‘SURAT DARI TUHAN’

“…Bagaimana anakku..? sukses ya, kamu berkenalan dengan Nisa si gadis cantik itu?” Tanya Bu Tedy ketika Rido sampai di rumahnya.

“Iya Bu, ternyata dia adalah anak yang betul-betul baik…”

“Saya kagum Bu padanya…” sambung Rido.

“Terus bagaimana tanggapan Nisa kepadamu, apakah ia senang dengan kedatanganmu tadi?”

“Wah, dia sangat senang Bu, sampai lama kami bercanda,…wah kenapa ya tidak sejak dulu kami bertemu, kan lebih asyik Bu, ada seseorang yang bisa Rido ajak untuk diskusi, dan juga curhat..! ”Jawab Rido.

“Nah ! iya kan, bagus kan pilihan ibumu? Terus kapan Do, kira-kira ibu bisa ke rumah Bu Sadiq lagi untuk meminangnya ? jangan lama-lama lho Do, kamu kan sudah semester tujuh, sebentar lagi sudah wisuda. Lebih cepat lebih baik Do. Ibu sudah tidak sabar lagi nih, ingin menimang cucu yang cantik seperti Nisa, hi hi hi…”

 

“Wah, gawat nih,…!” pikir Rido.

Ternyata ibunya, sudah menjurus ke arah pernikahan, padahal dirinya senang dengan Nisa sekedar sebagai seorang kakak yang sejak dulu menginginkan kehadiran seorang adik. Tentu tak sampai hati aku menjadikan Nisa sebagai istriku. Toh dia juga nampaknya menganggapku tidak lebih sebagai seorang kakak….wah, wah, gimana nich..! pikir Rido.

 

“Eh, eh, gini Bu, Rido masih belum berkeinginan menikah dalam waktu dekat ini, nanti ajalah Rido pikirkan lebih serius. Sebab Rido pingin kerja dulu, seperti harapan Ayah, agar perusahaan Ayah nanti cepat-cepat ada yang mengendalikan. Kan Ayah sudah cukup tua Bu..kasihan kalau kerja terus…”

“Setelah Rido cukup berpengalaman, nah ! saat itulah nanti Rido mengambil keputusan untuk menikah. Iya kan Bu??!”

“Jangan kuatir Bu, setiap Ada kesempatan libur nanti Rido pasti pulang, dan Rido akan ke rumahnya Nisa. Karena Rido sangat suka kepada Nisa, dan nampaknya Nisa juga senang dengan kedatangan Rido, Bu…”

 

Bu Tedy tak bisa terlalu memaksa kepada Rido, anak satu-satunya ini.

“Yah..,  terserahlah, yang penting nanti, Nisa bisa ikut menghadiri dan sekaligus mendampingimu di acara wisudamu. Itu yang paling ibu inginkan, supaya semua orang tahu, bahwa ibu mempunyai calon menantu yang cantik sekali…hehehe, iya kan Do.., pasti ibu akan bangga dan senang sekali…dan semua orang akan melihat Nyonya Tedy yang bahagia..karena mempunyai menantu yang cantik…”

 

Rido tidak menanggapi kata-kata ibunya.

Bahkan ia mengalihkan pembicaraan.

“Bu, ibu tahu mana buku yang kemarin aku taruh di rak lemari ini?” tanya Rido

“Buku yang mana toh Do, ibu tak melihatnya. Mungkin Bibik yang tahu, tanyakan aja, mungkin ia menyimpannya di lemari yang lain.” Jawab Bu Tedy.

“Bik, Bibik…! “ teriak Bu Tedy memanggil pembantunya.

“Nyonya ?!, Bibik lagi ke pasar, ada apa gerangan nyonya ?” tanya pembantu lain yang lebih muda.

“Kamu tahu bukunya Mas Rido ?, katanya kemarin ditaruh di dekat rak buku situ.

“Saya tidak tahu nyonya ?!” jawab pembantunya.

“Ya udah, sana, sana,… kerja lagi di dapur. Nanti kamu tanyakan ke Bibik ya?!”

“Baik nyonya..” jawab pembantunya.

Karena tidak ada kepastian tempat buku yang dimaksud, maka Rido mencari-cari lagi sambil terburu-buru, sebab buku tersebut, lusa harus ia bawa ke Jakarta untuk mengerjakan tugas dari dosennya.

 

Ketika Rido mencari-cari di tempat deretan rak buku eksklusif yang ada di ruang keluarga, tanpa sengaja tangan Rido meraih deretan buku-buku ayahnya, yang memang diletakkan berderet-deret untuk aksesoris lemarinya. Tiba-tiba ada beberapa buku yang terjatuh ke permukaan meja kerja ayahnya, yang memang tempatnya lebih rendah dari lemari buku tersebut.

Dari beberapa buku yang berjatuhan tersebut ada sebuah buku yang kebetulan terjatuh secara terbuka di atas meja kerja ayahnya. Diambilnya buku tersebut, ternyata adalah kitab suci al-Qur’an beserta terjemahannya. Dan secara ‘kebetulan’ juga, buku tersebut terbuka di halaman tertentu. Rido bingung melihat tulisan atau huruf-huruf al-Qur’an di mana ia tidak mengerti sama sekali apa bacaan dan arti tulisan itu.Tetapi seperti ada yang menuntun saja, pandangan mata Rido tiba-tiba memperhatikan tulisan latin yang ada di sebelah huruf al-Qur’an tersebut.

Seperti ada yang menyuruhnya,  Rido mengambil buku itu, dan membaca beberapa kalimat terjemahan di halaman yang sedang terbuka itu.

Rido terhenyak, membaca kalimat-kalimat awal yang ada di halaman buku yang sedang terbuka itu. Rupanya Rido cukup tertarik membacanya, maka ia menarik kursi yang kebetulan tidak jauh dari dirinya. Rido duduk di kursi sambil terus membaca beberapa kalimat berikutnya. Begitu tertariknya Rido sampai ia lupa kepada buku yang sedang dicarinya.

 

Hai orang-orang yang beriman, BERTAKWALAH kepada Allah

dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya

untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang LUPA kepada Allah,

lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.

Mereka itulah orang-orang yang fasik.

 

Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; PENGHUNI-PENGHUNI SURGA itulah orang-orang yang BERUNTUNG.

 

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah GUNUNG,

pasti kamu akan melihatnya TUNDUK TERPECAH BELAH disebabkan TAKUT kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia

SUPAYA mereka BERFIKIR.

 

Dia-lah Allah Yang TIADA TUHAN (yang berhak disembah) SELAIN DIA,

Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata,

Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia,

Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.

 

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.

Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.

Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Al-Hasyr : 18 – 24)

 

Rido terkesima membaca terjemahan al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 sampai dengan 24 yang berada di halaman buku yang sedang terbuka itu.

Begitu indahnya, begitu dalamnya arti yang terkandung di setiap kalimat dan kata. Bahkan begitu dahsyatnya. Rido sejak kecil tidak pernah membaca terjemahan al-Qur’an. Juga tidak pernah mengaji sama sekali. Betul-betul ia kagum. Maka tanpa terasa ia pun teringat akan Nisa. Ah, aku pingin sekali belajar kepada Dik Nisa. Ia pasti pandai mengartikan kalimat-kalimat itu. Pikir Rido.

“Mengapa aku baru sekarang ini, melihat ayat al-Qur’an? Bahkan secara tidak sengaja?” mengapa tidak sedari kecil dulu? Padahal banyak al-Qur’an di lemari ayahnya. Tetapi ayahnya tidak pernah membukanya, apalagi membacanya. Beberapa Al-Qur’an itu oleh ayah dan ibunya sekadar dipakai aksesoris lemarinya. Ah, sungguh sayang sekali. Mutiara-mutiara itu tak pernah disentuh olehnya, juga oleh ayah dan ibunya.

Pasti tak terhingga jumlah mutiara yang terkandung di dalamnya. Pikir Rido. Di halaman buku yang sedang terbuka itu terdapat rangkaian kalimat yang menyatakan bahwa Allah memberi perumpamaan yang luar biasa indahnya, bahwa gunung bisa pecah berantakan apabila di atasnya diletakkan al-Qur’an. Bahkan kata al-Qur’an itu, apa saja yang ada di langit dan di bumi ini, semuanya bertasbih kepada Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak di sembah oleh seluruh mahluk yang ada di alam semesta ini.

Menurut ayat al-Qur’an itu, yang dimaksud dengan Tuhan yang berhak disembah itu, Dia adalah Sang Raja :

  • Yang Maha Suci,
  • Yang Maha Sejahtera,
  • Yang Mengaruniakan Keamanan,
  • Yang Maha Memelihara,
  • Yang Maha Kuasa,
  • Yang Maha Menciptakan,
  • Yang Maha Mengadakan,
  • Yang Maha Membentuk rupa,
  • Yang Memiliki segala keagungan,
  • Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.
  • Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
  • dan … Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang….

 

Hampir menangis Rido membaca terjemahan yang luar biasa indahnya itu. Rido merasa ia mendapat surat dari Tuhan. Dadanya terasa sesak, karena ia merasa bersalah. Sebab sampai dengan usia ini ia baru mengetahui kalau isi al-Qur’an dahsyatnya seperti itu. Rido adalah seorang yang suka berfikir, seorang yang haus akan pengetahuan, maka sekali saja melihat ayat al-Qur’an yang kebetulan surat al-Hasyr itu, begitu tertariknya ia. Sungguh ingin sekali Rido mengetahui lebih jauh tentang isi al-Qur’an.

Dan orang yang paling tepat untuk dimintai penjelasan tentang itu, tentu adalah Nisa, yang setiap hari mengajar mengaji di masjid dekat rumahnya itu.

Menurut Rido, Nisa bukan sekedar bisa mengaji dan melagukan huruf al-Qur’an saja. Tetapi lebih dari itu. Nisa mempunyai perilaku yang menawan terhadap semua orang. Seluruh warga kampung di mana mereka berada, sudah mengerti bagaimana pribadi Nisa yang sabar, telaten dalam mengajar, ramah dengan setiap orang, dan selalu bersikap sopan serta mengghormati kepada orang yang lebih tua….Sungguh sebuah pribadi yang luar biasa cantiknya, secantik orangnya.

Mungkin inilah yang membuat banyak orang menaruh rasa segan, kagum, tetapi juga sayang terhadap gadis itu. Pikir Rido yang tenggelam dalam lamunannya.

Maka Rido sebelum kembali ke Jakarta, ingin sekali ia bertemu dengan Nisa untuk meminta penjelasan isi ayat-ayat al-Qur’an yang sangat indah itu.

“Besok aku harus bertemu dengan Dik Nisa” katanya dalam hati. Bukan untuk sekedar berkenalan seperti kemarin, tetapi ingin sekali Rido memperoleh informasi tentang isi al-Qur’an yang mempesona itu…

————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 14)

BULIR-BULIR KASIH (13)