‘OLEH-OLEH DARI JAKARTA’
Nisa duduk melamun di jok mobil paling belakang. Mobil jenis kijang warna biru metalik itu meluncur cepat meninggalkan rumah Syntya menuju kota Surabaya di mana Nisa tinggal bersama pamannya. Mobil itu adalah mobil sewaan, yang didapatkan paman Nisa dari temannya. Karena paman Nisa tidak punya mobil sendiri. Maklum memang penghasilan paman Nisa hanya cukup dipakai untuk makan sehari-hari bersama istrinya dan Nisa sebagai keponakannya.
Dengan cekatan pak sopir membawa mobil tersebut meluncur cepat meninggalkan kota Malang menuju Surabaya.

Nisa yang duduk di sudut belakang mobil tersebut, belum bisa melupakan wajah Abdi, teman Syntya tadi. Tatapan yang tidak sengaja ketika ia berdiri di atas mimbar dengan pandangan rasa kagum dari mata Abdi, masih terus terbayang di benak Nisa. Juga tatapan ketika mereka berkenalan sesaat itu, masih terbayang oleh Nisa. “…ah biarlah ! ada-ada saja aku ini.” katanya dalam hati. Tetapi pikiran Nisa tetap saja tidak bisa melupakan Abdi. Dipejamkannya matanya untuk tidur dan istirahat, tetapi tetap saja yang terbayang masih wajah itu.

Kurang lebih dua jam perjalanan, sampailah Nisa dan keluarganya di kediaman mereka. Sebuah rumah sederhana yang berjarak sekitar lima puluh meter dari sebuah masjid yang cukup besar. Di masjid inilah Nisa menghabiskan hari-harinya untuk memberi pelajaran mengaji kepada anak-anak penduduk sekitar, setiap sore sehabis shalat ashar.

Pak Sadiq, adalah paman Nisa, yang mengajak Nisa menetap di Surabaya semenjak kedua orang tua Nisa meninggal sekitar enam tahun yang lalu. Pak Sadiq dan istrinya sudah sekitar dua belas tahun berumah tangga, tetapi belum juga dikaruniai anak, sehingga dengan senang hati mereka mengajak Nisa untuk tinggal di rumahnya. Asalnya kondisi ekonomi pak Sadiq dapat dikatakan lebih dari cukup, karena penghasilannya hanya untuk mereka berdua saja.
Tetapi dengan adanya Nisa menetap di rumahnya, di mana mereka juga menyekolahkan Nisa mulai dari tingkat SMP sampai dengan SMA, maka kehidupan ekonominya tidak bisa meningkat, atau sekadar cukup untuk keperluan sehari-hari mereka bertiga saja.
Tetapi hal itu tidak terlalu merisaukan pak Sadiq, sebab dengan kehadiran Nisa di rumahnya, membuat suasana rumah menjadi lebih hidup dan lebih ceria.
Sudah enam tahun Nisa tinggal bersama paman dan bibinya, selama enam tahun itu pula ia mengajar mengaji di masjid dekat rumahnya.
Karena kecantikan wajahnya, perilaku sopan santunnya, serta kesederhanaannya dalam penampilan, membuat banyak orang menjadi simpati kepadanya, maka tak jarang orang-orang sekitar masjid yang menginginkan Nisa. Tidak saja remajanya, bahkan para orang tua yang mempunyai anak lelaki yang sudah cukup umur, ingin sekali mengambil Nisa sebagai menantunya, meskipun itu hanya keinginan sebatas angan saja.
Tidak terkecuali, pak Tedy dan istrinya. Seorang yang cukup terpandang di kampungnya, mereka ingin sekali menjodohkan putranya yang sedang kuliah di Jakarta dengan Nisa.
Dengan mengandalkan harta kekayaannya, mereka optimis akan bisa mengambil Nisa sebagai menantunya. Maka Bu Tedy dengan segala upayanya berusaha mendekati istri pak Sadiq, agar maksudnya bisa terlaksana.

Pagi itu, seperti biasa Nisa pergi ke pasar untuk sekadar membeli keperluan dapur. Karena kebetulan bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk hari itu rupanya sudah habis. Sejak ia mengajar mengaji, Nisa punya pegangan uang sendiri untuk kesehariannya meskipun tidak banyak. Maka pagi itu ia punya inisiatif untuk membeli bahan makanan yang lagi habis. Sepulang dari pasar yang tidak terlalu jauh tempatnya dari rumah, Nisa agak terheran karena ada mobil sedan warna hitam yang tidak begitu dikenalnya parkir di depan rumahnya.
Setelah Nisa sampai di depan pintu, baru ia mengetahui bahwa tamunya tersebut adalah Bu Tedy.
Bu Tedy adalah tetangga kampung seberang, sebagai keluarga kaya yang cukup dikenal di daerah ini. Cukup heran Nisa dengan kehadiran bu Teddy. Sebab selama ini Nisa tidak pernah melihat pamannya atau pun Bibinya pernah berhubungan dengan keluarga Pak Tedy ini.

“Assalaamu’alaikum…”
Nisa memberi salam sambil masuk ke dalam rumah. Maklum rumah pamannya tersebut tak ada pintu belakang yang bisa dipakai untuk jalan alternatif, sehingga keluar masuk rumah hanya lewat satu pintu depan itu saja.
“Wa ‘alaikum salaam…”
Jawab orang-orang yang ada di dalam rumah menyahuti salam Nisa. Ternyata di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu yang tidak begitu luas itu, sudah duduk Bu Tedy dan Bibinya. Sebab paman Nisa sudah dua hari ini tidak pulang, ia keluar kota karena ada suatu urusan pekerjaan.
“…eh, Nak Nisa. Dari mana Nak,?!”
Tanya Bu Tedy dengan intonasi yang agak dibuat-buat agar tampak akrab dengan Nisa.
“Oh, iya Bu, saya dari pasar dekat sini aja, sekadar membeli sesuatu untuk keperluan dapur,..” jawab Nisa. “Maaf Bu Tedy saya ke dapur dulu, ada sesuatu yang harus saya selesaikan.” sambung Nisa sambil terus menuju dapur untuk melakukan tugasnya di dapur seperti biasanya. Ia tidak lagi menghiraukan apa yang dibicarakan Bu Tedy dengan Bibinya di ruang tamu itu. Tetapi karena jarak ruang tamu dengan dapur cukup dekat, maka beberapa pembicaraan mereka sempat terdengar Nisa, walaupun Nisa berusaha untuk tidak mendengarkannya.

“Bu Sadiq, saya datang ke sini mungkin agak mengejutkan hati ibu, saya gak ada maksud apa-apa kok, hanya saja ingin berkenalan lebih akrab dengan keluarga Pak Sadiq. Kan selama ini kita memang belum pernah berkenalan secara dekat. Iya toh Bu…?”
Bu Tedy memulai membuka omongan kepada Bu Sadiq, untuk mengawali maksud kedatangannya.
“Oh, iya, ya, Bu Tedy… Terima kasih atas kunjungan ibu ke gubuk saya ini..” sahut Bu Sadiq agak gugup. Seorang kaya dan terpandang seperti Bu Tedy mau ke rumahnya?, tentu ada suatu hal yang penting. Rasanya tidak mungkin ia datang hanya sekadar berkenalan begitu saja. Pikir Bu Sadiq.

“..Ini lho Bu Sadiq, anak saya baru datang dari Jakarta. Kebetulan ia sedang liburan semester. Itu…., anak saya si Rido ! Dia kan sudah semester tujuh, kemarin ia datang membawa banyak oleh-oleh dari Jakarta, saya pingin memberikan oleh-olehnya Rido untuk Bu Sadiq. Ini ada kain batik sutra yang cukup mahal, terus ini ada tas yang sangat bagus, cocok buat Bu Sadiq. Tas ini dibeli Rido dari Singapore ketika ia dan teman-temannya ke sana beberapa waktu lalu. Pasti Bu Sadiq senang kan !? Wah, bagus-bagus semua lho Bu…” “…terus ini sekedar makanan-makanan ringan khas dari Jakarta…” kata Bu Tedy sambil terus mengeluarkan barang-barang yang dimaksud dari dalam tasnya.

“Nah, dan yang ini tentu bagus dan sangat cocok buat baju muslimah Nak Nisa. Pasti Nak Nisa akan senang… Kan kasihan toh Bu, dia kalau setiap hari baju yang dipakai untuk mengajar mengaji itu-itu saja…, iya kan Bu?!” Sambung Bu Tedy, yang terus berbicara sambil mengeluarkan sebuah kain bakal baju, berwarna merah yang masih berlebel harga, harganya sekitar sepuluh kali lipat dari harga baju yang biasa dipakai Nisa.
Bu Sadiq, hanya bengong aja, tanpa bisa berkata apa-apa…

——————————————— bersambung (Bulir-Bulir Kasih 10)

BULIR-BULIR KASIH (9)