‘RAHASIA HATI’

Mobil sedan sport warna merah itu, melaju begitu kencangnya. Di belakang kemudinya duduk seorang dara manis memakai baju warna merah dengan  celana jeans biru tua, serta ikat rambut juga warna merah, membuat penampilannya nampak menjadi lebih keren. Tetapi keceriahan warna baju dan ikat kepala warna merah itu tidak bisa menutupi raut wajahnya yang menunjukkan perasaan tidak senang.

Abdi duduk di depan, di samping Ira yang sedang mengemudikan mobilnya, sedangkan Syarif berada di jok belakang. Ketiganya tidak berbicara, karena suara tape recorder dari mobil tersebut cukup keras mengiringi jalannya mobil yang melaju dengan cepat menuju tempat tinggal Abdi dan Syarif yang berada di dekat kampus mereka.

 

Tidak seberapa lama, maka sampailah mereka di depan rumah Abdi dan Syarif. Oleh Ira mobil diparkir tidak jauh dari rumah Abdi. Setelah itu ia ikut turun masuk ke rumah Abdi. Nampak Ira agak sedikit ngambek, ia duduk di ruang tamu dan diam saja, tidak sepatah-kata pun keluar dari mulutnya. Bahkan sejak mereka pulang dari rumah Syntya, dan masuk ke dalam mobil, suara tape recordernya dikeraskan oleh Ira, sehingga mereka tidak banyak bicara, sampai di tempat tujuannya yaitu di rumah Abdi dan Syarif.

Melihat tingkah Ira ini, Abdi dan Syarif tidak habis mengerti. Kenapa tiba-tiba Ira diam saja.

Maka Syarifpun memberanikan diri, untuk bertanya kepada Ira.

“Eh, Ir ada apa? Kok tiba-tiba kamu tidak seceria tadi ketika kita berangkat bersama? Apakah ada sesuatu yang menyebabkan kamu menjadi kesal? Atau ada apa?” tanya Syarif.

“Ndak, tidak ada apa-apa !” jawab Ira pendek.

“Ah, jangan gitulah, kita kan jadi nggak enak, ada apa sih Ir,…”

“Tanya aja pada Abdi, tuh !…” tiba-tiba Ira menjawab dengan agak cemberut.

“Lho, Di, ada apa dengan kamu?” tanya Syarif pula.

“Aku…? Aku merasa tidak ada apa-apa…” jawab Abdi polos. Karena ia betul-betul tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Ira.

“Tapi kenapa Ira jadi menghubungkannya dengan dirimu Di?” sahut Syarif pula sambil memandang Ira dengan ekspresi yang nampak bingung.

Beberapa saat ketiganya terdiam. Tidak tahu harus bicara apa.

“Ok-lah aku pulang dulu, besok kita ketemu di kampus…” kata Ira sambil bergegas menuju mobilnya.

“Lho, Ir, koq cepat amat. Gak ngobrol dulu nich, biasanya kan kita ngobrol-ngobrol dulu…” sahut Syarif.

“Besok aja-lah hari ini aku agak malas…” Jawab Ira, sambil pandangannya sedikit ditujukan ke arah Abdi.

“…makasih ya Ir…” sahut Abdi, yang masih merasa bingung atas sikap Ira yang berubah secara tiba-tiba itu.

Ira tidak menjawab ucapan Abdi, ia terus pergi ke arah mobilnya. Sesaat kemudian terdengar deru suara knalpot mobil Ira yang bertambah lama bertambah menjauh dari rumah mereka.

Tinggal-lah Abdi dan Syarif yang masih pusing dengan tingkah Ira yang berubah semacam itu. Seingat mereka tidak pernah Ira menunjukkan sikap semacam itu. Tapi kenapa setelah datang dari rumah Syntya tadi, Ira tiba-tiba menunjukkan sikap males bicara bahkan cenderung jengkel.

Tiba-tiba Syarif berteriak lirih kepada dirinya sendiri.

“Ah, tahu, aku !!” katanya.

“Apanya yang tahu…?” sahut Abdi.

Tapi Syarif tidak menjawab, bahkan diam saja. Karena ia berusaha menyimpan jawaban yang baru saja ia temukan itu.

Syarif berfikir keras kenapa tiba-tiba Ira merasa malas bicara, dan cenderung jengkel terutama kepada Abdi ?

 

Ia baru ingat, tadi ketika mereka mau pulang, secara tidak sengaja Syarif menangkap pandangan mata Ira yang tidak senang, ketika Abdi berkenalan dengan Nisa, gadis cantik si pembaca al-Qur’an itu. Sebab ketika Abdi dan Nisa berkenalan meskipun masing-masing hanya sekadar menyebut nama, dan tidak berjabat tangan, tetapi pandangan keduanya menatap agak lama, seolah ada daya magnet kuat yang membuat mereka saling berpandangan penuh arti. Dan moment sesaat ini rupanya tidak luput dari rekaman mata Ira. Yang membuat wajah Ira saat itu sedikit berubah. Nah ! rupanya inilah kunci jawaban dari sikap Ira tersebut.

Dan ini merupakan tanda-tanda nyata, bahwa Ira lagi cemburu! pikir Syarif.

Selama ini meskipun tidak secara jelas, Syarif memang bisa menangkap bahwa Ira sangat menaruh perhatian besar kepada Abdi, meskipun hal itu belum pernah diungkap secara terang-terangan. Tetapi celakanya Abdi nampaknya tidak merasakan hal itu.  Kira-kira inilah yang menyebabkan Ira mempunyai sikap yang nampak jengkel kepada Abdi.

“Bagaimana Rif, apakah kamu tahu penyebabnya, kenapa Ira tadi bersikap seperti itu?” tanya Abdi.

Terkejut juga Syarif, ditanya Abdi semacam itu.

“Tahu-lah…, aku juga hanya mencoba-coba nebak aja…” jawab Syarif pendek.

“Berarti kamu tahu jawabnya?” tanya Abdi

“Di, mari,..sini kita sedikit bincang-bincang…”

Kata Syarif sambil menggandeng tangan Abdi untuk diajak duduk di kursi tamu mereka.

Ketika mereka sudah duduk di kursi tamu yang sederhana itu, Syarif mulai membuka pembicaraan.

“Begini Di,….”

Syarif beberapa kali menelan ludah, tidak jadi menyampaikan apa yang dipikirkannya sesaat yang lalu, sebab tiba-tiba ia berubah pikiran.

Katanya kemudian : “ …ee,..mungkin aja Ira lagi kecapaian Di. Dia mau ngajak cepat-cepat pulang, tetapi kamu saat itu dicari-carinya nggak ada. Soalnya kan kita duduk di depan, serta tempat meja makan para undangan laki-laki kan tidak sama dengan undangan perempuan….yah.. maklum ajalah ! “ kata Syarif cukup bingung mencari alasan.

“…biar aja-lah !, toh besok Ira kan juga sudah ketemu lagi dengan kita….” Jelas Syarif, yang sangat sulit memberi alasan kenapa Ira tadi agak cemberut.

“Tapi kalau alasannya hanya itu, kan aku tidak bersalah…? Tukas Abdi lagi.

Syarif serba salah, karena memang alasan yang diberikan kepada Abdi tidak menjawab permasalahan.

Syarif mengatakan hal tersebut, sebab Syarif sendiri, berubah pikiran, ia ingin mengambil kesempatan, ketika Abdi tidak mengerti bagaimana kondisi hati Ira sebenarnya.

 

Syarif, sejak pertama berkenalan dengan Ira, sebenarnya ia sudah menaksir Ira. Tetapi Syarif melihat bahwa Ira lebih memberikan perhatiannya kepada Abdi dibanding kepada dirinya. Maka disimpannya saja isi hatinya tersebut. Dan kini, begitu Abdi ternyata tidak membalas perhatian yang diberikan Ira, maka Syarif menjadi gembira. Inilah kesempatan itu. Pikir Syarif. Maka ia pun tidak mau membongkar rahasia hati Ira kepada Abdi.

Syarif mengetahui bahwa kelihatannya, Abdi sangat tertarik kepada Nisa, si pembaca Al-Qu’ran ‘dadakan’ itu. Maka muncullah pikiran di hati Syarif bahwa untuk seterusnya, ia akan berusaha semampu mungkin untuk mendekatkan hubungan Abdi dan Nisa, agar Ira mengetahui bahwa Abdi tidak menaruh perhatian kepadanya. Artinya Syarif akan bisa mendekati Ira ! maka diam-diam Syarif tersenyum sendiri

 

Tetapi Syarif sangat menyadari, bahwa mereka bertiga adalah teman akrab, maka jangan sampai hubungan mereka retak. Karena itu Syarif akan mencoba berupaya sehalus mungkin, agar mereka tetap menjadi teman, tetapi di sisi lain ia harus bisa mengambil hati Ira.

 

“Eh, Rif, kamu mikir apa? Kok kelihatannya serius bener ?”

Tiba-tiba Abdi menegur Syarif.

“Eh, oh, nggak koq, aku hanya sedikit melamun aja…”

Jawab Syarif sekenanya.

“Oh, iya Di, bagaimana pendapatmu tentang pembaca al-Qur’an ‘dadakan’ tadi?”Tanya Syarif mengalihkan pembicaraan.

“Menurutku Di, ia sangat luar biasa! suaranya mengalun merdu, bacaannya  sangat pas. Dan yang hebat lagi adalah wajahnya….wah, cantik dan anggun sekali.” Lanjut  Syarif.

“Apa kamu nggak kepingin berkenalan dengan dia Di ?” tanya Syarif sambil menatap wajah Abdi.

“..iya, Rif, aku sangat terkesan dengan penampilannya tadi…” jawab Abdi.

“Maksud hati sih, pingin berkenalan, tetapi kan ya tidak mungkin toh..!” lanjutnya.

“Ah, itu sih, gampang Di, nanti aku akan mencari informasi ke Syntya, siapa tahu kamu akan bisa bertemu dengan gadis yang cantik dan anggun itu.”

“Yakh…terserahlah, tetapi aku rasa kok sangat kecil kemungkinannya, sebab ia kan berada di Surabaya…”

“Ah, Malang – Surabaya kan dekat aja Di, jangan kuatir deh,…he he he…” jawab Syarif dengan diselingi ketawa, yang menandakan hatinya sangat gembira.

 

Abdi tenggelam dalam lamunannya, begitu Syarif menawarkan akan berusaha mencari tahu tentang Nisa, sang gadis anggun yang menjatuhkan hatinya itu.

Bisakah aku berkenalan dengannya? Apa mungkin? Aku berada di kota Malang, sementara Nisa berada di Surabaya, bahkan alamat pun aku juga tidak tahu di mana Nisa berada, rasanya mustahil aku bisa bertemu lagi dengannya. Tapi siapa tahu bisa? betapa senang hatiku jika aku bisa bertemu dan sekaligus bisa berkenalan lebih jauh dengannya.

 

Syarif memandang tersenyum menyaksikan ekspresi Abdi yang lagi melamun. Ia tahu apa yang ada di benak Abdi. Pasti dia ! siapa lagi kalau bukan Nisa, gadis berjilbab putih si pembaca ‘dadakan’ itu. Aku tahu rahasia hati Ira, dan aku pun mengerti rahasia hati Abdi. Aku harus bisa mengambil kesempatan ini untuk mendekati Ira. Pikir Syarif.

Syarif melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat, sementara Abdi tetap duduk di kursi ruang tamu dengan pandangan sayu, serta ekspresi yang mencerminkan bahwa pikirannya sedang melayang jauh terbawa mobil kijang warna biru yang membawa Nisa pergi ke Surabaya.

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 17)

BULIR-BULIR KASIH (16)