….mungkin saja masih banyak ayat-ayat lain yang lebih indah dari yang aku baca tadi. pikir Rido. Sebab pada saat itu secara tidak sengaja ia hanya melihat beberapa ayat saja.

 

Maka keesokan harinya Rido kembali menemui Nisa dengan maksud untuk minta penjelasan atau untuk belajar memahami ayat-ayat al-Qur’an.

“Dik Nisa, kemarin, aku secara tidak sengaja membaca beberapa ayat al-Qur’an, yang kebetulan terbuka ketika jatuh di meja kerja ayahku. Wah, saya menjadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak lagi isi al-Qur’an itu. Bisakah Dik Nisa membantu aku untuk memahami isinya?…”

 

Nisa memandang mata Rido dengan sedikit agak tidak percaya mendengar pernyataan tersebut. Benarkah apa yang dikatakan Rido barusan itu? Pikir Nisa. Tidak salah dengarkah ia? Sebab Rido adalah putra satu-satunya Pak Tedy dan Bu Tedy yang terkenal kaya, tetapi tidak pernah menyentuh kehidupan agama, meskipun mereka mengakunya beragama Islam. Bahkan ketika telah tiba waktunya shalat Jum’at Pak Tedy tidak pernah kelihatan pergi ke masjid.

Yang masih sedikit menunjukkan bahwa Pak Tedy sekeluarga beragama Islam adalah, ketika tiba waktunya hari raya Idul Fitri, mereka nampak merayakan idul fitri dengan meriah. Bajunya baru, terus Pak Tedy juga nampak membagi-bagi uang kecil kepada anak-anak di kampungnya. Selain itu mereka pernah juga datang ke acara halal bi halal yang di adakan oleh panitia di kampungnya. Tetapi shalat sebagai kewajiban seorang muslim, tidak pernah Pak Tedy maupun Bu Tedy lakukan….kembali Nisa bertanya pada dirinya. Benarkah pernyataan Rido tadi? Nisa masih terus termangu mendengar perkataan Rido.

 

Nisa terkejut dari lamunannya, ketika Rido bertanya lagi.

“Bagaimana Dik Nisa? bisakah saya belajar lebih jauh tentang isi al-Qur’an? Terus terang saja, saya tidak bisa membaca huruf-huruf al-Qur’an, tetapi saya sangat tertarik dengan isi al-Qur’an yang begitu bagus dan indah itu…”

 

“Oh, iya, Mas…., saya sangat senang jika Mas Rido tertarik dengan al-Qur’an. tetapi saya juga tidak bisa memberi penjelasan secara detail, sebab al-Qur’an itu wahyu Allah yang begitu dalam maknanya. Saya juga masih belajar sedikit-sedikit tentang pemahamannya. Yang saya kuasai sampai saat ini, adalah sekedar bisa membaca huruf-hurufnya saja dengan sedikit bisa melagukannya. Mengenai kandungan isinya, setiap orang harus terus belajar Mas, baik melalui guru khusus, mendengarkan pengajian-pengajian, membaca buku, atau dengan cara yang lainnya. Tetapi saya ikut senang, jika Mas Rido sudah mempunyai keinginan untuk belajar. Semoga Allah Swt memberikan ridho-Nya kepada Mas Rido….Insya Allah…” jawab Nisa dengan pandangan matanya yang berseri.

“Terima kasih Dik Nisa !”

“Saya berjanji, mulai saat ini, saya akan belajar. Saya akan membeli buku-buku, kaset-kaset pengajian, ataupun kalau di kampus ada kegiatan yang berkenaan dengan agama, saya akan datang, dan akan belajar dengan serius….Satu lagi Dik, saya mulai hari ini, akan melakukan shalat dengan serius. Meskipun masih belum tahu artinya, bahkan bacaannya juga masih banyak yang belum tahu, saya akan berusaha melakukannya…Dik.” Kata Rido.

Alhamdulillaah…sungguh Mas?!”

“Iya Dik…” jawab Rido dengan suara mantap.

 

“Dik Nisa, kita baru aja berkenalan, tetapi aku merasa sepertinya kita sudah lama berteman. Terima kasih atas perhatian Dik Nisa kepada saya. Saya senang sekali karena di rumah saya juga sendirian, nggak ada adik, juga nggak punya kakak. Rasanya sekarang aku lebih bergairah dan bersemangat dalam kehidupan ini, karena punya sahabat baru yang pinter dan manis he he he..”

“Eh, iya, ngomong-ngomong, aku belum tahu nich,…apakah Dik Nisa sekarang ini sudah punya pacar? Kalau sudah, kapan-kapan dikenalkan ya, aku dengan pacarmu? Wah, tentu sangat bahagia kalian….”

“Atau kalau belum, di Jakarta aku punya teman, ia baik sekali Dik. Apakah mau Dik Nisa kalau kapan-kapan ia aku ajak ke sini, sekedar main-main saja?”

 

“Ah, ada-ada saja Mas Rido ini…” Jawab Nisa.

Sambil menjawab, pikiran Nisa tiba-tiba teringat pada Abdi lagi. Memang sampai dengan sekarang ini, tidak pernah terlintas dalam hati Nisa, apakah ia sudah punya pacar atau tidak. Yang penting Nisa setiap hari mengajar mengaji pada anak-anak didiknya. Itu saja yang terpikir dalam benaknya. Begitu Rido menanya soal pacar, Nisa hanya tersipu malu saja, tetapi secara naluri keremajaannya, ia memang butuh teman, paling tidak untuk curhat. Ketika ditanya semacam itu, maka ia kembali teringat kepada Abdi. Seseorang yang pernah bertatap mata, dan yang membuat degub jantungnya bertambah cepat ketika ia bertemu dan sempat berkenalan sepintas di rumah Syntya dulu.

 

“Wah, lagi mikir pacar nich…, bagaimana Dik?…” tanya Rido lagi.

“Oh, ndak, ndak, kok, aku tidak mikir apa-apa koq Mas,…” jawab Nisa agak gugup.

“Ah, udahlah..! kapan Mas Rido pulang ke Jakarta?“ Balas Nisa sambil mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin besok malam Dik, naik Kereta Api yang sekitar jam tujuh malam dari Surabaya, atau yang jadwal sore sekitar jam tiga empat lima menit dari Stasiun Kota Baru Malang. Tetapi mungkin aku cenderung memilih yang dari Surabaya aja, soalnya datangnya lebih pagi. Sekitar jam lima lebih empat puluh lima menit udah nyampai di Jakarta.” Jawab Rido.

“Iya, dah, selamat jalan ya Mas…” jawab Nisa kembali.

“Iya, terima kasih Dik…”

“Dik Nisa…, aku minta maaf ya…” tiba-tiba Rido berkata dengan nada yang serius.

“Ada apa Mas…?” jawab Nisa dengan pandangan selidik, sebab Rido tiba-tiba berubah nada bicaranya.

“Dik Nisa tahu kan ibuku? yang kemarin datang ke rumahmu?”

“Iya, kenapa dengan ibu Mas Rido?”

“ …sebenarnya, ibuku datang ke rumah Dik Nisa kemarin itu, tujuannya adalah untuk meminang Dik Nisa. Beliau mau menjodohkan aku dengan Dik Nisa….maaf Dik.”

“Aku kesini ini pun disuruh oleh ibu untuk berkenalan dengan Dik Nisa, tujuannya agar kita saling berkenalan lebih jauh, maaf…Dik, harapan ibuku agar kita menjadi suami istri…” kata Rido hati-hati, sambil melirik ke arah wajah Nisa untuk melihat ekspresinya. Sebab Rido takut kalau Nisa akan tersinggung dengan ucapannya yang terus terang itu.

“Tetapi setelah kita berkenalan, dan aku mengetahui Dik Nisa, aku sekarang sedikit bisa menebak, bahwa di hati Dik Nisa sebenarnya sudah punya seseorang…”

“Sedangkan tentang hatiku, sebenarnya aku juga tidak setuju dengan kemauan ibuku yang mau menangnya sendiri itu. Aku sangat suka dan senang bertemu denganmu, tetapi aku kepingin bahwa kita ini, akan bisa terus bersama dalam keadaan bersaudara.”

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba hatiku pingin sekali menganggap Dik Nisa sebagai adikku. Yang manis, yang cantik, yang pintar,…ah, senang sekali rasanya…”

“…kalau aku tidak salah lihat, mudah-mudahan demikian pula anggapan Dik Nisa kepadaku…Sungguh aku sangat senang dan sangat berterima kasih jika Dik Nisa mau menganggapku sebagai saudara, sebagai kakak yang sedang mendambakan seorang adik….” lanjut Rido

 

“Dik Nisa, aku sangat tahu kebiasaan ibuku,…” kata Rido selanjutnya

“Kalau ada kata-kata dan tindakan beliau yang salah dan mungkin menyinggung perasaanmu, sungguh aku minta maaf untuk beliau…! Karena memang begitulah ibuku Dik….”

Nisa tidak tahu harus menjawab bagaimana, dengan berbagai keterangan dan pernyataan maaf Rido kepadanya itu. Maka ia hanya bisa diam dan menundukkan kepala saja.

“Satu lagi Dik Nisa…,” lanjut Rido

“Sebenarnya yang paling diinginkan ibuku dalam waktu dekat ini, adalah Dik Nisa bisa mendampingi aku dan keluargaku ketika aku nanti diwisuda. Sebab ibuku ingin sekali ada seseorang yang sudah ada di sampingku, ketika aku lulus kuliah nanti.”

“Karena itu kalau Dik Nisa tidak berkeberatan, aku mohon keikhlasan Dik Nisa, untuk bisa mendampingiku, ketika wisuda nanti. Agar ibuku juga bisa senang dan terhibur.” Pinta Rido dengan nada rendah yang hampir tidak terdengar…

 

———————————————- bersambung (Bulir-Bulir Kasih 15)

 

BULIR-BULIR KASIH (14)