“Terus terang Dik, sampai sekarang ini aku belum berniat mencari pendamping hidup, sebab aku ingin sekali bekerja lebih dahulu, dan bisa sukses lebih dahulu dalam mengelola perusahaan ayahku. Setelah itu barulah aku cari seseorang untuk mendampingiku selamanya….” Kata Rido sambil menghela nafas.

“…kalau Dik Nisa bersedia ikut kami ke Jakarta setelah waktunya tiba nanti, sungguh aku sangat berterima kasih.”

“…tetapi perlu Dik Nisa ketahui bahwa dengan ikutnya Dik Nisa nanti, berarti ibuku menganggap Dik Nisa sebagai calon istriku. Karena itu aku minta maaf sebelumnya, jika perasaan Dik Nisa nantinya menjadi nggak enak. Tetapi percayalah, lambat laun nanti biar ibuku tahu sendiri, bahwa aku dan Dik Nisa sebenarnya lebih suka berhubungan sebagai kakak dan adik…”

“Maaf…Dik, kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu…” kembali Rido minta maaf.

 

Suasana menjadi sunyi setelah Rido menyampaikan seluruh isi hatinya kepada Nisa. Rido terdiam takut kalau kata-katanya menyinggung Nisa, sementara Nisa hanya terdiam dan trenyuh, sampai hampir meneteskan air mata…Ah, sungguh bijaksana hati Mas Rido ini. Pikir Nisa. Kasihan dia. Sebagai seorang anak, ia tetap  menghormati orang tuanya, tetapi di sisi lain ia bisa mengambil jalan keluar dengan tidak memaksakan kehendak. Sungguh berbeda dengan ibunya yang selalu harus dituruti apa yang diinginkannya, dengan cara yang kasar, angkuh, dan mau menangnya sendiri.

 

Bagaimanapun, sejelek dan seburuk apapun, ibu adalah tetap ibu. Yang harus dihormati oleh anak-anaknya. Kata Nisa dalam hatinya.

Memikirkan keadaan Rido yang selalu patuh dan menghormati ibunya ini, mata Nisa kembali berkaca-berkaca. Karena ia langsung teringat pada ibundanya yang meninggal ketika ia masih berumur sekitar sebelas tahun. Ibunya sangat baik, sangat menyayanginya, sangat halus tutur katanya, sangat lembut perilakunya…, Nisa tak kuasa menahan tetesan air matanya yang sejak tadi hampir jatuh ke pipinya.

Nisa hanya bisa merenung “ …Alangkah baiknya ibuku, alangkah indah tutur katanya, kenapa Allah sudah memanggilnya ketika aku belum bisa membalas kasih sayangnya, belum bisa berbuat apa-apa untuk membalas cinta kasihnya yang tulus itu…”

 

Di saat seperti itu, kembali Nisa teringat akan ayat al-Qur’an, sebuah ayat yang memberi peringatan kepada seluruh manusia, agar selalu berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Tidak boleh membentak kepadanya, bahkan agar seorang anak kalau berbicara kepada kedua orang tuanya, bicaralah dengan cara yang lembut kepadanya.

Nisa hafal betul ayat ini, karena ia sering membacanya. Maka tanpa terasa ia melantunkan dengan lirih ayat yang mengajarkan cinta dan hormat kepada kedua orang tua ini tanpa ia menyadarinya. Dan tanpa disadari oleh Nisa, Rido terus mengikuti ekspresi wajah Nisa yang lagi sedih itu.

 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (al-Israa’ : 23)

 

“Dik Nisa menangis…? Maafkan aku, jika aku salah…” kata Rido setengah gugup, ketika ia melihat ada setetes air mata yang jatuh ke pipi Nisa.

“Oh, nggak Mas,…aku hanya lagi sedih aja, teringat kepada kedua orang tuaku di kampung…” jawab Nisa.

Kembali Nisa tenggelam dalam perasaannya.

Ketika Nisa sudah bisa menguasai perasaannya kembali, ia memandang kepada Rido dengan pandangan kagumnya. Pikirnya, Mas Rido ini tidak mengerti isi al-Qur’an, belum pernah mengerti tentang ayat-ayat yang mewajibkan seorang anak harus menghormati orang tuanya, tetapi ia begitu bijaksana dalam mengambil keputusan. Sungguh sangat baik Mas Rido ini. Kata Nisa dalam hati sambil mengusap air matanya yang terus meleleh di pipinya.

 

“Mas Rido, Aku tidak mengerti jika situasi hati Mas Rido seperti itu,…aku bisa mengerti dan bisa memaklumi sekarang…aku bisa ngerti Mas… Baiklah Mas, insya Allah kalau tak ada halangan yang berarti, aku mau kalian ajak ke acara wisuda itu….” Jawab Nisa dengan nada rendah.

“Ah,…terima kasih adikku yang manis…, nah! sekarang lepaslah beban di hatiku yang selama ini aku pikirkan itu…” jawab Rido gembira.

“…nanti ketika kita ke Jakarta, baik selama dalam perjalanan, atau pun ketika di sana Dik Nisa harus mampu bermain sinetron ya, ha ha ha…agar ibuku merasa senang hatinya. Aku sendiri tidak sampai hati membohongi beliau, tetapi inilah keadaan hatiku, dan keinginan beliau…Dik.” Kata Rido lagi.

“Baik Mas, insya Allah…” Jawab Nisa pendek.

 

Nisa masih merasa sedih dan juga bingung, antara haru dan heran bercampur menjadi satu. Karena hanya dalam waktu dua hari saja, ia kini punya hubungan baik dengan Rido, yang sebelumnya ia anggap sebagai seorang yang kasar, congkak dan angkuh seperti Bu Tedy.

Kini Nisa tidak lagi canggung dengan kehadiran Rido, ia begitu senang. Karena sudah jelas bahwa kedatangan Rido, bukan seperti yang dikehendaki oleh ibunya, tetapi Rido justru menganggapnya sebagai seorang sahabat, bahkan cenderung menganggap adik kepada dirinya. Seperti juga dirinya yang sejak dahulu kepingin sekali punya seorang kakak. “Ah, senang sekali rasanya “ gumam Nisa pada dirinya sendiri.

 

Tetapi tiba-tiba kembali Nisa terpikir pada Bu Tedy dan Bibinya. Wah, nanti bagaimana dengan ibunya Mas Rido dan juga Bibiku, yang menghendaki aku dan Mas Rido menjadi suami istri?

Ah, biarlah.., yang penting aku dan Mas Rido sudah memahami keadaan kami masing-masing…pikir Nisa lagi.

Dalam kondisi kebingungan semacam itu, maka Nisa menyandarkan semua persoalannya kepada sang Pencipta, yang selalu melindungi dan memelihara hamba-hambaNYa.

     “Ya Allah Tuhanku, Engkaulah Dzat Yang Maha Mengatur segala urusan manusia, Yang Maha Mengawasi lagi Maha Mencintai. Ya Allah berikanlah kepada kami jalan yang terbaik, jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai, sehingga Bu Tedy dan Bibi, pada saatnya nanti akan bisa mengerti dan memaklumi hubungan kami,…”  rintih Nisa dalam hati…

 ———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 16)

BULIR-BULIR KASIH (15)