, kan kita sama-sama belum pernah ke sana, iya kan he he he..”

“Iya dah…” jawab Abdi pendek.

“Ha ha ha ….” Syarif pun tertawa panjang mendengar jawaban Abdi yang akhirnya jadi menyerah itu.

 

* * *

 

Hari itu, Jum’at pagi. Sekitar jam enam taksi yang ditumpangi Abdi, Ira dan Syarif meluncur dari stasiun Kereta Api Gambir menuju tempat tinggal Ira, di kawasan Jakarta Selatan. Ira begitu gembiranya bisa mengajak Abdi untuk bertemu dengan keluarganya. Sebab selama ini Ira yang hatinya tertambat pada diri Abdi sering cerita kepada orangtuanya melalui telepon tentang diri Abdi yang baik, yang pendiam, yang pintar, yang cakep dan sebagainya. Maka inilah kesempatan Ira memperkenalkan diri Abdi kepada keluarganya.

Abdi yang sejak di Kereta Api sulit tidur terutama memikirkan bagaimana nantinya ia bertemu dengan keluarga kaya itu, tiba-tiba terhenti dari lamunannya, karena taksi yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah. Tampak Ira menelpon melalui HP kepada orang tuanya. Beberapa saat kemudian pintu pagar yang bercat putih tulang itu, bergeser perlahan ke kiri, dan dari sebelah dalam kelihatan seorang anak lelaki yang mendorong pintu pagar itu. Rupanya dia adalah salah satu pembantu di rumah itu. Abdi dan Syarif hanya terbengong kagum menyaksikan dari dalam taksi, rumah Ira yang begitu besar dan mewah itu.

Halamannya luas, indah dengan tertatanya berbagai macam tumbuhan dan bunga. Rumah besar itu bertingkat dua. Di serambi bagian atas tersusun berbagai macam bunga anggrek yang indah-indah. Terlihat oleh Abdi berbagai jenis anggrek ada di serambi rumah atas itu. Ada Anggrek Bulan, Vanda, Dendrobium, Catlya, maupun Oncydium. Kebetulan Abdi ketika di SMA, ia pernah akrab dengan bunga Anggrek ketika pelajaran IPA, sehingga ia masih cukup hafal jenis-jenis itu.

Di bagian serambi bawah, terdapat satu set kursi teras yang sangat bagus yang sangat sesuai dengan warna dinding rumah itu. Di bagian kiri depan rumah agak menyudut, terlihat beberapa pohon sejenis Palmae. Tampak ada  lima buah pohon Palem Putri (Veitchiia merrillii) yang disusun secara berjajar, dan ada sebuah Palm Kipas (Corypha utan Lamb) yang  ditanam agak ke tengah, sehingga nampak lebih anggun. Dengan penataan berbagai tumbuhan berkelas tersebut menambah megah dan mewahnya rumah itu.

Untuk menambah kesan agar rumah itu nampak lebih cantik, di sudut kanan dekat pagar, ditanami pohon Bugenvil (Bougainvillea Var) yang memiliki bunga berbagai macam warna. Sungguh tertata sekali. Pikir Abdi.

 

“Hei, ayo turun, kita sudah nyampai…ini rumahku..” kata Ira gembira.

Abdi dan Syarif, cukup terkejut atas panggilan Ira. Selanjutnya mereka  berjalan masuk lewat pintu sebelah kiri rumah, yang menghubungkan dengan garasi mobil yang sangat luas. Syarif tidak henti-hentinya memandang ke kiri dan ke kanan melihat bangunan rumah itu. Garasinya begitu besar dan bersih. Ada dua mobil bagus yang tampak di dalam garasi tersebut, satunya mobil jenis sedan, yang satunya lagi jenis mobil keluarga yang dua-dua berwarna silver. Kedua mobil tersebut lagi dibersihkan oleh seseorang, yang kelihatannya ia juga pembantu di rumah itu.

“Mama, Papa.., Ira sudah datang ! ” teriak Ira begitu mereka bertiga sampai di sebuah pintu yang menghubungkan dengan ruang keluarga.

 

“Hei, anak Mama,…udah datang?” jawab seorang wanita cantik yang muncul dari dalam rumah itu, ia bersama seorang lelaki berumur sekitar lima puluh lima tahun, yang nampaknya ia adalah ayah Ira.

 

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 18)

BULIR-BULIR KASIH (17)