“Begini Nis, aku yakin sedikit banyak kamu sudah mendengar apa yang baru saja dibicarakan Bu Tedy tadi…”
“Bagaimana pendapatmu Nis? Bu Tedy itu ternyata baik hati lho, dan sangat kaya lagi…! kamu mau kan menerima pemberiannya tadi? kain yang dibawakan untukmu bagus sekali. Wah, sebentar lagi kita jadi kaya dong…bagaimana Nis?”
Nisa tak menjawab sedikitpun, bahkan ia menatap bibinya dengan tajam. Sampai bibinya mengalihkan pandangan dari mata Nisa.

Agak lama mereka terdiam. Suasana di kamar itu menjadi sunyi. Nisa akhirnya menghela nafas panjang, katanya:
“Bibi senang dengan pemberian Bu Tedy tadi?”
“Kalau Bibi senang dengan pemberian itu, itu adalah hak Bibi, tetapi maaf Bi, Nisa tidak bisa menerima pemberian itu…”
“Nis! Kamu jangan ngomong begitu ah! Bibi ingin kamu bisa hidup enak dan bahagia. Sungguh kurang pantas kalau kamu berkata seperti itu!”
Kata Bu Sadiq agak emosi.
“Apakah kamu nggak tahu bahwa Bu Tedy adalah orang yang paling dihormati di kampung kita ini? Sungguh sangat beruntung kamu, jika sampai Bu Tedy menginginkanmu untuk anaknya. Kenapa kamu malah menghindarinya?”
Sambung Bu Tedy tambah berang.
“…Bi maaf Bi, Nisa tidak kenal siapa itu Bu Tedy, Nisa juga tidak kenal siapa itu anaknya yang katanya di Jakarta, terus tiba-tiba kita menerima pemberian yang sangat banyak dan nilainya sangat mahal itu?“ sambung Nisa dengan mata mulai berkaca-kaca.
”Tidak, Bi, aku tidak mau menerimanya…”
Melihat Nisa mulai berkaca-kaca, Bu Sadiq agak sadar akan kekasarannya. Ia selalu diberi nasehat oleh suaminya, memelihara anak yatim harus sabar dan hati-hati. Apalagi Nisa adalah anak yatim piatu, maka ia harus dikasihi dan disayangi, jangan sampai tersakiti hatinya.
Begitu ingat akan pesan suaminya, maka Bu Sadiqpun mulai melunak. Apalagi mereka memang tidak punya anak, Nisa inilah sebagai anak mereka satu-satunya.
“Yah, sudahlah Nis,…mungkin kamu masih terkejut, dengan peristiwa ini, Bibi sih, berharap kamu mau menerima pemberian itu, dan paling tidak kamu mau berkenalan sajalah dengan si Rido anak Bu Tedy Itu. Kan nggak ada salahnya sekedar berkenalan…” kata Bibinya dengan cukup hati-hati agar Nisa tidak tersinggung lagi.
Nisa hanya bisa tertunduk saja mendengar jawaban Bibinya. Nisa adalah tipe gadis yang selalu menghormati siapa saja. Apalagi terhadap bibinya yang telah memeliharanya selama enam tahun sejak kedua orang tuanya meninggal. Tidak mungkin Nisa menyakiti hati Bibinya. Tetapi tentu tidak mungkin pula ia menuruti pikiran bibinya yang ternyata agak materialistis itu. Sungguh, baru kali ini ia mengetahui kalau Bibinya seperti itu.

Satu hari rasanya begitu cepatnya bagi Nisa. Ia ingin sekali bahwa hari itu tidak cepat berganti, Ia tidak ingin malam ini cepat-cepat berganti dengan pagi. Sebab Bu Tedy telah berjanji akan menyuruh anaknya yang namanya Rido itu untuk datang ke rumah Nisa besok pagi. Ingin sekali rasanya Nisa pergi ke luar kota untuk menghindari Rido. Tetapi tentu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Pikir Nisa.
Tiba-tiba pikiran Nisa melayang, dan berandai-andai…
Andai saja yang datang dan yang mengajak berkenalan besok pagi adalah Abdi yang pada waktu ada acara di rumah Syntya itu ia sempat bertatap pandang…Ah, rasanya dengan senang hati Nisa akan menyambutnya.
Atau Bagus,…!
Tiba-tiba Nisa ingat akan Bagus. Sebuah nama yang sudah lama terlupakan. Ia adalah seorang teman lama yang baik hati dan selalu memperhatikan dirinya. Ketika Nisa susah, ia selalu menghiburnya. Ketika Nisa ada masalah, ia selalu berusaha memberikan jalan keluarnya meskipun sebatas kemampuannya. Saat itu keduanya masih kecil. Selisih umur mereka sekitar satu tahunan. Bagus lebih tua darinya. Ah, kenapa aku tiba-tiba ingat Bagus? Pikirnya.

Pikiran Nisa melayang jauh ke belakang…saat-saat indah yang pernah dilaluinya bersama kedua orangtuanya. Rasanya baru saja ia bersama dengan orang tuanya. ketika Nisa diajari mengaji oleh ibunya, ketika Nisa diantar sekolah oleh ayahnya. Kedua orangtuanya yang sangat menyayanginya, mereka meninggal dalam waktu yang tidak berbeda jauh. Ibunya meninggal di saat ia kelas lima SD, sementara ayahnya meninggal enam bulan kemudian. Ibunya meninggal dikarenakan sakit, sementara ayahnya meninggal mendadak setelah melakukan shalat Isya’. Tidak terasa ada setitik air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata Nisa…” Ibu…, Ayah….ya Allaah…”
Demikian bisikan suara hati Nisa yang saat itu terlontar keluar dari bibir mungilnya. Nisa mengangkat tangan kanannya. ia berusaha menghapus setitik air yang ada di sudut matanya…
Ah, biarlah, semua sudah berlalu, memang Allah sudah menghendaki demikian…pikir Nisa. Insya Allah semua ada hikmahnya.
Nisa mencoba berfikir positif berkenaan dengan permasalahan yang dihadapinya. Namun tetap saja Nisa sedih.

Tiba-tiba Nisa teringat akan sebuah ayat al-Qur’an surat Ar-Ra’d : 28, yang kebetulan dihafalnya. Maka Nisa membacanya dengan sepenuh hati. Dengan sepenuh jiwanya, dengan sepenuh kekhusyu’annya. Nisa dengan perlahan melantunkan sebuah ayat al-Qur’an, yang diiringi beberapa tetes air mata yang tak kuasa ditahannya.

“Alladziinaa aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bidzikrillaah, alaa bi dzikrillaahi tathma in-nul quluub.”
(yaitu) orang-orang yang beriman, dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

“Ya Allah, tenangkanlah hatiku…”Kata Nisa perlahan.
“Baiklah, kata Nisa dengan hati mantap, aku akan menghadapi Rido besok pagi kalau dia datang. Ya Allaah, berilah aku petunjukMu..” Kembali Nisa merintih dalam permohonannya…
——————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 12)

BULIR-BULIR KASIH (11)