Pagi itu udara Surabaya sangat cerah. Awan tipis, bergerak perlahan, bersama dengan semilirnya angin pagi yang hangat dan sangat menyejukkan. Matahari saat itu sangat bersahabat, cahayanya tiada terik seperti biasanya, tetapi sekadar menghangatkan bumi tempat di mana Nisa tinggal bersama Bibinya. Seisi kampung di mana Nisa tinggal, semuanya menyambut pagi ini dengan hati senang dan riang. Tampak lalu lalang, para orang tua dan para pemuda berlari-lari kecil dengan pakaian olah raganya. Demikian juga terdapat beberapa ibu rumah tangga berjalan kaki kian-kemari dengan gerak rilaks, melemaskan otot kakinya..Semua tampak ceria pagi itu.
Tetapi di rumah sederhana itu, ada sosok manusia sebagai hamba Allah yang lagi sedih, dan sedang bingung memikirkan sesuatu yang akan dihadapi. Dia adalah Nisa. remaja guru ngaji, yang pagi itu harus menemui putra Bu Tedy, namanya Rido ! seorang yang belum dikenalnya sama sekali, tetapi sang Bibi menyuruhnya untuk berkenalan dan menemuinya.
“Bagaimana aku harus menemuinya nanti?”
“Apa kata pertama yang harus ku ucapkan?”
Nisa melamun tak tentu arahnya, ia betul-betul takut dan gelisah.

“Assalamu’alaikum…”
Terdengar suara orang dari luar rumah yang mengucapkan salam dengan lafal yang tidak begitu fasih. Nisa tersentak dari lamunannya. Ia seperti dikejutkan oleh suara menggelegar yang sangat keras. Maklum sejak pagi hatinya sudah tegang akan kedatangan Rido yang memang disuruh oleh ibunya untuk berkenalan dengannya.
“Wa ‘alaikum salaam…” Jawab Nisa pendek.
Ia tetap berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak tak karuan. Antara takut, jengkel, dan kesal menjadi satu dalam dada Nisa.
Dengan hati dag dig dug tak karuan, Nisa membuka pintu rumahnya….dan di depan pintu rumah, dekat sekali dengan diri Nisa, berdiri seorang pemuda tinggi besar dan berkacamata. Sambil melepas kacamatanya ia menyapa.
“Apakah saya berhadapan dengan Dik Nisa?” katanya.
“Iya, saya Nisa. Siapa anda?” Tanya Nisa.
“Saya Rido, jawabnya pendek. Boleh saya masuk?” Tanya-nya lagi.
“Eem.., silahkan, “ jawab Nisa dengan nada agak ragu.

Dengan perasaan yang serba canggung, Nisa mempersilahkan tamunya untuk duduk di salah satu kursi rotan yang ada di ruang tamunya. Lalu Nisa pun duduk pula dengan memilih tempat duduk yang agak jauh dari Rido. Ia duduk di dekat pintu masuk kamarnya. Tak tahu, apa yang harus diomongkan Nisa. Maka ia lebih memilih diam saja.
Akhirnya Rido yang membuka omongan lebih dahulu.
“Maaf, Dik Nisa, kalau saya mengganggu waktu Dik Nisa. Saya datang ini sekadar ingin berkenalan saja. Saya sudah lama tidak pulang kampung, tidak tahu perkembangan yang ada di kampung kita ini. Maklum banyak tugas-tugas yang harus saya selesaikan.” katanya.
“…sehingga kalaupun pulang saya hanya sekitar dua hari saja, setelah itu, saya kembali ke jakarta. lagi.” sambung Rido.
“Oh, iya, Dik Nisa katanya mengajar mengaji anak-anak di masjid sebelah ini? Wah, tentu Dik Nisa pintar mengaji dong?!”
“…terus terang, saya tidak bisa mengaji Dik, saya sempat sedikit protes ke orangtua saya, mengapa ketika kecil dahulu saya tidak diajari ngaji, wah, sekarang jadi agak nyesal deh, hehehe… Tetapi ya nggak apa-lah, kan yang penting kita hidup ini harus berbuat baik kepada orang lain toh, itu saja saya rasa kan sudah cukup ya? iya kan Dik..?!”

Nisa tidak tahu harus menjawab bagaimana, dengan beberapa kalimat yang terus disambungnya itu. Hanya saja, ia agak lega hatinya, karena ternyata Rido si anak Bu Tedy ini nampaknya perilaku dan tutur katanya tidak seburuk seperti apa yang ia bayangkan.
Ketika ia mendengar pembicaraan Bu Tedy dengan bibinya kemarin, ia sudah membayangkan bahwa anaknya pasti sombong, angkuh dan kasar. Tetapi ternyata dugaannya salah. Rido tidak sekasar itu. Hanya saja Rido ini mempunyai satu prinsip yang menurutnya tidak benar. Rido berpendirian bahwa kalau seseorang sudah berbuat baik dengan orang lain, berarti hidup ini sudah sukses, dan tugas sebagai manusia sudah cukup. Tidak perlu mengaji, tidak perlu beragama, tidak perlu berdo’a,…Wah, betul-betul Rido ini buta sama sekali tentang agama. Mungkin dalam hidupnya ia belum terkena masalah. Pikir Nisa.

Tetapi tidak mungkin Nisa akan berdiskusi tentang hal tersebut. Sebab ia baru saja berkenalan. Tidak etis rasanya jika tiba-tiba harus berbicara tentang filsafat hidup. Maka Nisa hanya menjawab sekenanya saja.
“Eem.., Mas Rido, di Jakarta, sekolah di mana…?!”
Tanya Nisa mulai membuka kata. Karena ia tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Dan dengan spontan ia juga terpaksa memanggil Mas, karena orangnya lebih tua dari dirinya.
Rido balas bertanya:” Dik Nisa pernah ke Jakarta?”
“Belum “ jawab Nisa singkat.
“Saya kuliah di jurusan Ekonomi, di sebuah Universitas swasta yang cukup besar di Jakarta Dik..” lanjut Rido.
“Harapan orang tuaku, nantinya aku bisa menggantikan usahanya, karena aku sebagai anak satu-satunya Dik. Karena itu aku harus belajar sebaik mungkin, untuk memenuhi keingingan orangtuaku, itu lho, terutama ayah. Beliau sangat berkeinginan sekali, nanti kalau beliau sudah tua, aku-lah yang harus memegang dan mengendalikan perusahaannya.” Sambung Rido mencoba dengan bahasa yang lebih akrab.
Ah, bagus juga, pikiran Rido ini. Rupanya ia tidak sama dengan ibunya. Pikir Nisa. Ibunya begitu angkuh, sombong, mau menangnya sendiri, tidak melihat keperluan orang lain, betul-betul egois. Sementara orang ini sungguh berbeda. Cara bicaranya, pilihan katanya, jauh lebih baik dari pada Bu Tedy.
Maka diam-diam Nisa menaruh simpati dan rasa hormat kepada Rido, tetapi sebatas sebagai teman yang lebih muda kepada yang lebih tua. Dan ada semacam rasa kasihan di hati Nisa kepada Rido, karena sudah menginjak se usia ini, orang ini tidak tahu sama sekali tentang kepentingan dan kebutuhan manusia dalam beragama.

Tidak terasa mereka terlibat dalam pembicaraan yang cukup akrab. Bahkan Rido sempat bercerita yang lucu-lucu di seputar pengalamannya di jakarta. Maka Nisa-pun tidak terasa menjadi terhibur juga. Apalagi Rido bercerita dengan gaya bicara, dan kepolosannya yang kadang membuat Nisa terpingkal dalam tawa. Yang membuat Nisa ‘welcome’ terhadap Rido adalah bahwa sampai sejauh pembicaraan itu, terkesan oleh Nisa betul-betul Rido menganggap adik kepada nya, tidak ada sesuatu maksud yang lebih jauh dari itu. Sehingga Nisa tidak lagi canggung seperti sebelumnya. Dari pembicaraan itu, Ia bertambah memaklumi Rido, yang ternyata adalah anak tunggal, dan ia pingin sekali menyayangi seorang adik. Sementara dirinya adalah juga anak tunggal yang kini sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Sejak kecil, Nisa pingin sekali punya seorang kakak yang bisa melindunginya. Maka rupanya kini ia seperti mendapatkannya. Maka Nisa-pun menyambut pembicaraan demi pembicaraan dengan antusias.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepatnya, dan tiba-tiba terdengar suara adzan dhuhur dari masjid sebelah.
“Maaf Mas, sepertinya waktu dhuhur telah tiba. Saya dipanggil oleh Allah untuk melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslimah.” kata Nisa
“Oh iya Dik, saya minta maaf ya, kalau terlalu lama saya bertamu. Saya mohon pamit dulu ya….assalamu’alaikum…”
“Wa alaikum salaam,” jawab Nisa.
Lega rasa hati Nisa. Baru kali ini Nisa merasa punya seorang kakak, apalagi dapat diajak bicara dengan enak, cukup sopan, bahkan kadang-kadang juga lucu.
“Ah. Aku tadi terlalu buruk sangka, sampai aku betul-betul stres, ternyata Mas Rido orangnya baik-baik aja…” Pikir Nisa sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.

——————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 13)

BULIR-BULIR KASIH (12)